Laskar Pemimpi dan Rasa Lega Itu

Soeparli Djoematmadji*
http://www.jawapos.com/

Lega. Itu yang saya rasakan setelah menonton Laskar Pelangi tahun lalu. Tidak umum, mungkin. Nonton film kok lega. Tapi, sungguh, itulah yang saya rasakan setelah menonton film yang disebut-sebut sebagai salah satu karya terbaik sineas dalam negeri tersebut.

Saya lega karena film yang oleh beberapa media massa ditempeli predikat wajib tonton itu akhirnya berakhir. Saya lega karena usaha saya untuk tidak meninggalkan bioskop sebelum film bubar akhirnya selesai.

Bisa jadi predikat wajib tonton tersebut telah membuat saya berharap kelewat tinggi saat menonton film yang diangkat dari novel laris Andrea Hirata itu. Mungkin, karena itu, saya jadi harus berjuang keras melawan capek yang menghajar ketika adegan demi adegan yang muncul di layar terasa bergulir demikian lambat untuk film yang begitu panjang.

Saya capek karena merasa upaya yang harus saya keluarkan untuk bertahan di bioskop jauh lebih besar daripada upaya Bu Muslimah menjadikan siswa-siswanya, yang cuma sedikit itu, pintar. Sepanjang film, saya melihat Bu Muslimah hanya melakukan dua hal yang menonjol. Yakni, menolak tawaran mengajar di SD PN Timah dan menemani siswa-siswanya ke pantai.

Saya capek. Sebab, saya merasa perjuangan saya untuk tidak beranjak dari tempat duduk jauh lebih keras daripada perjuangan Ikal dan kawan-kawan untuk bisa tetap sekolah, memenangi karnaval, dan menjuarai lomba cerdas cermat. Lihat saja saat Ikal dkk ikut lomba karnaval. Tidak ada satu adegan pun yang menggambarkan mereka berlatih. Toh, begitu tampil, mereka digambarkan memukau penonton dan menang.

Dalam pandangan saya, tragis bila sekelompok siswa digambarkan sukses jadi juara tanpa sedikit pun berusaha. Itu bikin saya capek. Jadi, saya lega ketika film tersebut akhirnya selesai.

Kini, saya kembali merasakan capek itu setelah menonton Sang Pemimpi. Tidak secapek nonton Laskar Pelangi memang. Tapi, tetap saja, capek. Padahal, saya tidak lagi berharap banyak. Meski film itu diklaim tiga kali lebih hebat daripada Laskar Pelangi, saya memilih tidak lagi merajut harapan apa pun saat berangkat ke bioskop.

Dengan gambaran begitu, Anda pasti menganggap saya menilai Sang Pemimpi dan Laskar Pelangi jelek. Maaf, Anda salah! Saya justru merasa dua film itu mengesankan. Gambar-gambarnya eksotis, ceritanya menginspirasi, akting para pemain umumnya menawan (kecuali, saya tidak bisa menikmati akting Ikal dewasa di Sang Pemimpi).

Sungguh, di bagian demi bagian, saya menilai pencapaian dua film itu mengesankan. Bahkan, saya akan setuju saja ketika ada yang bilang film tersebut luar biasa. Tapi, secara keseluruhan, sebagai penonton, saya merasa dua film itu bikin capek. Bergulir lambat, monoton, dan datar.

Padahal, dengan latar masa remaja, Sang Pemimpi tidak hanya berkutat pada urusan sekolah dan main seperti Laskar Pelangi. Dalam Sang Pemimpi ada hubungan anak-orang tua, sekolah (SMA), bekerja sambilan untuk mengejar mimpi, cinta, juga kenakalan remaja.

Saya pun merasakan klimaks-klimaks kecil sebagai konsekuensi beragam tema tersebut. Namun, bahkan dengan klimaks kecil yang bertebaran di sepanjang film itu, saya tetap merasakan kesan datar.

Mungkin, kesan tersebut muncul karena alur film itu secara umum lamban. Atau, bisa jadi kesan datar itu merupakan akibat penggambaran yang “kelewat jujur”. Gambaran tiga sekawan, Ikal, Arai, dan Jimbron, nyambi jadi kuli angkat ikan, misalnya, praktis sama dengan yang biasa kita lihat di TPI atau pasar ikan. Tak ada sensasi kejutan yang mampu membongkar kesan datar yang telanjur membelit.

Gambaran Ikal, Arai, dan Jimbron nyambi jadi calo tiket bemo bahkan terkesan seadanya. Yang agak memenuhi sensasi kejutan itu, barangkali, cuma gambaran upaya mereka menembus penjaga tiket bioskop untuk menonton Gairah Metropolitan.

Bahkan, pertarungan terakhir Arai untuk merebut cinta Zakiah Nurmala akhirnya terhenti pada kesan datar-datar saja. Ketika Bang Zaitun (Jay Widjayanto), pemimpin orkes Melayu keliling yang mampir ke Manggar, melontarkan nasihat bahwa wanita akan mudah jatuh dalam pelukan pemain gitar, Arai langsung minta diajari main gitar.

Tapi, seolah mengulang Laskar Pelangi, tidak ada gambaran kapan dan bagaimana Arai belajar. Tiba-tiba saja dia piawai bergitar, lalu mendendangkan suara hati di bawah jendela kamar sang gadis pujaan. Romantis, mungkin. Namun, karena semua terasa serba-simsalabim, “perang” besar itu akhirnya hanya berakhir dengan ucapan Arai, “Zakiah akan mengenang malam ini seumur hidup.” Sebagai penonton, saya tidak merasakan klimaks tersebut. Semua terasa datar.

Saya lebih menikmati cara Sang Pemimpi menggambarkan tekad Jimbron untuk mengembangkan senyum di bibir Laksmi, gadis pemurung pekerja pabrik cincau yang menggetarkan hatinya. Dengan melibatkan kuda Australia yang “dipinjam” Arai, akhir perjalanan cinta si tambun terasa lebih mengesankan.

Lalu, narasi itu. Narasi pembuka yang menjelaskan betapa Ikal telah lulus sarjana ekonomi UI dan terdampar sebagai petugas sortir kantor pos, padahal dia benci tukang pos. Narasi yang memperkenalkan siapa itu Arai, sepupu yang menjadi sahabat pengganti Lintang. Narasi yang menjelaskan siapa pula Jimbron, bocah tambun yang jadi gagap sejak keluarganya tertimpa bencana. Narasi yang tak kunjung berhenti sehingga justru merampas kenikmatan yang saya dapat dari adegan-adegan di layar. Narasi itu pula yang menjadikan upaya Arai mengejar Zakiah terasa hambar. Pandangan mata Arai saat melihat Zakiah, ketekunannya membuntuti si gadis sepulang sekolah, maupun reaksi menolak yang ditunjukkan si gadis mestinya bisa menancapkan kesan romantis khas remaja. Tapi, kesan itu seolah terhalang tembok tebal bernama narasi yang menyatakan, “Arai yang tak kenal lelah mengejar cinta Zakiah.”

Lalu, adegan heboh di SMA Manggar. Rasanya, tidak akan sulit menemukan penjelasan yang bisa membuat adegan tersebut masuk akal andai penonton dibebaskan memaknai sendiri.

Tapi, tidak. Adegan tersebut disertai narasi yang menyebut Arai mengacau upacara sekolah. Saya jadi berpikir, kekacauan apa sih yang dilakukan Arai sampai-sampai kepala sekolah merasa perlu mengejar sendiri dua siswanya itu, tidak hanya saat masih berada di lingkungan sekolah, tapi hingga blusukan ke pasar.

Lalu, adegan saat ayah Ikal menerima rapor. Sungguh, saya menikmati adegan ketika sosok yang diperankan Mathias Muchus itu menghampiri Ikal, Arai, dan Jimbron, bergantian memegang bahu mereka, lalu bilang, “Assalamualaikum!”. Setelah itu, dia pergi. Sungguh, saya merasa adegan tersebut cantik. Meski hanya satu kata, saya merasa Mathias Muchus telah menujukkan kelasnya. Saya juga merasa adegan tersebut indah tanpa harus berlebihan. Saya menikmatinya.

Tapi, tiba-tiba terdengar narasi itu, “Hanya kata itu. Hanya senyum itu. Tapi, bagiku, dia tetap ayah juara satu.” Seketika, kenikmatan yang saya rasakan seolah direnggut paksa, jatuh terempas, dan hancur berantakan.

Lalu, saya juga menikmati adegan ketika Ikal, yang baru saja berdamai dengan dua temannya setelah ngambek gara-gara dihukum membersihkan WC sekolah yang superbau, bersama-sama terjun ke laut. Ikal mentas lebih dulu. Arai menyusul, merangkul pundak Ikal sambil berkata, “… tanpa mimpi, orang-orang seperti kita akan mati…” Cara berdamai yang sederhana tapi indah dilatari pantai yang eksotis pula. Saya menikmati itu. Tapi, lagi-lagi, mendadak muncul narasi itu, “Saya beruntung memiliki kawan-kawan yang setia …” Lagi-lagi pula, saya merasa kenikmatan saya terenggut.

Kenapa sih hal-hal yang begitu jelas masih harus diperjelas dengan narasi? Apakah Riri Riza, sutradara film itu, tidak percaya bahwa penonton mampu menangkap adegan demi adegan yang ditampilkan tanpa salah tafsir? Alasan itu pulakah yang membuatnya memilih menampilkan narasi di sepanjang film?

Kalau benar itu alasannya, bukankah itu meremehkan daya tangkap penonton? Pula, apa salahnya sih kalau penonton menafsirkan sebagian adegan tidak seperti yang diharapkan sutradara? Toh, rasanya tidak ada adegan yang sedemikian pentingnya sampai-sampai penonton tidak boleh salah menafsirkan. Itu toh bukan pesan religius yang bisa mengubah pahala menjadi dosa jika salah tafsir sedikit saja. (*)

*) Wartawan Jawa Pos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *