Pesantren Masih Minim Karya Tulis

Ghufron
http://www.republika.co.id/

Perkembangan sastra dan budaya baca tulis di lembaga pendidikan pesantren terkesan jalan di tempat, bahkan bisa dikatakan mandek. Akibatnya, hingga saat ini tidak banyak karya satra atau karya tulis yang bisa dihasilkan dari kalangan pondok pesantren.

“Pesantren saat ini memamng sepi karya tulis. Hal itu terjadi karena kurang adanya keteladanan. Kiainya saja malas mengarang kitab, bagaimana santrinya bisa nulis,” ujar budayawan Ahmad Thohari Continue reading “Pesantren Masih Minim Karya Tulis”

FLP dan Pendidikan Sastra

Kurniasih *
newspaper.pikiran-rakyat.com

“FLP, Sastra Islam, dan Seni Tinggi” yang ditulis oleh Topik Mulyana (15/12/07) ditujukan untuk merespons “Wajah Sastra Islam” yang saya tulis. Sekadar informasi, tulisan tersebut adalah makalah pada diskusi Lembaga Pengkajian Islam, Ramadhan lalu, di Masjid Salman ITB. Informasi ini penting karena pada acara itu, audiensnya adalah mahasiswa sekaligus aktivis masjid. Beragam pendapat mengalir setelah saya membawakan makalah tersebut. Poin paling penting yang muncul saat itu adalah betapa mereka resah dengan buku fiksi Islam yang membanjir sedemikian rupa, juga saya. Continue reading “FLP dan Pendidikan Sastra”

Pendidikan Sastra Klasik di Jepang

Albertus Prasetyo Heru Nugroho
citizennews.suaramerdeka.com

ONKOUCHISHIN, demikian peribahasa dalam bahasa Jepang yang artinya “hangatkan yang lama, peroleh yang baru”. Sejak kedatangan saya di negeri matahari ini tahun 2000 dalam rangka tugas belajar S-1, banyak hal yang saya alami, saya rasakan berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelum saya datang ke Jepang. Continue reading “Pendidikan Sastra Klasik di Jepang”

Sastra Sunda Minus Kritik

Ahda Imran
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

SASTRA Sunda hari ini berada dalam perkembangan tradisi kritik yang menye-dihkan. Karya-karya terus lahir tapi kritik seolah jauh tertinggal di belakang. Hadiah sastra Rancage, Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS), dan sejumlah hadiah sastra dari berbagai lembaga seperti Paguyuban Pasundan atau juga majalah Mangle juga sayembara-sayembara, agaknya bisa dibaca sebagai bagian dari infrastruktur kritik. Akan tetapi berbagai hadiah dan sayembara itu sampai hari ini tidak (atau mungkin belum) melahirkan wacana pemikiran atas sastra Sunda. Continue reading “Sastra Sunda Minus Kritik”

Bahasa ยป