Sastra dan Realitas Imajiner

Anton Kurnia
sinarharapan.co.id

“Ketika Gregor Samsa terbangun pada suatu pagi di atas ranjangnya dari sebuah mimpi yang menggelisahkan, ia menemukan dirinya telah berubah menjadi seekor kumbang raksasa.” Demikian Franz Kafka (1883-1924), novelis muram yang tumbuh di Praha, membuka “Metamorfosis” (1915). Gregor Samsa terputus hubungan dengan masa lalunya sebagai manusia secara tiba-tiba. Sesuatu yang “irasional” terjadi pada hidupnya yang “nyata”. Tetapi, apakah sesungguhnya beda antara yang rasional dengan yang irasional? Antara yang nyata dan yang maya? Antara yang “real” dengan yang “imajiner?”

Di jalanan kota Praha yang saat itu menjadi wilayah imperium Austro-Hongaria, Franz Kafka mungkin pernah berpapasan dengan seorang pengarang besar dari generasi sebelumnya yang juga menulis dalam bahasa Jerman: Gustav Meyrink. Pada 1902 Meyrink mempublikasikan sebuah cerita berjudul “Serdadu yang Terbakar.” Kisah itu bertutur tentang seorang serdadu yang tiba-tiba saja terjangkit demam yang terus bertambah tinggi, pada mulanya hingga 200 derajat Celcius, lalu 220, hingga segala yang ada di sekelilingnya terbakar dan semua orang berusaha menghindarinya. Kisah ini adalah sebuah metamorfosis tak terjelaskan: seorang manusia menjadi sesosok monster. Bertahun-tahun kemudian, Kafka menulis metamorfosis Gregor Samsa menjadi kumbang raksasa yang juga tak terjelaskan.

Jika orang ingin membedakan berbagai periode kebudayaan di Eropa, di antara yang dipengaruhi oleh semangat rasionalisme dan yang diilhami oleh hal-hal irasional, bisa dikatakan bahwa sejarah Praha, kota tempat Kafka dan Meyrink tumbuh dan berkarya, didominasi oleh yang kedua. Pengaruh zaman Baroque bukan hanya membawa sentuhan pada keindahan arsitektur dan musik di kota itu, tetapi juga menggairahkan pemikiran bebas, sastra, novel dan filsafat. Absennya rasionalitas dan realisme menghasilkan berkembangnya segala yang irasional dan fantastis-legenda, mitos, kegilaan, imajinasi liar, yang juga berimbas pada karya sastra yang lahir di Praha, entah itu ditulis dalam bahasa Ceko atau Jerman. Bahkan, pada suatu kali Andr? Breton (1896-1966), pemikir dan pemuka gerakan Surealisme, menyebut Praha sebagai “ibu kota magis Eropa.”

Warisan magis Praha menitis dalam bentuknya yang sempurna pada karya-karya Kafka. Namun, inovasi Kafka sesungguhnya bukanlah pada pengayaan dan penggayaan novel melalui imajinasi-imajinasi fantastis yang tak terpikirkan sebelumnya, melainkan lebih radikal lagi. Ia mengisi yang fantastis itu dengan yang realistis: realitas yang bertumpu pada observasi dan juga visi sosial. Maka, dalam novel-novelnya, imajinasi penuh mimpi itu tak berhenti sekadar menjadi semacam eskapisme sosial atau romantisme kaum pemimpi, melainkan mampu menyingkap kenyataan wadag hidup manusia hingga tampak jelas apa yang tersembunyi di sebalik topeng.

Kafka menelanjangi kejenuhan dan keterasingan manusia urban karena ritus rutinitas melalui sosok Gregor Samsa yang menjadi asing pada dirinya dan kemudian terasing dari sekitarnya. Ia menelanjangi hipokrisi masyarakat urban yang keras kepala dalam kebingungannya dan sia-sia berusaha mencari jawab atas segala tanya ketika terperangkap dalam sebuah sistem sosial yang tak diinginkan, bahkan sesungguhnya tak pernah dipahaminya seperti tokoh Joseph K dalam novel Pengadilan (1925) yang terbit post-mortem.

Novelis-novelis sebelum Kafka kerap mengangkat institusi-institusi publik sebagai arena tempat terjadinya konflik antara individu-individu yang berbeda dengan kepentingan publik itu sendiri. Pada Kafka, institusi tersebut adalah mekanisme yang memiliki hukumnya sendiri. Tak seorang pun tahu kapan atau siapa yang telah memprogram hukum-hukum tersebut sehingga mereka kini jadi tak terpahami.

Kafka adalah penulis pertama yang berhasil meramu alkemi berbaurnya mimpi dan realitas serta mencipta sebuah jagat otonom di mana yang real tampak fantastis dan yang fantastis menyingkap realitas, jauh sebelum kaum surealis merumuskannya.

Mencari atau Menolak Makna

Pada tahun yang sama dengan saat Kafka dilahirkan, di Praha lahir pula seorang bocah yang kelak tumbuh menjadi seorang penulis novel. Ia adalah Jaroslav Ha’ek (1883-1923).

Biarpun sama-sama dilahirkan di Praha, keduanya punya karakter amat berbeda. Berlainan dengan Kafka yang cenderung penyendiri, Ha’ek ikut bertempur pada Perang Dunia Kesatu di pihak pasukan Austro-Hongaria, penguasa Praha saat itu, sebuah pengalaman yang kemudian mengilhaminya menulis satu-satunya novel yang pernah dibuatnya, Prajurit Schweik (4 jilid, 1921-1923). Novel tragikomik itu ditulis berdasarkan absurditas yang dialaminya dalam kehidupan militer.

Beda lainnya, Kafka adalah seorang vegetarian, sedangkan Ha’ek pemabuk. Kafka berperilaku wajar, sementara Ha’ek cenderung eksentrik. Karya-karya Kafka sering dianggap rumit, berat dan aneh, sedangkan novel Ha’ek bergaya populer. Namun, sesungguhnya keduanya mengurai persoalan serupa dalam kisah mereka: kemanusiaan yang menghadapi sebuah perubahan masyarakat menjadi mesin birokratis raksasa dalam karya Kafka dan kemanusiaan yang harus mempertahankan kewarasannya menghadapi mesin militer dalam novel Ha’ek.

Pada masa Kafka dan Ha’ek masih hidup, Karel ‘apek “penulis Praha lainnya” bercerita tentang para robot dalam sebuah lakonnya, RUR (1920). Dari naskah drama itulah kata “robot” yang kita kenal saat ini berasal dan menyebar. Robot-robot ini dibuat oleh manusia, tetapi kemudian memerangi manusia. Karena mereka tak memiliki sensitivitas dan disiplin diri mereka amat tinggi, mereka akhirnya justru mengeliminasi umat manusia dari muka bumi dan mendirikan tata dunia mereka sendiri. Gambaran kemanusiaan yang sirna di bawah gelombang totalitarianisme fantastis dalam karya ‘apek ini membayang bagai sebuah mimpi buruk.

Namun, yang membuat novel Kafka dan Ha’ek abadi hingga kini sesungguhnya bukanlah gambaran mereka tentang sebuah mesin totalitarian seperti halnya mimpi buruk ‘apek, melainkan penemuan atas karakter dua Joseph (Joseph K dalam novel Kafka dan Joseph Schweik dalam novel Ha’ek) yang menjadi personifikasi dua reaksi dasar manusia terhadap mesin totalitarian itu.

Joseph K yang tiba-tiba saja diseret ke pengadilan tanpa tahu apa kesalahannya berkeras ingin memahami pengadilan itu dan sebab-musabab mengapa ia diseret ke dalamnya untuk akhirnya dihukum mati. Ia ingin mencari makna dalam sebuah dunia tanpa makna dan untuk upayanya ini ia harus kehilangan nyawa.

Sementara itu, Joseph Schweik memilih menanggapi segala represi totalitarian yang dialaminya sebagai seorang militer dengan lelucon, rela menjadi gila demi mempertahankan kewarasannya dalam sebuah dunia yang absurd. Ia ikut bersorak, berbaris, meneriakkan slogan mereka, tetapi karena ia sama sekali tak menganggap semua itu serius, ia membuat semuanya menjadi sekadar guyonan belaka. Schweik berhasil bertahan hidup dalam sebuah dunia tanpa makna karena, tak seperti Joseph K, ia menolak mencari makna apa pun di dalamnya.

Bagi Kafka, dunia merupakan alam semesta yang telah tertata menurut aturan-aturan tertentu, bukan hanya sebuah fenomena di antara sekian banyak fenomena sosial. Bagi Ha’ek, dunia adalah sebuah lelucon besar. Namun, di sinilah letak kemiripan antara Kafka dan Ha?ek. Sama halnya dengan institusi pengadilan dalam karya Kafka, para tentara dalam novel Ha?ek hanyalah sebuah institusi birokratis.

Birokrat-birokrat militer Ha’ek adalah orang-orang bodoh. Kesombongan dan logika absurd birokrat-birokrat Kafka pun sama saja. Dalam karya Kafka, kebodohan dikemas dalam lapisan-lapisan misteri dan mengambil bentuk perumpamaan metafisis. Terjadilah intimidasi. Joseph K berusaha keras memberi makna bagi tindakannya yang tak dapat dipahami karena sangat mengerikan apabila seseorang harus dihukum mati tanpa kesalahan apa pun dan menjadi martir dalam kesia-siaan. Meskipun tidak bersalah, Kafka percaya bahwa Joseph K bersalah dan terus berusaha mencari-cari kesalahan itu. Pada bagian akhir novel itu, ia malah melindungi dua eksekutornya dari kejaran polisi. Bahkan saat kematian hampir menjemputnya, ia masih menyalahkan dirinya sendiri karena tidak kuasa menikamkan pisau ke dadanya sendiri agar bisa membebaskan kedua eksekutor itu dari pekerjaan kotornya.

Berbeda dengan Joseph K, Schweik mencoba untuk meniru dunia sekitarnya dengan gaya yang benar-benar sistematis, sehingga tak seorang pun tahu apakah ia benar-benar gila atau tidak. Ia mengadaptasi aturan-aturan militer dengan kesenangan tersendiri. Ia melakukannya bukan karena ada makna di dalamnya, melainkan justru karena ia tak dapat melihat makna apa pun. Schweik menertawakan dirinya sendiri, menertawakan orang lain dan mengubah dunia menjadi sebuah lelucon yang dahsyat.

Kafka dan Ha’ek menunjukkan pada kita bahwa imajinasi dan realitas sesungguhnya ada pada batas yang baur. Hanya kita yang pernah mengalami dunia modern ciptaan kaum totaliter saja yang bisa memahami kedua sikap ini begitu nyata, seperti yang pernah kita alami puluhan tahun dalam cengkeraman rezim Orde Baru yang berwatak birokratis dan militeristis sekaligus.

Sebuah karya sastra adalah dunia tak bertepi di mana yang real tampak fantastis dan yang fantastis menyingkap realitas empirik yang terkadang absen dalam kesadaran kita sebagai “makhluk rasional.”
***

*) Penulis adalah cerpenis dan esais, buku terakhirnya adalah kumpulan cerpen Insomnia (2004).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *