Tujuh Jumat

Maimun Saleh
http://oase.kompas.com/

JIKA bukan sebab pohon-pohon melintang, aku tak menghentikan langkah. Ini bukan musim hujan. Aku paham, bila petir tak menebas pohon, maka kematian sedang mengendap. Bukit Lawah, segera merah. Amis membumbung.

Kuakui rupaku pasi. Burung-burung itu, serentak pergi tergesa-gesa meninggalkan daun-daun hijau melayang menuju tanah. Itulah sebab kutarik ujung sawak, menutup wajah bungsu, agar ia tak melihat bulir air mataku melintas.

Rindu ini, terpaksa ku tanam lebih dalam. Jika bukan sebab pohon-pohon melintang, mungkin aku telah menemukannya. Mendengar syair-syair darinya, yang menurutnya, warisan tukang nujum dari Sawang. Bungsu mungkin juga telah lelap, bersama asam tubuh abu-nya yang didapat dari memangkul cangkul.

Jika bukan sebab pohon-pohon melintang, mungkin aku tak bertemu dengan sekelebat bayang putih. Kau tahu, aku bertemu sekelebat bayang putih setelah tujuh Jum?at kekasihku tak kembali.

Sebelum kuceritakan padamu kisah sekelebat bayang putih. Kuperkenalkan kekasihku padamu. Ia bukan hanya hafal syair-syair. Ia lelaki langka, pengingat 115 kisah langit. Soal kisah Sapi Betina, sebelum ujung kelaminnya putus digunting mantri, ia sudah khatam tak terbilang.

?Kata mantri Salman, aku anak baik. Kau tahu kenapa? Sebab, aku tak menangis saat dikhitan!? kisahnya padaku, di sudut surau jelang magrib tiba. Kala itu kami masih belia.

?Sebelum mantri Salman datang membawa gunting. Sambil menyelip ketan kuning di sela kuping. Ibuku berkata, pintu surga hanya terbuka untuk anak laki yang tidak memiliki kulit di ujung kelamin. Makanya, aku iklas. Aku ingin melihat surga dan tidur di tepi sungainya.?

Aku tersipu mendengar ceritanya. Tak menjawab. Tak bertanya. Aku heran, kenapa matanya biru. Teringatku, riwayat serdadu bermata biru yang diceritakan Abua Hamzah. Menurutnya, dulu, dulu sekali, manusia-manusia bermata biru turun dari kapal raya di Ulee Lheu.

?Mereka kafir. Membawa bedil dan api. Membakar Baiturrahman di kutaraja. Tak ada surga bagi kafir.? Begitulah katanya.

Ingat itu, jujur aku takut pada kekasihku. ?Jangan-jangan kekasihku kafir. Matanya biru. Ia tak bakal masuk surga, walau tak berkulit di ujung kelaminnya.?

Kekasihku bukan perayu perempuan, walau menghafal 115 kisah dari langit. Tujuh Jum?at ia tak kembali, aku ingkar janji tetap di rumah saat ia mengaiz rezeki.Mencarinya bukan berarti aku curiga kekasihku kawin lagi.

Aku hanya ingin memberi kabar duka padanya, dadaku yang katanya sempurna ini, telah berhenti mengirim susu untuk bungsu. Mungkin ia punya kisah untukku, agar perih dapat ku tahan dan bungsu bersabar sampai awal bulan, sampai abu-nya diberi pinjaman susu kotak di keude klep wak Limah.

Aku yakin bungsu, suka kisah-kisah yang diceritakan kekasihku. Buktinya, dua malam sebelum dia meninggalkan kami, bungsu memejamkan mata setelah mendengar cerita tentara gajah di Yaman. Padahal, waktu itu bungsu kesal kedua dadaku miskin susu. Malam itu berisik, dentuman-dentuman mengetarkan seisi kampung. Kami tak mendengar suara jangkrik, hanya suara Halimah meringis memohon pengampunan pada serdadu. Aku yakin serdadu, sebab suara yang membentak tetangga kami itu lantang.

?Kau ini pemberontak. Suamimu pemberontak. Kalian semua pemberontak. Kalian Aceh pungo!?

Saat itu pulalah, kekasihku komat-kamit membisikkan kisah tentara gajah pada bungsu.

?Abrahah lalim, membawa serdadu bergajah. Ia hendak menghancurkan kota suci. Kota kita juga suci, walau hanya Serambi. Burung-burung atas perintah-Nya, menyergap sebelum gubernur laknat dari Yaman itu masuk kota. Burung-burung mengirim hujan batu dari tanah terbakar. Maka tanpa kecuali, termasuk Abrahah, seperti daun dimakan ulat.?

Kisah itu memang ringkas. Tangis Halimah dan suaminya juga ringkas. Esoknya, kami membalut keduanya dengan kafan. Malam berikutnya, sekampung mengirim tahmid. Tapi malam kepergian Halimah dan suaminya, tak ada burung-burung yang menghantar hujan batu dari tanah terbakar untuk serdadu.

Aku bertanya pada kekasihku, apakah karena kota suci ini bernama Serambi, sehingga burung-burung kiriman-Nya tak datang? Atau karena serdadu itu tak bergajah?

?Tiup semprong. Atas kisah-kisah yang ku sampaikan, kau hanya pantas mendengar. Sudah jangan banyak tanya. Berdoalah agar kita tak melihat bayang putih malam ini,? pinta kekasihku. Ia tak biasanya begitu. Kekasihku dalam kalut.

?Bayang putih apa??
?Sudah?sudah?tiup semprongnya.?

Kekasihku memang menghafal 115 kisah, dari kisah sapi betina sampai manusia (raja manusia dan sembahan manusia). Tetapi ia tetap lelaki. Pemimpin di rumah. Walau sekedar cerita, kelak kau juga tahu, kita perempuan ini kadang kala tak boleh bertanya.

Bayang putih. Aku tak mampu menarik cirinya. Aku hanya tahu satu; bayang putih telah memisahkan aku dengan kekasihku. Mungkin juga denganmu, bungsuku.

***

BUNGSU, nama kekasihku Hafid. Gelarnya juga hafid. Ia sipenghafal kisah-kisah langit. Saat ini kuceritakan padamu, dimalam ketiga ia tak kembali, aku curiga bayang putih menculiknya. Tak mungkin yang lain. Dulu ia pernah tak kembali sepekan.

Namun di anak tangga ke tiga ini, aku melihatnya kembali. Ia membelah senja dengan tangan kanan mengengam lembar-lembar rupiah. Rupiah yang tak kami ganti beras, tapi kami beri pada mantri Salman agar ia memberi kami alat penjepit dadaku, agar susu menyembul keluar. Santap mewah untukmu bungsu. Lapar untuk kami. Jika kau besar kelak, jangan tanya kenapa di negeri Serambi kota suci ini, penghafal kisah-kisah langit kelaparan. Kau bisa dicemooh; tak beryukur.

Sudahlah. Lupakan saja nasehatku. Agar aku tak lupa dan kau tetap mengingkat. Inilah kisah kembalinya abu-mu. Ia kembali dari dari parit, sumber dentuman yang mengetarkan. Katanya, di sana amis. Di sana ramai orang meringis dan menangis. Ia diminta menceritakan kisah-kisah langit, agar mereka yang mengengam bedil tak takut pada timah-timah terbang. Ia yakin itu tak salah, lagi pula, kisah-kisah langit ini harus kusampaikan pada siapun. Kapanpun.

Kala itu, ia asal memilih kisah. Mulutnya seketika saja mengurai kisah ke-100, tentang kuda perang yang berlari kencang. Ia gemetar saat mengisahkanya. Dentuman-dentuman itu memaksanya hanya menceritakan sepotong.

?Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan kuku kakinya dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih pada Tuhannya,? ia ucapkan cepat-cepat.

Tapi bukan karena itu, salah seorang dari pendengar cerita menempel telapak di kiri dan kanan pipinya. ?Kau setan. Kami ini bukannya tidak berterimakasih pada Tuhan.? Ketusnya geram. Pipi abu-mu lembam.

Jika bukan sebab dituduh setan, mungkin abu-mu tak kembali. Orang-orang dalam parit takut setan. Mereka yakin setan itu kebal. Setan pendendam. Setan punya lidah panjang dari api. Usai berkisah ia disuruh kembali, setelah diberi lembar rupiah. ?Ambil rupiah ini beli beberapa pala untuk pipimu!? kata pendengar cerita.

Seperti kukatakan di awal, kami tak menukar rupiah itu dengan beras apalagi pala. Demi alat penjepit dadaku. Demi kau cinta kami.

***

JIKA bukan sebab pohon-pohon melintang, aku tak menghentikan langkah, di sini, di setapak yang penuh onak ini. Ini bukan musim hujan. Aku paham, bila petir tak menebas pohon, maka kematian sedang mengendap. Menghadap utara, ke arah payau yang di ujung selatannya menganga goa tujuanku.

?Kekasihmu, mungkin dibawa ke goa. Di sana tukang cerita telah menutup mata. Kaku di dinding. Sebelum dipaksa, bercerita siang malam tentang orang-orang di parit.? Itulah bekal kabar yang kuperoleh dari Asiah, janda beranak enam kampung tetangga. Ia mengaku, saat mengusir burung-burung yang mencuri padi-padinya di sawah, melihat kekasihku di tutup mata. Dia terpuruk di gerobak yang di tarik sapi.

Celaka. Empat hari lalu, kekasihku baru saja lolos dari parit; membawa lembar rupiah dan lembam di kiri kanan pipinya.

?Jika engkau maha mendengar dan pengasih. Mohon dengar doaku dan kasihani bungsuku, amanahmu ini. Bila engkau mendengar, kabulkan harapku; aku ingin bertemu dengannya, walau ia telah kaku.?Jika bukan karena pohon tumbang dihadapanku. Mungkin aku lupa menadah tangan ke langit.

Harap belum sepenuhnya kupanjatkan. Tapi tanah gemetar. Aku terhuyung. Tak ada rintik dari langit pertanda mukjizat menukik ke arahku. Aku bisa menduga timah-timah berterbangan dari kepak tergesa-gesa burung-burung meninggalkan dahan, membiarkan daun luruh menuju belukar.

Bunga api berkilauan dari bukit Lawah. Sederet timah terbang serempak ke utara, ke arah payau yang di ujung selatannya menganga goa tujuanku. Satu diantara timah bersayap, hinggap ke dadaku. Nyaris menyentuh keningmu, bungsuku. Kau masih dalam dekapku.

Tiada kuasa ku menutup mataku sendiri, saat melayang menuju tanah. Tiada daya aku menutup jejak timah di dadaku. Tiada mampu ku basuh wajahmu dari darah. Aku kaku. Aku tak ingin meninggalkan mu bungsuku, tepat saat kekasihku tujuh Jum?at tak kembali. Tetap saja, aku mati.

***
POHON-pohon tumbang. Burung-burung membiarkan daun melambai menuju tanah. Timah-timah terbang. Kampung terguncang. Tahmid tak henti ke langit saban malam dari rumah-rumah nestapa. Ketahuilah anakku, itulah isyarat malaikat sedang sibuk. Ia bayang putih itu.

Baru saja ia menemuiku. Mengizinkanku menemanimu dalam peluk jasadku. Sampai orang-oang menjemput kita, bila dentuman-dentuman reda. Untuk ini, kugadai padanya, kerinduanku bertemu Hafid kekasihku yang kubenam tujuh Jum?at lamanya.

?Kau sudah siap??
?Ya. Tarik aku sampai tak mengenal sekarat!?
?Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *