Reaktualisasi Lakon Realis, Suatu Tawaran

Raudal Tanjung Banua
sinarharapan.co.id

Posisi naskah drama dalam khazanah teater tanah air sebenarnya relatif unik, seunik keberadaan jagad teater itu sendiri. Kita misalnya, mengenal teater modern dan teater tradisional, yang relatif tidak popular dalam khazanah teater Barat. Salah satu unsur pembeda yang utama terletak pada ada atau tidaknya naskah yang dimainkan. Jamak diketahui bahwa teater tradisional menjumpai publiknya berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat (sastra lisan), kemudian dimainkan dengan tingkat spontanitas dan improvisasi yang tinggi. Sebaliknya, teater modern memiliki “kerangka situasi” berupa naskah drama yang menempatkan kerja artistik dan produksi teater tidak sekadar improvisasi (Goenawan Mohamad, 1981).

Hubungan teater dengan “kerangka situasi” ini mendapat padanannya dengan drama yang pengertiannya memang luas. Dalam buku Websters New Collegiate Dictionary, dinyatakan bahwa drama merupakan karangan berbentuk prosa atau puisi yang direncanakan bagi pertunjukan teater; suatu lakon (Henry Guntur, 1984). Untuk konteks ini, drama memiliki pengertian sebagai theatre atau performance. Selain itu, ada pula naskah yang ditulis sebagai bahan bacaan, bukan untuk produksi panggung. Drama jenis ini dikenal dengan sebutan textplay atau repertoir atau closet drama. Apapun istilahnya yang jelas, drama memiliki hubungan yang erat dengan teater karena keberadaan naskah, terlebih pada drama sebagai theatre atau performance.

Analisis Naskah Lakon
Naskah lakon sebenarnya juga memiliki kekayaan tersembunyi untuk dianalisis baik untuk kepentingan panggung (teater), maupun kepentingan sastra. Di sini, kita bisa memakai analisis struktural. Menurut A. Teeuw (1984), analisis struktural bertujuan membongkar dan memaparkan secara cermat, teliti, detail dan mendalam keterkaitan dan keterjalinan semua anasir aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Hal ini diperkuat oleh ungkapan M. Mcluhan yang terkenal, “the medium is the message”, dan oleh A. Teeuw dijabarkan bahwa baru dalam keterpaduan struktur yang total keseluruhan makna yang unik dalam teks dapat terwujud. Tugas dan tujuan analisis struktur justrulah mengupas semendetail mungkin keseluruhan makna yang terpadu dalam suatu karya sastra.

Sementara itu, dengan mengutip Rene Wellek dan Austin Warren, Suminto A. Sayuti (2000) menyatakan bahwa karya sastra, termasuk naskah lakon, merupakan sebuah struktur yang rumit. Kerumitan ini barangkali dapat diartikan sebagai sesuatu yang kompleks. Sebagai sebuah struktur, karya sastra mengandung gagasan keseluruhan, gagasan transformasional, dan gagasan kaidah yang mandiri. Kita misalnya, dapat menggalinya lewat pendekatan struktural, terutama untuk “sastra realistik”.

Reaktualisasi Realisme
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan J.S. Badudu dan Sutan Mohamad Zein, realisme adalah aliran atau ajaran yang selalu berpegang pada kenyataan, dan dalam kesenian aliran ini berusaha mengungkapkan sesuatu sebagaimana kenyataan yang ada. Realisme merupakan suatu aliran besar dalam kesenian yang memiliki sejumlah varian dan kedekatan, misalnya, merujuk Henry Guntur Tarigan, dikenal adanya realisme-sosialis, realisme sebenarnya dan naturalisme. Realisme sosialis berasal dari ajaran Karl Marx yang melukiskan kehidupan manusia secara materialistik, dialektik dan historistik atau dikenal dengan akronim MDH. Realisme sebenarnya menggambarkan kehidupan sedemikian rupa meliputi aspek jasmani dan rohani secara logis dan mendalam. Naturalisme melukiskan dengan lebih cermat dan teliti apa yang dilihat dan dirasa oleh pengarang, terutama kehidupan manusia sebagai makhluk alam yang memiliki hasrat dan kelemahannya, misalnya dalam kehidupan seksual dan kekuasaan sehingga memunculkan satu penyadaran dalam memandang lingkungan sekitar.

Bakdi Soemanto dalam bukunya, Jagad Teater (2000), menyatakan bahwa realisme senantiasa bertujuan menyajikan seni dalam rangka menghadirkan tujuan-tujuan lain di balik itu. Oleh karena itu, realisme harus dipahami sebagai jagad pikir yang menghadirkan wawasan dan persepsi. Lebih jauh lagi, realisme bahkan diperlukan sebagai tujuan utama penciptaan dan sekaligus di dalamnya terdapat suatu konsep. Sebab, masih menurut Bakdi, Selain tidak mengenal naskah yang baku, teater tradisional di Indonesia lebih tepat disebut belum mengenal konsep realisme panggung.

Konsep realisme panggung di samping membutuhkan naskah lakon yang baik, juga pada muatan aspek panggung seperti blocking, laighting dan acting yang tertata rapi. Dengan demikian, realisme menghadapkan budaya oral dengan budaya tulis, budaya improvisasi dengan budaya yang dirancang rapi, budaya kolektif (massal) dengan budaya individual yang lebih otentik.

Hal di atas menunjukkan betapa pentingnya konsep realisme untuk mendukung terciptanya tatanan panggung yang baik. Selain faktor naskah, rupanya yang ikut membedakan teater tradisional dan teater modern (di) Indonesia adalah penerapan konsepsi realisme dalam suatu permainan. Artinya, kelompok teater yang jauh dari konsepsi realisme akan lebih banyak mengandalkan insting dan improvisasi daripada acting dan “kerangka situasi”. Bukankah kedua hal ini yang membedakan khazanah teater tradisional dan teater modern di Indonesia?

Nah, dalam hubungan inilah upaya merumuskan “kerangka situasi” berupa naskah drama dipandang memiliki urgensi dan relevansi dengan teater modern Indonesia saat ini yang pertumbuhan naskahnya tidak kompetitif. Hal ini diperparah oleh kecenderungan insan atau kelompok teater yang mengatasnamakan “teater eksprimental” untuk menolak secara halus naskah-naskah yang representatif, khususnya naskah realis. Padahal, kita bisa memulai dari konsepsi realisme, sebagai dasar pijakan, bukan?

*) Alumnus Jurusan Teater ISI Yogyakarta, kini mengelola Komunitas Rumahlebah dan Jurnal Cerpen Indonesia.

One Reply to “Reaktualisasi Lakon Realis, Suatu Tawaran”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *