Salju Terakhir di Elland Road

Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/

Aku sudah mencintainya sejak kami bertemu tiga bulan lalu, pada sore yang menggigil, ketika salju bertebaran di setiap sudut Kota Leeds, ketika aku duduk di sebuah kafe di pinggiran Elland Road, saat itulah pertama kali aku melihatnya, ia mencuri perhatianku karena perdebatannya dengan seorang pelayan kafe, sebuah keributan kecil yang entah apa sebabnya.

“Pergi sana! Pergi dan carikan!”

“Tetapi, Nona Maria…”

“Aku bilang cari!”

Kupikir aku baru saja melihat adegan film yang umum, sebuah pertengkaran. Wanita itu tampak sedikit pucat dengan pakaian yang berwarna abu-abu, dari kejauhan aku hanya bisa melihat kulitnya yang putih. Sepertinya tak banyak yang mau memperhatikan keributan yang baru saja terjadi itu, tidak seperti aku, semua pengunjung kafe seolah sudah biasa melihatnya, semua orang tetap sibuk dengan urusannya masing-masing, beberapa tetap bercakap-cakap seperti sedia kala, para pelayan lain tetap berkeliling menyambut panggilan pelanggan, ada seorang tua yang menikmati burger sambil menatap ke layar laptop, ada sepasang wanita yang berhadap-hadapan sambil memegang jus stroberi. Tetapi mataku tak pernah lepas dari wanita itu.

Ketika kejadian itu berlangsung, pinggiran Jalan Elland Road benar-benar tertutup salju, mungkin sedang di puncak-puncaknya musim, salju juga sesekali jatuh dari atap bangunan bagian depan cafe, hawa dingin menyeruak di setiap sudut, semua orang berjalan kaki dengan terburu-buru, salju masih tebal, mereka semua mengenakan jaket, termasuk aku yang baru melepasnya setelah masuk ke cafe ini.

“Yah. Dia lagi.” Ucap seseorang yang baru saja datang, seorang laki-laki berkacamata yang kemudian memilih tempat di sampingku, ia membuka jaketnya, aku sempat membaca tulisan di bagian punggungnya,” I Hate Manchester United”. Seperti telah saling mengenal, ia duduk begitu saja tepat di depanku, mungkin karena aku masih memperhatikan wanita yang sedang bertengkar di pojok dekat jendela itu.

“Siapa dia?”

“Maria. Setiap kali mampir ke sini, dia selalu marah-marah.”

“Marah-marah?”

“Ya, seperti pengidap skizofrenia.”

Aku memandanginya sekali lagi, sekarang wanita itu menatap ke arah jendela, ke luar cafe, ia seperti patung, lama sekali aku memperhatikannya, lama sekali. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu.

II

Keesokan harinya aku datang lagi, dan wanita itu ternyata masih ada di sana, menatap ke arah jendela tempat butiran salju yang terus saja jatuh, dan sore ini, aku memberanikan diri untuk mendekatinya, duduk di sebelahnya tanpa ada rencana untuk berbasa-basi. Kulihat jendela cafe buram oleh hawa dingin, dan sepertinya ia sengaja tidak peduli dengan keberadaanku.

“Apa yang sedang Anda lihat?” Aku mulai bertanya ketika ia sekilas menoleh kepadaku.

“Hmh… Salju terakhir.”

“Maksudnya?”

“Ya, di sini aku suka melihat salju yang perlahan-lahan mencair, menetes dan jatuh ke saluran air, sampai aku menemukan salju terakhir.”

“Salju terakhir? Untuk apa?”

“Aku ingin memilikinya, tetapi selalu gagal.”

“Gagal?”

“Ya. Setiap kali aku mengambil segumpal salju di Elland Road, selalu saja ada salju yang masih terlihat di bagian lain jalan ini, yang artinya salju di tanganku bukanlah salju terakhir.”

“Aneh sekali. Untuk apa salju itu buat Anda?”

“Mmm…. Aku ingin tahu, seberapa lama ia memberiku rasa dingin, sebelum aku kembali menemukan kehangatan. Aku benci kehangatan.”

Aku tak begitu mengerti. Yang pasti ia sudah mengizinkanku duduk di sebelahnya.

Satu jam berlalu di cafe, kami masih berbincang-bincang, rasanya begitu mudah untuk mengenalnya lebih dekat, ia tak memberikan reaksi yang berlebihan sepanjang pembicaraan ini, aku jadi melupakan pertengkaran kemarin. Sekarang aku telah mengenal suaranya yang ternyata halus, ia masih menggunakan pakaian yang dikenakannya kemarin. Selanjutnya kami bicara banyak hal tentang salju, tentang tempat-tempat bersalju dan negeri yang tak pernah tersentuh musim salju. Minuman mengalir ke meja kami, dan orang-orang justru menatapku heran.

“Kenapa Anda tidak menemaninya sejak dulu?” Tanya kasir kafe ketika aku membayar semua makanan dan minuman.

“Saya baru mengenalnya.”

“Ah, jangan bercanda, saya lihat Anda begitu akrab!”

“Sungguh saya baru mengenalnya.”

“Wanita itu cantik tetapi tidak waras.”

“Dia wanita baik-baik.”

“Dia membuat kafe ini tidak nyaman, terutama setiap kali musim dingin.”

“Jadi, dia hanya datang pada musim dingin?”

“Ya, apa Anda benar-benar tidak tahu?”

Aku hanya diam, lalu mengambil kembalian, dan mengajak Maria pergi. Rupanya di luar telah gelap, lampu jalanan berbaris terang, sepanjang Elland Road cukup lengang di malam hari. Tak ada kemacetan, mobil-mobil bisa melesat begitu mulus.

“Mungkin aku bisa mengantarmu pulang,” ucapku ketika kami berdiri di depan kafe.

“Tidak usah, aku masih ingin berada di Elland Road.”

“Untuk apa?”

“Siapa tahu aku bisa menemukan salju terakhir malam ini.”

III

Salju terakhir telah mengenalkanku kepadanya, dan kami melanjutkan pertemuan-pertemuan yang tak direncanakan. Aku selalu mampir ke kafe dan menemukannya di sana, lalu kembali berbicara tentang banyak hal, terutama tentang salju. Menghabiskan waktu di sudut kafe di Elland Road adalah rutinitas baruku, dari selepas siang hingga menjelang tengah malam. Namun, aku hanya bisa menemuinya di kafe ini, dan tentu saja, aku mulai jatuh cinta kepadanya di kafe ini, sebuah cinta yang datang begitu saja, secara alami.

Namun, malam ini berbeda, ketika aku merasa telah sangat dekat, ketika aku telah mempersiapkan kalimat-kalimat terbaik dan istimewa untuk diutarakan kepadanya, ia justru tidak datang, padahal biasanya ia sudah datang lebih dulu.

Dan aku mulai gelisah.

“Cuma Anda yang mau berbincang baik-baik dengan Maria,” ucap seorang pelayan kafe yang datang untuk mengantarkan burger pesananku.

“Apakah dia pernah terlambat?”

“Setahu saya, tidak. Mungkin dia memang tidak bisa datang malam ini.”

Aku menghela napas, bersandar, kutatap pemandangan di jendela, hanya mobil-mobil. Aku terus saja menunggu, sampai akhirnya aku yakin bahwa Maria benar-benar tidak datang, mungkin esok atau lusa, toh ini juga bukan salahnya, karena kami memang tidak pernah berjanji untuk bertemu, semua pertemuan kami adalah pertemuan tanpa janji. Tetapi, bukankah musim salju belum berakhir? Apakah Maria telah menemukan salju terakhirnya? Tidak, kemarin ia bilang belum menemukan apa-apa.

“Aku yakin, suatu saat akan kutemukan juga salju terakhir itu,” begitu ucapannya yang kuingat kemarin sore.

“Percuma, salju-salju itu akan menghilang secara bersamaan.”

“Kenapa kau berkata begitu? Apa kau mau menganggap penantianku ini aneh dan sia-sia?”

Tiba-tiba saja aku merasa salah bicara. Bayangan Maria tak pernah lepas seiring jarum jam yang berputar, langit sudah mulai malam, aku terpaksa keluar karena kafe akan segera tutup.

Di luar, tak ada lagi salju di sepanjang Elland Road, semuanya seperti telah meleleh. Bahkan ketika aku mencoba mencari di mana salju terakhir yang mungkin saja bisa kulihat malam ini, ketika aku pasang mata untuk menelusuri satu per satu sudut jalan yang kini diterangi lampu itu, aku tetap tak bisa menemukannya, semuanya hilang bersamaan seperti yang telah aku katakan kepada Maria kemarin. Lalu apa yang diinginkan Maria dengan salju terakhir, karena tidak pernah ada salju yang benar-benar terakhir, selalu saja ada yang lain entah di bagian mana, kemudian semua salju itu akan hilang bersama-sama, hingga tanpa terasa musim pun berganti dan tak kutemukan apa-apa kecuali daun-daun kering yang beterbangan.

IV

Rasanya hidup ini begitu singkat, segalanya bergerak begitu kilat. Telah lewat bulan demi bulan, tahun demi tahun, tiba-tiba aku berada di musim salju ketiga setelah kepergian Maria, sejak malam itu ia tak pernah muncul, dan aku tetap menunggunya, sebab ada banyak cerita yang masih kupendam bersama pita kenangan pendek yang tak pernah kusut. Kafe itu kini tampak megah, sudah menjadi dua tingkat, gemerlap lampunya cukup membuat penampilannya tampak mewah. Sementara aku semakin terjebak perasaan rindu yang asing, yang tak terdefinisi, terkadang aku suka membayangkan ia telah duduk menatap jendela dari dalam kafe, atau bertengkar lagi dengan pelayan. Dan malam ini, aku sengaja menunggunya, tepat di hari yang sama ketika aku bertemu dengannya tiga tahun lalu.

“Maaf. Mau pesan apa, Tuan?” Tanya seorang pelayan.

“Salju terakhir.”

“Apa?”

“Ya. Aku mau salju terakhir ada di meja ini sekarang juga.”

“Tidak ada menu salju terakhir, Tuan.”

“Aku hanya mau salju terakhir!”

Beberapa pengunjung kafe seperti memperhatikanku, aku jadi mudah emosi. Kemudian aku duduk dan berpaling dari mereka, aku diam saja sampai pelayan itu pergi, kini tatapanku mengarah ke jendela, pemandangan yang tetap, monoton, bayangan dan khayalan yang tetap sama, aku membayangkan Maria datang dengan sedikit berlari karena hujan salju yang terus saja turun sepanjang waktu, sepanjang aku menunggunya di sini. Aku membayangkan napasnya yang mengeluarkan asap dingin lalu duduk di depanku sambil memesan minuman hangat.

“Lihat. Laki-laki itu mungkin skizofrenia.”

“Ya, dia suka marah-marah.”

“Memangnya sejak kapan dia di situ?”

“Dia sering ke kafe ini, terutama kalau salju turun.”

Aku tentu mendengar percakapan itu dan tidak peduli. Elland Road semakin gelap, beberapa mobil yang sedang berjalan mulai menghidupkan lampunya. Di manakah Maria? Berjam-jam kemudian kafe sudah tutup, lagi-lagi aku berpindah, menunggunya di teras kafe, rasanya lebih baik aku menunggunya di sini saja, tak harus menghabiskan uang karena menu makanan dan minuman, tak harus menerima bisik-bisik pengunjung kafe.

Namun begitulah kenyataannya. Sudah larut malam, Elland Road sepi, Maria tak kulihat juga, begitulah malam demi malam kuhabiskan dengan rutinitas yang sama, entah apa yang membuatku yakin bahwa aku bisa menemukannya suatu saat, aku tetap duduk di bangku, di luar kafe. Jaket kulit ini tak mampu menahan dingin, aku sudah putus asa mencari, aku hanya bisa menunggunya bersama hawa yang menusuk para penghuni Elland Road.

Di mana kau sebenarnya, Maria? Mengapa kepergianmu tak menyisakan jejak-jejak untuk kuikuti, mengapa kau benar-benar menutup ruang. Kau tak meninggalkan nomor telepon, alamat, atau apa pun yang bisa melepaskan setidaknya setitik kerinduanku kepadamu. Telah kuhabiskan semua waktu, berabad-abad lamanya, tiba-tiba hidupku serasa begitu lumpuh, ada bilik-bilik penyesalan yang membuncah. Aku tak bisa bertanya kepada siapa pun, aku tak bisa mengeluh kepada siapa pun. Aku hanya menunggumu di sini, di Elland Road, untuk sesuatu yang tak terselesaikan.

Mungkinkah kau sudah menemukan salju terakhir di kota lain yang entah di mana, Maria? Mungkin ada seorang laki-laki yang berhasil mengelabuimu dengan memberikan salju terakhir bagimu padahal salju terakhir tak pernah tertangkap, yang jelas kau tidak ada lagi di sini, Maria, di teras kafe pinggiran Elland Road. Kau pasti tidak tahu, aku masih senantiasa menunggumu, di bawah butiran salju yang rajin turun perlahan-lahan dari pelukan langit.

“Ini benar boneka salju?”

“Benar, Tuan. Ini boneka salju. Lebih tepatnya, patung salju. Awalnya ada di bangku situ, lalu kami pajang di dekat pintu masuk saja untuk menarik perhatian pengunjung kafe.”

“Kok rasanya seperti manusia, ya?”

“Dahulu dia memang manusia, Dia seperti menunggu seseorang.”

“Ooo begitu. Jadi, kalau musim panas dia mencair?”

“Tidak, boneka ini tetap beku, karena yang menyelimutinya adalah salju abadi. Kalau sedang musim panas atau musim gugur, ini adalah salju terakhir yang bisa dilihat.”

“Hmmm… Aneh, sepertinya saya pernah melihat yang mirip seperti ini.”

“Apa? Benarkah?”

“Ya. Boneka salju abadi yang mirip sekali dengan manusia.”

“Di mana, Tuan?”

“Di Ennio Tardini, Italia, hanya bedanya, yang ini mirip seperti laki-laki, sedangkan di sana mirip seperti seorang wanita.”

(September 2009)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *