Kesaksian Sebuah Rumah

Dharmadi
http://oase.kompas.com/

Dia datang lagi pagi ini. Dengan rasa khawatir, timbul pertanyaan dalam hatiku, apakah ada bagian dariku yang akan diubah-ubah lagi meskipun aku sendiri sampai saat ini belum juga jadi secara sempurna. Sudah lama aku mulai dibangun, tak kurang sejak sembilan bulan yang lalu.

Untuk membangunku, katanya direncanakan habis sekitar satu setengah milyar, sampai saat kedatangannya sekarang ini untuk yang ke sekian kali, aku sudah menghabiskan sekitar satu milyar. Itu saja baru selesai sekitar delapan puluh persen, dan aku sendiri sudah merasa jenuh, tak juga selesai-selesai.

Sambil bermanja-manja bergelayut pada lengan kiri lelaki setengah baya itu, dia berjalan mengitariku. Sampai di teras belakang yang menghadap kolam renang, dihentikannya langkahnya. Memandangi teras dari berbagai jarak dan arah; dari jarak dekat kemudian mundur, maju lagi, dari bibir kolam, dari kiri, dari kanan, dari sudut pandang lurus.

Lelaki setengah baya itu, sambil merangkulnya, menjelaskan ini itu, menunjuk-nunjuk bagian-bagian tertentu pada terasku. ?Bagaimana Diajeng?? tanya lelaki setengah baya itu.
?Aduh, Mas, indah sekali terasnya, aku puas sudah; suasananya nyaman dan romantis. Tak usah ada yang dirombak-rombak lagi, aku sudah kebelet sekali untuk menempati.? Suaranya lembut dalam nada kemanja-manjaan.

Aku merasa lega mendengar kata-katanya. Berarti aku tak akan dirombak-rombak lagi. Memang benar apa yang dikatakannya tentang terasku. Menghadap ke gunung, di bawahnya kolam ikan yang cukup luas, dan beberapa puluh meter di depannya kolam renang, sekitarnya taman bunga dan hamparan hijau rumput.

Selentingan yang kudengar dari percakapan antartukang yang membangunku, lelaki setengah baya itu pejabat di salah satu lembaga pemerintah yang berhubungan dengan publik. Dan perempuan itu adalah ?isteri? yang ketiga, yang paling cantik, paling muda, dan paling dimanja, dibanding kedua istri lainnya.

Aku dibangun di atas tanah di kaki bukit, diambilkan sebagian dari tanah seluas dua setengah hektar yang dibeli oleh lelaki setengah baya itu, dari puluhan orang desa yang semula pemilik tanah yang tak lagi mampu membayar utang kepadanya.
Puluhan orang desa yang semula pemilik tanah itu, utang kepada lelaki setengah baya itu, untuk biaya hidup karena beberapa kali gagal panen, padinya diserang hama dan juga selalu rugi karena biaya produksi yang tak sebanding lagi dengan harga padi.
Meskipun aku belum jadi secara penuh, tetapi banyak orang ketika lewat di depanku, sesaat berhenti, menyempatkan diri, melihat-lihat dari tepi jalan. Berdecak dan bergumam, ?Rumah apa istana??
***
Akhirnya aku selesai juga, menjadi bangunan mewah dan megah. Sehari-harinya perempuan itu yang menghuniku, dengan perempuan setengah baya, sebagai pembantu rumah tangga, dan dua laki-laki remaja, sebagai tukang kebun, yang diambil dari warga desa.

Lelaki setengah baya itu memang sering datang dan menginap. Tetapi paling hanya dua-tiga hari dalam seminggu, dan hari-harinya pun tak tentu. Tak ada seorang pun yang dapat tahu dengan pasti garis hidupnya, juga dengan kematiannya sendiri. Juga lelaki setengah baya itu. Sembilan bulan yang lalu, laki-laki setengah baya itu meninggal dunia dalam peristiwa kecelakaan, ketika baru sekitar setahun menikmatiku.
***
Senja ini, lelaki itu kembali datang. Lelaki yang sudah beberapa kali kulihat datang sejak sekitar tiga minggu terakhir ini. Seperti kebiasaan kedatangannya, lelaki itu langsung masuk ke ruang tengahku, mereka berdua berbincang ke sana kemari sebentar, kemudian berdua mereka masuk ke kamar utamaku.

Kamar yang selama ini biasa dipakai Ning bersama lelaki setengah baya itu yang dipanggilnya Mas Dib, sebelum lelaki setengah baya itu meninggal.
Mereka mandi bersama, di kamar mandi yang ada di kamar utamaku itu, saling bercanda, bergantian saling menyabuni, sambil meraba-raba bagian-bagian tubuh tertentu yang menimbulkan geli dan gelinjang.

Apa yang dilakukan di kamar mandi berlanjut di atas ranjang. Tak perlu aku ceritakan secara detail apa yang mereka lakukan. Bayangkan saja sendiri, adegan-adegan apa saja yang mereka mainkan dengan keliaran imajinasimu, kalau kamu ingin ikut merasakan, betapa indahnya permainan mereka.

Aku terhenyak, mataku terbelalak; tiba-tiba kulihat kedua telapak tangan laki-laki itu, dengan tenaga yang luar biasa, mencengkeram leher Ning, yang badannya masih dalam posisi telentang, telanjang di atas ranjang, yang baru saja ditidurinya, dengan daster yang terbuka, terlepas semua biji kancingnya.

Kulihat perempuan itu nampak berusaha melakukan perlawanan. Tubuhnya menggelepar-gelepar, seperti ular ketika ditangkap kepalanya, tangannya berusaha melepaskan cekikan, kedua kakinya mancal-mancal, menjejak-njejak tak terarah.
Tapi tak lama, hanya dalam hitungan menit. Tenaga laki-laki yang mencekik dan menindihnya, yang wajahnya kulihat seakan telah berubah menjadi wajah setan-berbentuk segi empat seperti selempeng papan, hitam melegam tak berdarah-terlalu kuat untuk dilawan perempuan itu.

Kemudian yang nampak, tubuh perempuan itu terkulai, bagai sebatang pohon pisang yang telah membusuk, lemas kalau diangkat.

Dengan hati dingin, sedingin es, seakan membeku, mengeras membatu, laki-laki itu meluruskan kedua kaki perempuan itu, biji kancing dasternya satu per satu di masukkan kembali ke lubangnya, kedua tangannya didekapkan ke dada dengan posisi telapak kiri diletakkan di bawah telapak kanan.

Mata perempuan itu yang sedikit membeliak, setelah diusap-usap dengan telapak tangan kanan lelaki itu, kelopaknya mengatup rapat Di pandangan, perempuan itu nampak seperti orang tidur saja, laiknya.

Dengan tenangnya, laki-laki itu merapikan pakaian di depan kaca lemari pakaian, sejenak menatap perempuan itu, kemudian seperti tak terjadi apa-apa, melangkah keluar, pintu kamar ditutup perlahan.

Ditemuinya perempuan setengah baya, pembantu rumah tangga perempuan itu, yang sedang di dapur belakang. Laki-laki itu meninggalkan pesan, ?Mbok, Ibu sedang tidur, kalau nanti wungu menanyakan aku, katakan, sedang keluar sebentar.?
Perempuan setengah baya, yang dipanggil Mbok, kulihat menganggukkan kepala dengan takzim, sambil berkata, ?Inggih, Ndoro.?

Kemudian, laki-laki itu berjalan untuk meninggalkan rumah. Dihentikan langkahnya di teras depan, dipanggilnya dengan lambaian tangan dua penjaga yang ada di pintu gerbang.

Sambil menyodorkan beberapa lembar uang, laki-laki itu berpesan pada dua penjaga yang telah berdiri tegak di depannya, ?Ibu sedang tidur, saya mau keluar sebentar; jaga baik-baik Ibu dan rumah.?

Kedua penjaga bersikap hormat, tegap berdiri sambil menganggukkan kepala, dengan gerakan tak begitu dalam.

Dengan tenang laki-laki itu berjalan ke mobilnya, kemudian dengan perlahan dijalankan, mobil meninggalkan halaman, menuju ke jalan raya, dan entah ke mana arah tujuannya, lepas dari pandangan.
***
Aku tak habis pikir, kenapa perempuan itu mesti dibunuh. Padahal, misteri kematian lelaki setengah baya itu sendiri karena kecelakaan, sampai sekarang belum terungkap. Kabar angin yang kudengar, kecelakaan yang menimpa lelaki setengah baya itu sengaja dilakukan oleh orang lain.

Menurut saksi mata yang dimintai keterangannya oleh polisi, mengatakan, mobil lelaki setengah baya itu yang sedang berjalan perlahan di jalan lengang, sengaja ditabrak oleh mobil yang berjalan di belakangnya, dan mobil penabrak langsung tancap gas.

Apakah kematian perempuan itu ada hubungannya dengan kematian lelaki setengah baya itu, sekaligus juga ada hubungannya dengan kedua perempuan yang menjadi isteri lelaki setengah baya itu?.Atau, ada hal-hal lain, yang menjadikan perempuan itu mesti dibunuh?
***
Sejak kejadian itu, aku dalam keadaan kosong. Tak ada yang menghuni lagi, dan tak setiap orang boleh memasuki, kecuali seizin polisi. Sepanjang pagar halamanku bagian depan direntang police line.

Tak jelas lagi siapa yang menjadi pemilikku. Keadaanku tak terurus, suram.Dan aku merasa tak berharga, meskipun hargaku milyaran. Aku tak lagi dikagumi, seperti ketika awal-awal aku berdiri, ?Rumah apa istana??

Yang sering kudengar sekarang, ?Rumah setan, rumah setan,? teriak anak-anak sambil berlari ketika lewat di depanku, apalagi kalau malam.
*****
2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *