Puisi-Puisi Evi Sefiani

Sajak Kerinduan

aku melihat wajahmu berserakan
pada aspal, trotoar, sampai spanduk juga reklame
yang menjadikan kota penuh dengannya

aku melihat wajahmu berjatuhan
dalam semangkuk sarapan
untuk pencernaan yang kosong sejak kemarin pagi

aku melihat wajahmu tercecer di ranjang
usai menghisap mimpi-mimpi sebuah malam sepi
yang menjadikan rindu bersemayam dalam selimutku

: wajahmu menari di pelupuk mataku

Sudirman, 2008

Solitude

bagaimanakah kumaknai kemarau?
sedang jajaran cassia telah dihisapnya
dengan segala kemudahan

daun terakhir di tubuh kering pun dijatuhkan
angin panas menjadi penguasa
negeri asing (kemarau selalu
membangun kerajaan di tanah tandus
ketika rumputrumput merelakan dirinya layu)

maka, kuterima tanah ini menjadi
lahan kesedihan yang ditumbuhi
benih kesunyian abadi
sebab air mata pun telah pasrah diterbangkan
debu semuanya

2009

Suara di Tepi Kali

di tepi kali, aku menemukanmu
pada riak yang memanggilku sayup
ada desah nafasmu bergetar
dan menjerat kerinduan?terus tumbuh
seperti pohonpohon mahoni dirimbun alisku.

di balik pohon ini,
sekali lagi kudengar suaramu
menggeletar perpisahan
yang kau larung menuju sebuah muara?aku
memastikan kau pulang dan meninggalkanku

memisahkan larik kesedihan dalam sajak?air mata.
sekali lagi alur itu juga turut mengajak ikanikan
berenang menjauh dari tepi ini?tempat aku menyaksikan
sunyi dan rindu membatu di arus yang tak berhenti
melagukan namamu.

2009

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *