Opera Terang Bulan

Yos Rizal, Ahmad Rafiq
http://majalah.tempointeraktif.com/

Lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku, dituding menjiplak lagu Terang Bulan. Benarkah?

Soebroto melentingkan ingatannya ke masa yang jauh. Kakek 74 tahun itu menunjuk sebuah foto kusam ketika Sjaiful Bachri, sahabatnya, bertemu Presiden Soekarno. Sjaiful adalah pemimpin grup Orkes Studio Djakarta. Soebroto peniup saksofon kelompok itu.

Dalam pertemuan itu Soebroto mendengar Bung Karno berucap, ?Ful, berikan saja lagu Terang Bulan milikmu itu kepada Malaya. Mereka belum mempunyai lagu kebangsaan.? Sjaiful, kata Soebroto, sama sekali tak menjawab. Ia tahu kemudian, lagu keroncong ciptaan sahabatnya itu dipakai sebagai lagu kebangsaan Malaysia. Syairnya berubah. Judulnya berganti Negaraku.

Cerita Soebroto itu diungkapkan di kantor Lokananta, Solo, awal September lalu. Ia menemani Aden Bachri, anak Sjaiful, mengambil kopi rekaman Terang Bulan yang pernah dimainkan Orkes Studio Djakarta di Lokananta. Di kantor inilah Aden membawa foto-foto pentas sang ayah, berikut foto pertemuan Sjaiful-Soekarno itu.

Tahun berapa rekaman itu? Kepala Lokananta Ruktiningsih menyebut: 1965. Adapun Soebroto yang memeras ingatannya memperkirakan pertemuan itu berlangsung pada 1959-1960. Bukankah Negaraku dikumandangkan pertama kali pada hari kemerdekaan Malaysia, 31 Agustus 1957, dua tahun sebelum pertemuan Sjaiful-Soe karno? Soebroto dan Aden masih meya kini lagu itu ciptaan Sjaiful (1924-1976). Aden bahkan menyebut Terang Bulan digubah sekitar 1942. ?Saya tak tahu kapan persisnya, tapi saya sangat yakin lagu itu buatan Ayah,? katanya.

Perdebatan siapa sesungguhnya pencipta Terang Bulan yang melodinya amat mirip Negaraku kembali meruyak berbarengan dengan ribut-ribut tari pendet. Sjaiful dikenal sebagai pencipta lagu sejak muda?Soebroto menyebut lagu Sampul Surat dan Semalam di Malaysia. Ia bergabung dalam trio Ismail Marzuki-Iskandar-Sjaiful Bachri pada 1950-1961. Dan beberapa pekan sebelum Soekarno mencanangkan ?Ga nyang Malaysia? pada 1962, Sjaiful hijrah ke Malaysia. Jabatan terakhirnya:Direktur Musik di Perusahaan Film Negara Malaysia.

Dengan jejak itu, boleh jadi Sjaiful memang mencipta Terang Bulan. Tapi Aden yang mengaku sudah sering menyanyikannya sejak kecil sama sekali tak punya bukti otentik selain foto-foto itu dan partitur Terang Bulan.

Sebelum direkam Orkes Studio Djakarta, Terang Bulan sebenarnya pernah pula direkam kelompok indo-rock Rudy van Dalm & The Royal Rhythmics dari Nijmegen, Belanda, pada 1963. Sebelumnya lagi, lagu itu direkam secara kor pada 1956 di RRI Jakarta.

Namun, Agustus lalu, koran-koran di Malaysia memberitakan temuan baru: sebuah lagu mirip Negaraku ternyata pernah dinyanyikan Felix Mendelssohn & His Hawaiian Serenaders dalam album Paradise Isle, 1947. Lagu berirama Hawaiian itu direkam dalam pi ringan hitam. Judulnya Mamula Moon.

Dengan temuan itu apakah dengan demikian Negaraku (juga mungkin Terang Bulan) menjiplak Mamula Moon? Sejarah munculnya Negaraku rupanya juga panjang. Situs resmi Kerajaan Malaysia mengungkap lagu kebangsaan itu dipilih setelah Ketua Menteri merangkap Menteri Dalam Negeri Tunku Abdul Rahman tak puas atas hasil kompetisi lagu kebangsaan pada 1956?sebanyak 514 lagu turut serta. Abdul Rahman pun meminta negara bagian di seluruh Malaysia memperdengarkan lagu kebesaran mereka. Pilihan jatuh pada lagu Perak, Allah Lanjutkan Usia Sultan.

Lagu ini, menurut Tuan Haji Mubin Sheppard yang pernah memegang jawatan Pengarah Arkib Negara (Lembaga Arsip), memiliki dua versi sejarah. Versi pertama dituturkan dua anak Sultan Abdullah, Sultan Perak yang pernah dibuang di Mahe, Kepulauan Seychelles, dekat Madagaskar. Di negeri buangan itu, lagu-lagu rakyat Prancis sangat populer. La Rosalie lagu ciptaan Pierre Jean de Beranger (1780-1857), termasuk yang dikenal.

Nah, ketika rombongan Sultan diundang Ratu Victoria Inggris pada awal 1901, mereka diminta menyanyikan lagu kebesaran. Tak ingin mendapat malu, Sultan pun meminta stafnya menirukan lagu yang ia siulkan untuk kemudian dimainkan pengiring musik tuan rumah. Lagu itu diberi judul Allah Lanjutkan Usia Sultan. Melodinya mirip lagu La Rosalie.

Versi kedua, lagu ini diperkenalkan Opera Bangsawan dari Indonesia yang sedang membuat pertunjukan di Singapura sekitar 1920. Dalam tempo yang singkat lagu ini populer di Singapura dan diberi nama Terang Bulan.

Bernard Dorleans, penulis Orang Indonesia dan Orang Prancis (dari Abad XVI sampai Abad XX), mengungkapkan sejak 1830 banyak opera Prancis yang main di Schouwburg (kini Gedung Kesenian Jakarta). Opera-opera yang banyak memainkan lagu rakyat Prancis ini sedikit-banyak memberi pengaruh pada tumbuhnya kelompok opera di Indonesia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Jika merunut pada sejarah persilangan pengaruh kebudayaan itu, jadi siapa sesungguhnya yang menyontek siapa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *