Judul: Zaman Peralihan
Pengarang: Soe Hok Gie
Penerbit: Yayasan Bentang Budaya
Cetakan: V, 1995
Tebal: XXVii-266 Halaman
Peresensi: Sabiq Carebesth
http://oase.kompas.com Continue reading “Dari Soe Hok Gie kepada Generasi”
Tanggungjawab Sosial Pesantren
Siti Muyassarotul Hafidzoh*
http://oase.kompas.com/
Judul buku: Agama, Pendidikan Islam, dan Tanggungjawab Sosial Pesantren
Penulis: Irwan Abdullah dkk.
Penerbit: Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan: 1, 2008
Tebal: 221 halaman
Jejak pesantren dalam wajah perjuangan ke-Indonesia-an selalu menampakkan spirit kegigihan, keuletan, dan keikhlasan. Continue reading “Tanggungjawab Sosial Pesantren”
Aku Bayar Yang Dulu Pernah Aku Makan
Miftahrahman
http://oase.kompas.com/
Namaku adalah laki-laki yang menggendong gitar sebagai busur yang selalu merunduk di atas awan dan teman-teman memanggil aku Kabul. Usia? kira-kira 25 tahun.
Ini kali pertama aku menginjakan kaki di kota impian, Jakarta. Di sinilah, ya, aku tegaskan lagi disinilah, di samping penjual rokok dan kopi dan aneka macam kue yang letaknya agak jauh dari loket kereta, menjadi pijakan pertamaku untuk mencapai tangga kesuksesan menjadi seorang pemusik terkenal seluruh dunia. Continue reading “Aku Bayar Yang Dulu Pernah Aku Makan”
Di debur ombak parang tritis
Peresensi: Sugiarta Sriwibawa
http://majalah.tempointeraktif.com/
Buku: OMBAK DAN PASIR
Penulis: Nasjah Djamin
Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama, Jakarta, 1988, 342 halaman
SAMBIL menyimak roman Nasjah Djamin yang baru, Ombak dan Pasir, saya teringa akan esei Dr. Farida Soemargono dalam Archipel 1979, Le “Groupe de Yogya” 1945-1960, les voies javanaises d ‘une litterature Indonesienne, yang melihat pentingnya suara kelompok sastrawan di Yogya dalam perkembangan sastra modern Indonesia. Continue reading “Di debur ombak parang tritis”
SEMANGAT MULTIKULTURAL DAN EMPATI PADA KAUM MARJINAL
Maman S. Mahayana *
Semangat multikulturalisme dan pemihakan terhadap kaum marjinal, itulah kesan yang menonjol yang dapat kita tangkap ketika mencermati cerpen-cerpen Pudji Isdriani kali ini. Meski semangat pembelaan atas kaum marjinal dan usaha untuk mengangkat peran kaum perempuan sudah tampak dalam antologi cerpennya yang terdahulu (Hati Seorang Ibu, 2001; Reinkrnasi Titis, 2003; Cokelat dan Sepotong Dosa, 200; dan sebuah novelnya, Memory in Sorong, 2005), kali ini gaya bertuturnya seperti sengaja hendak memancarkan empatinya yang mendalam. Continue reading “SEMANGAT MULTIKULTURAL DAN EMPATI PADA KAUM MARJINAL”
