Sastra Tradisi Sekadar Tempelan Sastra Modern?

Hazwan Iskandar Jaya
suarakarya-online.com

Masih patutkah membenturkan dua arus kutub sastra sastra tradisi (lisan/ lokal) dengan sastra modern KRG kontemporer KRG, ketika ruang kreatif makin terbuka? Mengapa pula sastra tradisi (lisan/lokal) makin tak bergeming dari keterpakuannya (baca: stagnan), ketika sastra modern yang melaju kencang?

Menyuguhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, tentu tidaklah gampang. Namun paling tidak, Jung Fondation dan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung mendiskusikannya dalam sebuah forum Diskusi Ragam Sastra Lampung, di Chriza Art Gallery Bandar Lampung, Nopember silam.

Sebuah upaya memberi “pencerahan” kepada 50 peserta dari berbagai siswa SMA/SMK se Bandar Lampung. Dengan harapan peserta dapat mengenal lebih dekat apa dan bagaimana sastra tradisi yang telah lama berkembang di Lampung, dan bagaimana pula proses perkembangan kreativitas perjalanan sastra modern di Lampung.

Maka tak heran bila para sastrawan Lampung dalam dua arus kutub sastra dipertemukan. Ada Havisi Hasan, Azhari Kadir dan Suntan Purnama mewakili kutub sastra tradisi (lisan/lokal) Lampung, sementara Isbedy Stiawan ZS (Paus Sastra Lampung), Oyos Saroso HN (Penyair/Cerpenis) dan AM Zulqarnain (Penyair Lampung) merupakan keterwakilan kutub sastra Indonesia modern.

Pertemuan Dua Arus

Dalam diskusi selama dua hari tersebut, nampak kedua arus sastra itu sengaja hendak dipersandingkan. Christian Heru Cahyo Saputro, Direktur Eksekutif Jung Fondation menegaskan bahwa tradisi sastra lisan dan sastra Indonesia modern (kontemporer) sebagai hasil kreatif para sastrawan merupakan dua kekuatan karya sastra yang saling melengkapi. Kerapkali, muatan lokal mewarnai karya sastra Indonesia modern, sehingga nilai-nilai tradisi lokal cukup memberi unsur kematangan sebuah karya sastra.

Toh, demikian, nilai-nilai lokal yang diusung dalam bentuk sastra tradisi lisan agaknya kurang memperoleh tempat yang layak dalam khazanah kesusastraan di Lampung.

Menurut Havisi Hasan, tidak saja terkendala oleh minat yang kurang dari generasi muda Lampung, akan tetapi juga terkendala oleh penguasaan bahasa. Bayangkan saja! Diantara 50-an peserta yang mengikuti diskusi Ragam Sastra Lampung itu saja, hanya 1 peserta yang “mengaku” memang benar-benar menguasai bahasa Daerah Lampung. Nyaris serupa dengan kendala yang dihadapi di beberapa daerah lain.

Bagaimana mungkin dapat memahami isi dan ruh sastra tradisi lisan Lampung yang sarat dengan makna, jenis dan bentuk yang beragam, jika tak ada penguasaan bahasa. Bagaimana mampu memahami ragam sastra lisan Lampung, seperti dari Pubian Lampung Tengah dan Selatan yang terdapat jenis sastra tradisi lisan yang disebut dengan Pisaan, Pepancokh, Dadi, Babakh Bunyi Sukat dan Pantun Canggot misalnya.

Belum lagi ada jenis sastra Reringget dan Bebandung dari Marga Abung dan Manggala dan masih banyak lagi. Semua mempunyai kekhasan dan aroma adat istiadat yang kental. Menurut data Havisi Hasan, pakar budaya dan pengamat seni tradisi Lampung, terdapat kurang lebih 36 jenis sastra tradisi di Lampung.

Lantas bagaimana jadinya, bila sang apresian dan sastrawan tak memahami atas penguasaan gramatika bahasa daerah itu sendiri? Kendala penguasaan bahasa daerah, agaknya turut memberi pengaruh yang besar pada para sastrawan dalam menentukan pilihan berkarya.

Sebagaimana dikatakan Isbedy Stiawan ZS, para sastrawan Lampung lebih setia menekuni pilihan sastra modern kontemporer sebagai pilihan dalam berkreasi dan berkarya. Apalagi, mereka adalah secara “biologis” memang bukan berangkat dari suku asli Lampung. Tentu agak sulit untuk mengembangkan sastra tradisi lisan yang pernah ada.

Meski tak perlu dipertentangkan, dua arus kutub sastra ini memang saling komplementer. Pengusungan nilai-nilai lokal ini bisa kita tandai dengan adanya karya-karya sastra modern yang kerap bersentuhan dengan nilai tradisi setempat. Sebut saja karya Isbedy Stiawan ZS yang berjudul “Tiyuh”, yang diterjemahkan menjadi “Village” dalam sebuah antologi Asia.

Oleh karena itu, sastra tradisi lisan yang memang khas bermuatan karakteristik tradisionalnya, memberi sumbangan penting bagi pengembangan local genius dalam sastra modern.

Meski jika diamati lebih jujur, maka muatan nilai-nilai lokal kadang hanya dijadikan sekadar “tempelan” pada karya sastra modern. Sehingga, tidak tuntas ditampilkan secara utuh, sebagaimana karya-karya tradisi lisan yang telah lama berkembang. Meski hanya sebagai tempelan, pun sesungguhnya sudah cukup untuk memberi warna tersendiri.

Dengan demikian, perlu jangan tengah. Perlu goodwill semua pihak untuk mengembangkan dua arus kutub sastra yang akan terus menggeliat. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Jung Fondation dan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Bandarlampung. Barangkali perlu segera dimulai! ***

*) Sastrawan Yogyakarta .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *