Menunggu Kentut Semar

Hujan Tarigan
http://oase.kompas.com/

Semar masih mesem-mesem. Dielusnya perut bundarnya yang kian besar. Seminggu dia menahan sakit sebab tak bisa kentut. Angin berputar-putar tak bisa keluar. Nyerinya menusuk saraf di otak. Tak heran sepekan ini perilakunya ganjil. Dia mau menceritakan penderitaannya itu kepada anak-anaknya. Namun dia malu dan tahu, bercerita pun, tetap tak ada solusi. Sebab anak-anaknya tengah sibuk merancang revolusi. Continue reading “Menunggu Kentut Semar”

Cangkir si Penyair

Eti Puji
http://oase.kompas.com/

Malam belum lagi larut ketika dia pulang dengan wajah kusut. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai terlihat masai. Setelah menutup pintu, perlahan dia berjalan ke arahku yang diam terpaku di sebalik tumpukan buku. Sampai di meja yang merapat ke jendela dia berhenti. Sempat kulihat dia menarik nafas dan mengembuskannya kuat-kuat, seakan berharap beban di pundaknya ikut terangkat. Dan kurasakan bau alkohol yang begitu menyengat. Hmm? sepertinya dia menenggak arak lagi malam ini. Lalu diletakkan tas butut kesayangannya di atas meja dan berlalu begitu saja. Berlalu begitu saja. Tak memperhatikanku. Mengabaikan keberadaanku. Continue reading “Cangkir si Penyair”

Tujuh Jumat

Maimun Saleh
http://oase.kompas.com/

JIKA bukan sebab pohon-pohon melintang, aku tak menghentikan langkah. Ini bukan musim hujan. Aku paham, bila petir tak menebas pohon, maka kematian sedang mengendap. Bukit Lawah, segera merah. Amis membumbung.

Kuakui rupaku pasi. Burung-burung itu, serentak pergi tergesa-gesa meninggalkan daun-daun hijau melayang menuju tanah. Itulah sebab kutarik ujung sawak, menutup wajah bungsu, agar ia tak melihat bulir air mataku melintas. Continue reading “Tujuh Jumat”

P u l a n g

Fannie A. Yulandari
http://oase.kompas.com/

Semilir angin menerpa wajahku begitu aku turun dari angkutan desa. Sejuk sekali. Lama tak kurasakan kesegaran seperti ini. Berbeda dibandingkan udara Jakarta yang pengap. Kulangkahkan kaki menuju rumah Eyang Kung yang masih terletak sekitar 1 km lagi dari pemberhentian angkutan. Sudah berapa tahun kutinggalkan tempat ini? Continue reading “P u l a n g”

Bahasa ยป