Mahakarya Sang Maestro

Desi Rinsari RA

http://blog.harian-aceh.com/

Buku ini membahasa tari Aceh sampai ke akar-akarnya. Tidak hanya memberi pengetahuan tari secara praktis, tetapi juga mengulik secara dalam penciptaan tari tersebut, siapa pencipta koreografinya, dari mana ide penciptaannya, apa makna dari setiap gerakannya sampai pakaian.

Tari yang telah mengakar di Aceh tersebut ditata rapi Yuslizar, sang maestro pencipta tari ranub lampuan. Dalam proses penciptaannya oleh Yuslizar, Murtala telah mengumpulkan mozaik-mozaik yang terpenggal-penggal menjadi sejarah baru penciptaan beberapa tarian Aceh. Sesuatu yang tak sudah pernah dibahas dalam buku-buku sejarah dan budaya Aceh sebelumnya.

Tarian ranup lampuan terus dipraktekkan dari generasi ke generasi. Namun dibalik semua itu, hampir tidak ada yang tahu bahwa tarian tersebut diciptakan oleh Yuslizar, seorang lelaki yang telah mengabdikan dirinya untuk kesenian Aceh.

Dengan bukunya yang berjudul Tari Aceh, Murtala telah membuka tabir tarian ranub lampuan dan proses penciptaannya. Selama ini masayarakat Aceh, penari, bahkan pelatih tari mungkin sama sekali tak mengetahui apa saja makna yang terkandung dalam gerakan tari tersebut sehingga dengan mudah mengubah beberapa gerakan di dalamnya sehingga keluar dari makna yang sebenarnya.

Membaca buku tari Aceh ini, anda akan diajak menyelam ke dalam kehidupan Yuslizar dan mengiringinya mencari gerakan-gerakan tari ranub lampuan dan tari lainnya dengan mendatangi orang tua-orang tua di pelosok desa. Ia meneliti dengan seksama bagaimana cara orang Aceh menikmati sirih, dari awal memetik sampai meramunya menjadi sirih yang dapat di santap dan disajikan untuk tamu beserta cara penyajiannya. Semua proses tersebut dari awal sampai akhir disulap menjadi sebuah gerakan yang komplit dalam tarian ranup lampuan.

Buku tersebut bukan hanya memaparkan sejarah tentang tarian namun juga menampilkan posisi-posisi tarian sebagaimana diajarkan Yuslizar sebagai penciptanya. Setiap gerakan digambarkan dengan formasi sederhana berupa titik-titik besar, penggambaran formasi tersebut berhubungan erat dengan maknanya. Jadi dapat disimpulkan Yuslizar telah memikirkan dengan seksama arti dari setiap formasi, bukan hanya untuk estetika tapi juga memikirkan etika.

Yuslizar meramu koreagrafi tersebut dengan tidak mengenyampingkan nilai budaya Aceh. Untuk mendapatkan setiap gerakan itu, Yuslizar banyak mempelajari sejarah Aceh, adat dan budayanya sehingga tarian ranup lampuan memiliki simbol yang kuat. Dengan membaca buku karangan Murtala ini, para pelaku tari dapat menyadari bahwa setiap gerakan memiliki arti yang memang telah dibuat sedemikian rupa oleh penciptanya sehingga siapapun tak boleh mengubah setiap gerakan tersebut karena akan membuat tarian yang diciptakan dengan mendalami sejarah itu berubah maknanya.

Selain ranub lampuan, Murtala juga memaparkan beberapa jenis tarian Yuslizar lain beserta makna yang terkandung di dalamnya. Dengan mengetahui makna dan hubungannya dengan sejarah dan budauya aceh, penikmat tari akan merasakan tarian-tarian tersebut sebagai potret yang hidup yang menggambarkan sikap dan karakter orang Aceh, bukan hanya sekedar gerakan-gerakan ekspresif yang menghibur.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca oleh siapa saja, bukan hanya pelaku seni tetapi juga masyarakat biasa. Isi buku ini akan mampu memberi kejutan kepada kita tentang sesuatu yang sangat tertutup selama ini. Setidaknya buku tari ini akan memberi pemahaman yang dalam untuk kita tentang sebuah gerakan dan koreagrafi tarian Aceh yang beraneka ragam dan d