Puisi Peratap dari Timur

Thayeb Loh Angen
blog.harian-aceh.com

Lelaki yang Kalah

Layar hancur dicabik angin di antara gerakan tanda baca
Lautan meninggalkanku dalam kelelahan yang patah
Perahuku tamat, akulah lelak yang kalah

Ubud, 19 Oktober 2008

Itu satu judul puisi Dino Umahuk yang terdapat di halaman 113 buku yang terbagi dalam lima bab, yang berisi seratus sembilan judul puisi. Kebanyakan puisi dalam antologi ini tergolong pendek. Entah memang sebegitu panjang ingin ditulis, entah penulisnya tidak bisa menulis puisi panjang seperti beberapa puisi yang menjadi stile koran nasional Kompas.

Puisi yang disusun dalam buku tersebut adalah puisi yang sederhana. Mungkin penulisnya bukan ingin menulis puisi yang berhasil. Hanya sekedar menulis puisi saja. Sebagaimana judulnya, isi buku ini terkait erat dengan laut. Ini bisa dipahami, mengapa lelaki kelahiran Maluku ini terobsesi pada laut sehingga menjelma dalam banyak puisinya.

Dino Umahuk yang terlahir di Pulau kecil Capalulu, Maluku itu membuat perjalanannya antara pulau memang harus menyebrangi laut. Bahkan, berhari-hari di atas laut. Wajar saja jika ia menagisi dirinya, mengadu pada laut yang tuli. Laut yang tak berikan jawaban langsung. Hanya sesekali menelan kapal atau meludah sebisanya yang disebut tsunami oleh orang Negeri Sakura.

Pengagum laut, mungkin itu tepat disebut untuk dia. Namun, di sini kita hanya bicara puisi puisinya saja, bukan apa ia pernah melaut atau tidak. Mungkin amat sedikit ditemukan unsur filosofis dalam puisi-puisi ini. Entah penyairnya tidak suka hal beraroma falsafah. Namun, jika karya sastra tidak mengandung filosofis, ia bukan karya sastra sejati. Walau jika berlebihan akan tidak bisa dinikmati dengan nyaman.

Boleh disebut puisi dalam buku ini tergolong romantik, tepatnya penyair alam. Alam alamiah dan alami. Dino hanya melukiskan kegelisahannya, bahkan hampir tanpa pesan apa pun yang bermakna untuk dicerna batin yang amat haus pencerahan. Hanya keluh-kesah ratapan seorang perindu yang tidak tegar.

Sebuah puisinya yang tergolong berhasil bila dibandingkan dengan puisi lain dalam buku ini tak dapat dibandingkan dengan unkuran berhasil tidaknya sebuah puisi sastra sejati. Belum masanya bandingkan itu. Dino tidak menginginkannya. Ini dia puisi dia yang saya anggap berhasil.

Aku Tak Butuh Puisi untuk Makan *Kepada Seorang kawan //Ada setumpuk cerita tentang tentang perempuan yang menangis, karena puisi?/ Kau terlalu banyak menorehkan garis di lengkung alis//Sedang aku terbata-bata mengejar punggungmu yang terus menepis/ Juga anak kita, entah apa mimpi remajanya? Mungkin menangis// Kau terlalu banyak meretas jalan/ Menunggang angin seperti seperti layangan lupa pada tali/ Sedang aku tak butuh puisi ntuk makan siang/ Hanya sedikit cinta jika pula masih tersisa// Pulanglah ke rumah semula meski alisku tak selebat yang kau puja/ Kita sudah terlalu tua untuk menorehkan dusta/ Karena waktu semakin melancip ke tanah kuburan/ Kepada siapa kau ingin meninggalkan cerita?/ Kepada aku, anakmu atau debu yang merona di ujung senja//.

Itu dia puisinya yang mungkin ditulis dengan sepenuh hati. Sebuah penyesalan. Bahkan penyesalan untuk kegiatannya menulis puisi yang disiratkan tidak berguna, tidak bisa untuk makan, bukan juga untuk warisan karena anak dan isteri penyair tidak butuh. Lalu untuk apa puisi yang kutulis ini? Ratap penyair.

Kalimat dalam puisi-puisi di buku ini masih ada yang seharusnya dihilangkan. Pun ada beberapa kata depan yang letaknya bersalahan dengan EYD. Entah ini disengaja untuk efek tertentu, entah lupa. Buku ini diterbitkan di Aceh. Sebagian besar isinya pun ditulis di Aceh. Lalu, apakah penulisnya mencintai Aceh? Ternyata tidak. Dino merindukan tanah Maluku. Ia lebih serius saat menulis kerinduannya akan tempat lahir. Karena itu, ia lebih banyak memperkenalkan bahasa Maluku dalam puisi itu, sedangkan bahasa Aceh sama sekali tak ada. Mungkin saja, dia yang sudah lama “mengisi perut” di Aceh belum bisa berbahasa Aceh. Namun demikian, ada puisi dia yang bercerita tentang Aceh.

Di Banda Aceh Tuhan Memanggilmu Kembali //Di Banda Aceh apakah yang bisa ku kenangkan lagi/ Negeri dengan seribu kisah kepahlawanan/ Atau gadis bermata biru yang mengirimkan getar rindu/ Hingga mematahkan tiang kemudi agar aku tak boleh pergi//Di Banda Aceh pada tahun-tahun sebelum tsunami/ Kita pernah mengambar masa depan sebagai angan dan cita-cita/ Tetapi gelombang itu menelanmu tanpa kuburan dan batu nisan// Hanya duka cita yang menjadi karibku tanpa cincin tanda mata/ Di Banda Aceh apakah yang bisa kulakukan lagi/ Perempuan dengan seribu aroma seulanga yang mendamaikan telaga//Aku hanya bisa meraba kenangan di Plaza Jeumpa yang kini binasa/ Pasrah dalam gerimis airmata dengan wajah penuh sengsara// Di Banda Aceh betapa Tuhan memanggilmu, gadisku//

Ini satu dari beberapa puisinya tentang Aceh. Ditulis dengan kesan cengeng, karena ia akan meniggalkan Aceh. Ya, ia memang akan meninggalkan Kuta Radja karena telah habis kontrak kerjanya di Aceh. Kali ini, ia mendapat tugas di seberang pulai sana. Mungkin. Entah apa nilai Aceh bagi Dino selama meludah di negeri ini. Yang jelas, saat ia tulis puisi tentang laut timur sana dan Aceh dalam puisi-puisinya, ia punya perasaan berbeda. Aceh seolah menjadi tempat ia mencari dan mengarung ide, meskipun ia bercerita tentang kampuangnya. Maka, Acehlah yang telah membesarkan namanya sebagai seorang penyair hingga sampai ke Ubud, sebuah ajang bergengsi untuk sastrawan tingkat internasional. Ini yang menjadi penting mengamati Dino dan puisinya.

Ah, sudahlah, lupakan saja puisi-puisi tersebut. Biarkan malam berlalu dan datang seperti kemarin. Biarkan alunan ombak dan riak bagai musim lalu. Biarkan cinta dan rindu pautkan hatimu yang gundah. Bagaimanapun juga, kita ucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Selamat!

Judul: Lelaki yang Berjalan di Atas Laut
Penulis: Dino Umahuk
Tebal: 140 halaman
Penerbit: Lapena
Cetakan: 1 Februari 2009.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *