Tentang Perempuan

Benny Arnas*
http://www.jawapos.com/

dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan

ENAM belas kilometer. Jauh? Tergantung. Dan menjadi sangat jauh ketika ditempuh hanya dengan mengendarai kendaraan roda dua.

Ah, bagi sepeda motor, jarak itu tak terlalu jauh! Kecuali speedo-meternya selalu bergoyang pada angka 30-40.

O, bukan. Bukan sepeda motor! Ini sepeda. Sepeda tua jangkung dengan stang yang meleot minta dipegang. Kereta unta. Demikian penduduk Bukit Batu biasa menyebut sepeda itu.

O, tidak. Tak perlu berlebihan dalam menggambar keadaan. Laki-laki tukang ladang biasa berkereta unta sejauh itu. Menjual gabah, getah para (karet), kopi, atau jenawan-nangu, ke pasar kecamatan di Padang Ulak Tanding. Biasa.

Bagaimana kalau yang termaktub dalam cerita ini adalah seorang perempuan mandul? Mak Atut. Usianya enam puluh lima tahun.

Jadi?

Ya. Ia yang memegangi kedua stang kereta unta itu. Ia yang berkrang-kring bila orang (atau orang-orang) berjalan agak ke tengah di jalan kampung yang tak lebar itu. Ia yang biasa mengikatkan kayu-kayu kering di boncengannya untuk dibawa ke rumah Haji Samin, saban Ahad. Kabar ini tak singup. Halal untuk disimak dan dipercaya. Mak Atutlah yang bersongkok hijau itu, yang berkain lasem bunga tapakdarah, yang berbaju-kurung cokelat-muda –kata orang warna baju itu putih pada mulanya–, yang berterompah jepit Jepang… dan ini buah-ceritanya: Ya, ia yang ke pasar kecamatan. Mengambil uang getah para.

Suaminya?

Oh terlupa dikisahkan. Wak Jasim baru meninggal seminggu lalu. Diseruduk kijang ketika motong -menyadap– para di utara kampung. Itu jua yang jadi hulu kemarahan orang-orang Bukit Batu hingga mengempesi ban truk para pemburu yang masuk rimba, yang diparkirkan di tepian dangau. O, ini bukan tentang orang kampung yang tak ramah pada pemburu. Tapi lagak merekalah yang memanggang urat-leher. Bila bersua dengan pemotong, tiada bersapa atau menyabit senyum. Mereka jua tak bertenggang dengan isi ladang. Padi yang baru menyembul, kopi yang dijemur-hampar di antara tunggul-tunggul, rambai dan kam yang dijumbai di ranting-ranting rendah batang kopi, diterabas saja. Tak panjang pikiran; bila semua bukan hanya urusan tanam, hampar, dan gelantung, semata. Itu perkara rupiah. Dapur yang berasap. Mungkin beberapa tentang sekolah yang tak pernah tak berbayar. Ya, kematian Wak Jasim oleh salih-silang sunting Minang si kijang, mahfumlah dicerap sebagai penemuan alibi yang maha untuk mengempas orang-orang datangan itu.

Hanya mengempesi bankah?

Ya, hanya itu. Namun menjadi tak ”hanya” bila diketahui bahwa ban serep telah dibuang penduduk ke sungai, dan sebilah mandau untuk menetak tulang sapilah yang menggober karet gembung-bundar itu. Entah, mengempesi atau membocori atau mengoyak… atau ada kata lain untuk mengatakan laku itu. Yang sahih adalah truk hanya mengonggok di tempat. Tak dapat berjalan sampai bergilirnya satu Jumat.

***

KINI, tentulah waktu terus baru. Macam-macam hal menyeruak di luar ramalan. Termasuk perihal Mak Atut yang akan mengambil sendiri uang getah para-nya ke pasar kecamatan. Tapi begitulah. Ketentuan Tuhan sudah jatuh. Banyak yang menyarankan Mak Atut naik ojek saja, bahkan beberapa menawarkan diri untuk menggantikan perempuan itu mengambilkannya.

”Ini bukan saat yang makbul untuk bergurau, Balam! Nak berapa rupiah lagi akan Mak bawa pulang bila menyewa ojek!”

”Macam tak tahu perangai Toke Migan saja kau, Mus!”

”Memangnya ada hikayatnya suamiku kau gantikan dulu, Mirul?”

”Macam mana bila kau tak digubris Tukang Dacing? Nak kaususul balik aku ke Bukit Batu ni, Jung?”

Pengambilan uang getah para adalah perkara benang-kusut. Toke –pengumpul besar di kampung– hanya membawa getah para yang sudah ditandai berdasarkan nama pemiliknya, ke pasar kecamatan. Lalu menyerahkannya ke Tukang Dacing; tukang timbang. Setiap kepemilikan getah para, toke mendapatkan bagian uang penjualan.

Tak usah menyuat tanya perihal jual-menjual itu. Getah para tak dapat dijual dari per orangan. Tukang Dacing hanya mau menerima getah para dalam timbangan yang sekaligus banyak. Demikian yang dikabarkan Toke Migan suatu waktu. Orang-orang kampung menduga itu hanya muslihat toke itu. Pun, ketika ditanyakan langsung ke Tukang Dacing, jawaban yang mereka dapati tak bersibelakang; tetap, orang-orang kampung tak tergeragap percaya. Hingga kini, mereka masih menanam syak. Tukang Dacing dan Toke Migan sudah bersepakat sebelumnya. Mengunci masing-masing rahasia.

***

MAK Atut memasang ancang-ancang. Mengambil napas dalam satu tarikan yang panjang. Menaikkan pantatnya ke dudukan dalam sekali injit. Ups! Sudah lurus dipegangnya stang. Pelan-pelan mulai dikayuhnya pedal-besi. Melajulah ia. Menyusur jalan tanah di Duha yang mulai tinggi. Menyapa orang-orang yang tertangkap pandang. Dengan sumringah-raya pula ia menyahut tanya yang bagai diulang-ulang oleh orang yang tak sama.

”Ke Padang Ulak Tanding!”

”Mengambil uang getah para!”

”Sekalian beli kain panjang!”

”Iya. Mak akan belikan cucu kau kue talam!”

Mak Atut memang bukan perempuan kebanyakan. Ia tangguh tak kepalang. Semasa Wak Jasim masih hidup, ia terbiasa melukis-lengkung batang para. Bila suaminya itu sakit, ia juga kerap menjalari rimba ketika musim hujan demi memunguti jenawan nangu –cendawan keriting– di tunggul-tunggul batang setengah mati… dan rupa-rupa pekerjaan lain yang menguras banyak keringat. Dapatlah dikatakan, hanya mengambil uang getah para ke pasar kecamatanlah yang belum dijabaninya.

Maka, hari itu Mak Atut menggelinding ban keretanya dengan sangat lunas. Melewati Beringin, Kampung Baru, beberapa kalangan Rebo. Tak kurang empat jeramba -jembatan– dilaluinya, jalanan landai-menikung dipapasnya, teriknya panggangan matahari tak digubrisnya, bahkan beberapa kali sepeda motor dan truk yang melintas-terabas dapat dihindarinya. Tabik! Tepat azan menandai zuhur, Mak Atut meminggirkan kereta untanya di semacam pos yang dibangun seadanya di tengah tanah yang agak lapang.

Mak Atut sigap menambah barisan yang sudah panjang. Antrean ke lima puluh lima. Rupa-rupa orang ia temui. Mereka bertukar sapa dan kabar. Dari kampung semua rupanya. Belumai, Beringin, Lebak, banyak jua orang sekampungnya….

”Astaghfirullah!” Mak Atut terperanjat ketika gilirannya tiba. Wajah Tukang Dacing itu pernah dijumpainya. Oh, semoga saja dia sudah melupakannya….

”Mak Atut. Setengah pikul!”

”Mak Atut? Setengah pikul?” Tukang Dacing mendongak.

”Ya. Lima puluh kilo.” Mak Atut menunduk.

”Bukan. Bukan timbangan getah para. Baru kali ini nama Mak kudengar. Orang kampung mana? Siapa nama tokenya?”

”Bukit Batu. Toke…”

”Migan?!” pungkas Tukang Dacing. Matanya membelalak.

Mak Atut masih menunduk.

”Mak tentu masih ingat dengan mukaku, hah? Tak elok rasanya menginap di truk hingga hampir seminggu di tepi rimba Bukit Batu tu!”

Mak Atut meneguk liur. Orang-orang yang masih berbaris di belakang mulai memerhatikan mereka. Mereka sibuk berbisik. Bertanya sekaligus menyimpul hal yang tertangkap dari air muka Tukang Dacing yang tak biasanya itu.

”Ini kebijakan kami. Sudi tak sudi terserah! Selain disisihkan sepersepuluh untuk toke kalian, getah para orang-orang Bukit Batu juga kami potong seribu. Lima ribu per kilo saja yang akan kalian terima!”

Orang-orang di barisan belakang makin riuh. Tentulah penduduk Bukit Batu yang paling masai. Yang terang, tak ada guna sesal dimuntahkan. Bubur tak mungkin berbalik menjadi padi! Esok-esok berhitunglah sebelum mengazab orang asing yang berburu kijang….

Mak Atut pasrah saja.

”Benar Mak orang baru di Bukit Batu?”

Mak Atut mengangkat kepalanya sedikit.

”Maksudku, ya seperti tadi. Baru kali ini kudengar nama Mak…”

”Ooo…” Mak Atut baru tahu duduk perkaranya. ”Suami Mak yang biasanya ke sini. Sudah almarhum dia. Jasim namanya.”

”Apa?!!!!”

Orang-orang sedikit terkejut dengan teriakan Tukang Dacing.

”Jadi suami kau yang mati ditanduk kijang itu, Mak?”

Mak Atut mengangguk pelan. Masih tak dapat ia tangkap maksud keterkejutan Tukang Dacing. Hendak berbelasungkawakah ia?

”Suami kaulah yang menjadi musabab raibnya ban truk kami, Mak!”

Barisan mulai kacau. Riuh. Makin lamalah mereka bertegak. Menambah litak betis kami saja kau, Mak!

Pahamlah Mak Atut. Betapa dendam itu belum padam. O, takkah Tukang Dacing berpikir betapa dendamnya tiadalah bernilai bila dihadapkan dengan nyawa suami perempuan tua itu?!

Dipotong lagilah uang yang Mak Atut terima. Dan Mak Atut tak hendak terlampau disebelahmatakan. Menuntutlah ia. Bersikeras meminta uang yang sejatinya sudah dipotong sebelumnya. Tiada ia pedulikan orang-orang yang memintanya mengalah. Selain karena tak mungkin terlawan si Tukang Dacing itu, mereka juga sudah lelah berbaris menanti giliran. Mak Atut berkoar-bingar. Kesetanan. Menyumpah-nyumpah membawa nama Muhammad. Dan… ternyata bertuahlah apa yang dilakukannya. Tukang Dacing patah taji.

”Dua ratus lima puluh ribu. Makanlah uang tu, Mak!!!”

***

MAK Atut gegas menuju masjid terdekat. Menunaikan salat zuhur yang hampir tergelincir. O, terbayang olehnya, paling tidak magrib ia akan tiba di Bukit Batu. Kembali ia kayuh kereta untanya. Tak seperti pagi tadi, kini patah-patah kakinya menderik pedal. Baru dua jeramba yang dilalui, jalanan landai-menikung terengah-engah dipapasnya. Tusukan angin petang tak digubrisnya, beberapa kali sepeda motor dan truk yang melintas-terabas tertatih-tatih dihindarinya…. Hingga, koyaklah ban kereta untanya di simpang Kampung Baru. Delapan kilometer dari kampungnya, dan delapan kilometer dari kecamatan. Ah, mungkin Tuhan tengah memersilahkanya menunaikan asar yang hampir disalip magrib.

Bakda salat, ketika Mak Atut membayar upah ganti ban, terkesiaplah ia. Bukan, bukan karena terlupa membeli kain panjangnya atau kue talam titipan Bi Salma, atau…. Bukan! Tapi Tukang Dacing itu memberinya lebih dari dua ratus lima puluh ribu!

Khilafkah laki-laki itu? Atau ia anggap itu tebusan untuk kepergian suamiku?! Tak nak kumakan uang jadah ini!

Mak Atut memasang ancang-ancang. Mengambil napas dalam satu tarikan yang panjang. Menaikkan pantatnya ke dudukan dalam sekali injit. Ups! Sudah lurus dipegangnya stang. Pelan-pelan mulai dikayuhnya pedal-besi. Mak Atut balik haluan. Kembali ke kecamatan. Menyusur jalan tanah di petang yang masih meranjak, mulai kelam, kian buram…. ***

Lubuklinggau, 19 September s/d 08 Oktober 2009

Untuk Neknoku Tersayang

*) Lahir di Ulak Surung, perkampungan di utara Lubuklinggau, Sumatera Selatan, 8 Mei, 26 tahun yang lalu. Cerpennya terbit di berbagai media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *