Sajak-Sajak Alex R. Nainggolan

http://www.lampungpost.com/
Satu September
– anakku, Assafa’ah Saffanah Nainggolan

sepertinya masih terdengar tangisan kencangmu
menelusuri lengang koridor rumah sakit
tapi engkau terus saja menari
tak pernah diam
untuk menghapal setiap sudut rumah
dengan tapak kecilmu
dengan langkah kecilmu
senyummu
menumbuhkan binar bintang di mataku
maka ingin selalu kupeluk engkau
mengajari dirimu bahasa adam
di mana vokal dan konsonan terasa penuh gaung
dan kata-kata dari mulutmu
menjelma nyanyian yang paling merdu
lagu yang tak pernah kudengar sebelumnya
sepertinya masih saja aku membalut tubuhmu
dengan minyak telon
atau kain bedong
tapi engkau telah dahulu melangkah
dan tertawa menatap luas cakrawala

2009

Aku Mengetuk

aku mengetuk di pintu-pintu rumah
membenamkan gelisah
dengan mata yang basah
semestinya kau salib aku seperti isa
sebab banyak orang mengaku nabi
menemukan jalan sunyi
dan mengajar bom bunuh diri
entah siapa yang membalut luka
hingga besar dan nanar
lalu gedung-gedung terbakar
meledak serupa bom
aku mengetuk
berharap ada tangan yang terbuka
menyambutnya
jika duka ini selalu tak bisa kutampung sendirian

2009

Ingin Kudekap Dirimu

ingin kudekap dirimu selalu
membungkus segala frustasi
yang lama lindap di hati
selama musim terbuka
dengan cuaca yang nyaris sempurna
maka dengarkanlah semua kabar yang lindap
tentang kita
setiapkali kaubuka pintu rumah di pagi hari
kekal cahaya matahari melumuri kelopak mata
dengan perdu di beranda
jika semalam ranjang kita dingin
tetapi hangat dekapanku
telah melunaskan tajamnya birahi

2009

Situasi

kadang aku selalu terkenang pada warna bibirmu. mengunci tubuhku seperti kilat petir. geledek di siang bolong, sementara hujan alpa untuk bertandang. lalu semua gunjing meruncing, menelusup ke dalam rumah. semestinya engkau mengacuhkannya, sebab hidup selalu saja jalan. hari-hari tak kekal. lecutan waktu akan tiba di dini hari. terkadang ingin kugambar semua percakapan kita, yang terasa mulai hambar dan kita hilang makna rumah. dan engkau terlelap, hinggap di ranjang. mengunci tubuhku yang dingin, dengan keinginan. di mana hangat tubuhmu yang dulu merajahku? tapi masih ada anak-anak yang buat tertawa, juga beberapa baris sajak yang menekan semua benci. lalu kita kembali pulang dengan keadaan yang sama; tak pernah mengenali diri masing-masing. terlalu sibuk mempersoalkan semua nasihat juga akhlak. padahal aku hanya ingin merengkuh dirimu saja, cintamu yang seluruh dengan getah bening di hati. menyadap semua lara, dan menghabiskan waktu dengan gurau belaka. tapi engkau selalu saja terkunci. terlibat pada bacaan-bacaan bagus tentang hidup yang mesti diatur. sementara kangenku melulu lulur, terjulur merupa benang layangan yang kesiangan. semisal; aku bertanya tentang cuaca dan waktu adakah engkau menjawabnya dengan raut wajah cerah?

Jakarta, 2009

Nomor Handphone

kutelepon nomor handphone
tapi angin yang mengucap
gaduh dan berisik
“sebentar, aku lagi di keramaian!”
suara yang kresek
percakapan yang bisu
tapi ke mana suara terbawa?
ketika sinyal menguap
seperti bensin
ingin kutelusuri dirimu
sedang berbuat apa
ketika aku menghubungi
tapi tak juga diangkat
untaian angka
yang tak pernah selesai diraba
hanay cemas meranggas
terlipat dalam keremangan hari
mungkin engkau di ujung yang lain
sedang menikmati hembusan angin
atau tergoda untuk lari dari kermaian
mengacuhkan diri
ketika
setiap orang ingin tahu kabar dirimu

2009

*) Lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di Jurusan Manajemen FE Unila. Puisi, cerpen, dan esainya dimuat di berbagai media dan antologi bersama. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *