Aku Bayar Yang Dulu Pernah Aku Makan

Miftahrahman
http://oase.kompas.com/

Namaku adalah laki-laki yang menggendong gitar sebagai busur yang selalu merunduk di atas awan dan teman-teman memanggil aku Kabul. Usia? kira-kira 25 tahun.

Ini kali pertama aku menginjakan kaki di kota impian, Jakarta. Di sinilah, ya, aku tegaskan lagi disinilah, di samping penjual rokok dan kopi dan aneka macam kue yang letaknya agak jauh dari loket kereta, menjadi pijakan pertamaku untuk mencapai tangga kesuksesan menjadi seorang pemusik terkenal seluruh dunia. Continue reading “Aku Bayar Yang Dulu Pernah Aku Makan”

Di debur ombak parang tritis

Peresensi: Sugiarta Sriwibawa
http://majalah.tempointeraktif.com/
Buku: OMBAK DAN PASIR
Penulis: Nasjah Djamin
Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama, Jakarta, 1988, 342 halaman

SAMBIL menyimak roman Nasjah Djamin yang baru, Ombak dan Pasir, saya teringa akan esei Dr. Farida Soemargono dalam Archipel 1979, Le “Groupe de Yogya” 1945-1960, les voies javanaises d ‘une litterature Indonesienne, yang melihat pentingnya suara kelompok sastrawan di Yogya dalam perkembangan sastra modern Indonesia. Continue reading “Di debur ombak parang tritis”

SEMANGAT MULTIKULTURAL DAN EMPATI PADA KAUM MARJINAL

Maman S. Mahayana *

Semangat multikulturalisme dan pemihakan terhadap kaum marjinal, itulah kesan yang menonjol yang dapat kita tangkap ketika mencermati cerpen-cerpen Pudji Isdriani kali ini. Meski semangat pembelaan atas kaum marjinal dan usaha untuk mengangkat peran kaum perempuan sudah tampak dalam antologi cerpennya yang terdahulu (Hati Seorang Ibu, 2001; Reinkrnasi Titis, 2003; Cokelat dan Sepotong Dosa, 200; dan sebuah novelnya, Memory in Sorong, 2005), kali ini gaya bertuturnya seperti sengaja hendak memancarkan empatinya yang mendalam. Continue reading “SEMANGAT MULTIKULTURAL DAN EMPATI PADA KAUM MARJINAL”

Bahasa ยป