J u l e h a

Weni Suryandari
http://www.suarakarya-online.com/

Sudah sepekan ini Julaeha – gadis dusun yang diangkat anak oleh mak Rosyidah – mendekam di balik jeruji besi. Tak tergambar kelelahan atau mimik sedih karena mendekam di sel kaku itu. Wajahnya bahkan terlihat dingin jika ada tamu, kerabat atau famili yang mengunjunginya. Ia tahu kesalahannya apa, dan sudah tahu resikonya. Tapi ia puas.

Ingatannya melayang pada peristiwa setengah tahun lalu, tepatnya bulan Juni. Ia sedang berjalan menyusuri pematang sawah menuju rumah Ijah, sahabatnya mengaji sejak kecil.

Dari seberang sana, ia melihat seorang lelaki berparas tampan, kulitnya putih bersih, dengan dagu dan pipi kehijauan sisa cukuran. Lelaki itu melambai padanya, dan memberi senyum sambil menganggukkan kepala. Dalam jarak 10 meter, ia dapat melihat jelas wajah lelaki itu. Sesaat jantung Juleha berloncatan.

Ia hampir tergelincir di pematang yang licin itu. Untung ia sanggup menguasai diri dan berjalan tegap tanpa menundukkan kepala. Rambutnya yang dikepang dua dengan poni yang meriapi dahinya tak menutupi kecantikan wajahnya. Lesung pipit dan mata bulat yang indah menawan hati setiap kumbang desa.

Begitulah, ia semakin sering melewati pematang sawah yang menuju rumah Ijah hanya untuk melihat pria tampan itu lagi. Belakangan baru ia ketahui bahwa lelaki itu bernama Sodikin. Pegawai koperasi yang sering mampir ke kantor KUD yang terletak di seberang jalan raya.

Kadang ia melihat Kang Ikin – begitu ia minta dipanggil – sedang mengobrol dengan seseorang bercaping di saung tengah sawah. Dari pakaian yang dikenakannya jelas Ikin lebih bersih dan terpelajar, sedang lelaki bercaping itu, mungkin petani penggarap sawah atau pemilik sawah.

Lama kelamaan pandangan mata tak cukup lagi buat keduanya, Kang Ikin mulai memberanikan diri mengantar Juleha ke rumah Ijah.

Kadang naik motor memutar jalan raya dan jalan setapak, kadang melewati pematang yang sama, dengan bertelanjang kaki. Semakin lama dikenalnya, Kang Ikin memiliki pesona tersendiri bagi Juleha yang tamatan Aliyah Negeri di dusun itu. Tak ada kumbang desa yang sanggup menawan hatinya. Kang Ikinlah yang sanggup memenuhi seluruh rongga kepalanya siang dan malam, bahkan dalam mimpi. Angan angan tentang masa depan segera dirajutnya.
“Juleha, aku mau ke rumahmu boleh?”
“Ah, Akang pake nanya segala, main saja ke rumah kenalan sama Emak saya.”
“Betul boleh? Akang pingin kenalan sama orang tuamu, Juleha.”
“Hayu, atuh Kang. Saya Cuma punya Emak, Bapak teh sudah lama meninggal.”
“Oh..begitu. Kira-kira ada yang marah nggak nanti?” pertanyaan basi, menggoda.
“Siapa yang akan marah?” Polos Juleha balik bertanya sambil mengernyitkan alis.

Sinar matahari makin menularkan cahaya emasnya pada gadis manis itu. Bulu-bulu tipis di atas bibirnya cukup menggemaskan Ikin. Makin kuat keinginannya untuk mempersunting Juleha.
“Kirain, Juleha sudah punya pacar?”

“Ah!! Akang. Siapa yang mau sama saya Kang? Orang kampung.” Dikibas-kibaskannya tangannya, seolah meyakinkan Ikin bahwa ia memang belum punya pacar.
“Baiklah kalau begitu Juleha. Besok malam Minggu Akang main, ya?”
“Baik Akang. Tapi habis Isya ya? Saya ngaji dulu di musholla.” Jawab Juleha mengangguk malu dan girang.

Malam minggu masih 3 hari lagi. Juleha sudah sibuk memikirkan pakaian yang akan dikenakannya dan suguhan yang akan disiapkannya. Pasti ia akan meminta bantuan Mak Rosyidah membikinkan kue bugisnya yang terkenal enak di kampong itu.

Lima menit lagi azan Isya tiba, lalu Juleha akan segera sholat berjamaah dan pulang. Ah, tak sabar ia selalu melirik jam dinding di tembok atas depan mimbar. Yusuf sudah bersiap hendak mengumandangkan azan. Segera dipasangnya mukena, agar tak ketinggalan dan mesti menyusul seperti teman-temannya yang masih sibuk bercanda. Ia segera pulang begitu doa selesai dipanjatkan. Setibanya di rumah, dilihatnya motor Sodikin sudah mematung di depan rumah Juleha. Ia masuk ke halaman dengan membawa hati yang berdegup kencang.
“Assalamualaikum.
Kang Ikin? Sudah datang?” Disambutnya wajah yang dirindunya dengan senyum sumringah.
“Maaakk…!
Kuenya mana?”
Setengah berteriak ia memanggil Emak sambil meletakkan mukena di kursi tengah ruang dalam. Emak keluar dari dapur.
“Ya, sabar! Emak lagi susun di piring.” Senyum ceria menghiasi wajah Emak dan Juleha.
“Cepat Mak. Minumnya mana?”

“Ini, sudah. Teh manis hangat, pake gula batu. Bawa sana!” seru Emak sambil menyodorkan baki. Juleha menyambut baki itu dan melangkah keluar dengan dada tegap. Ia berusaha mengatasi rasa gugupnya, merasa diapeli! Ini adalah saat pertama dalam hidupnya dikunjungi lelaki tampan pujaannya.
“Silakan Kang, diminum. Ini kue bugis khas buatan Emak. Sudah terkenal di kampong sini.
Sering dipesan tetangga kalau ada kendurian!”
“Wah, terima kasih Juleha. Akang merepotkan saja.” Sodikin segera merapikan duduknya.

Malam merambat pelan diselingi percakapan ringan yang penuh kehati-hatian. Perbedaan usia mereka memang cukup jauh. Mungkin 6 sampai 7 tahun. Sodikin cukup matang untuk menikah. Rasanya tak mungkin jika ia belum menikah.
“Juleha, Akang pulang dulu ya…” Ikin memecah lamunan Juleha.
“Eh, akang kok buru-buru?”
“Iya, nggak enak sama Emakmu. Sudah malam.”
“Saya panggil Emak dulu ya?” Juleha segera beranjak memanggil Emak.
Emak keluar dengan wajah sumringah seakan menyambut calon menantunya.
“Mau pulang. Ikin? Ya sudah, lain kali datang lagi ya, jangan bosan…”
Ikin segera mengulurkan tangannya pada emak. Tangan Emak yang hobi memasak terasa dingin dan halus.

Tak disangkanya Mak Rosyidah tampak lebih muda sebagai Ibu Juleha. Sodikin bingung mau memanggil Ibu, atau apa. Tapi karuan saja ia memanggil Ibu pada Rosyidah. Sembari membungkukkan kepala, ia berpamitan.
Sejak saat itu, bermalam Minggu di rumah Juleha menjadi kegiatan yang selalu dilakukannya.
Julehapun terbuai dengan kehadiran Ikin mengisi hidupnya.

Sudah empat bulan mereka berpacaran. Begitu pandainya Juleha menjaga kehormatyannya meski beberapa kali kesempatan itu terbuka lebar.

Kadang mereka berjalan-jalan ke kota, ke mal dan pulang selalu kemalaman, Rosyidah tak pernah marah. Ia percaya pada Sodikin yang pasti akan membawa anaknya pulang dengan selamat.

Ia menceritakan secara terus terang tentang status Juleha sebagai anak angkatnya. Kasih sayangnya kepada Juleha bagaikan anak kandungnya.

Julehapun mengerti bahwa ia bukan anak kandung Rosyidah. Juleha adalah anak kandung saudara sepupu Rosyidah, perempuan, yang mati dalam kecelakaan bis antar kota. Ayah kandungnya pergi ke Arab dan tak pernah kembali sejak istrinya meninggal lalu Juleha diangkat anak oleh Rosyidah dan Mastur, suaminya. Pasangan itu memang belum dikaruniai anak setelah 10 tahun menikah. Itu terjadi ketika Juleha berumur 4 tahun. Mastur meninggal karena sakit paru-paru sejak Juleha menginjak kelas satu SMP.

* * *

Ikin menarik nafas panjang sambil membelai rambut wanita itu. Ia mendengar dengan hati hati setiap cerita yang diungkapkan wanita cantik itu. Rambut yang hitam bak mayang terurai benar benar memabukkan hasrat Sodikin untuk terus bercumbu dengannya. Wanita itu jauh lebih matang dari Juleha.

Sodikin tak kuasa menolak pesonanya. Apalagi wanita itu menyambutnya dengan penuh hasrat yang terpendam, seperti rumput kering yang menantikan hujan. Jika Sodikin membandingkan antara keduanya, jelas ia lebih memilih yang lebih matang dan dewasa. Juleha masih sangat polos dan kekanak-kanakan.

Mungkin ia juga belum begitu berpengalaman dalam memperlakukan laki-laki. Setiap Malam minggu ia tetap menemui Juleha dengan setia. Sedangkan hari-hari biasa ia kerap menemui wanita itu di tempat yang sama, kontrakannya di kota.
“Sayang, kapan kamu akan berterus terang pada Juleha tentang kita?”
Desak Sodikin.
“Entahlah.
Apa aku tega untuk berterus terang padanya? Ia sangat mencintaimu.”
“Tapi cepat atau lambat Juleha harus tahu, dan aku harus menjauhinya.”

“Menjauhinya? Kamu pikir akan semudah itu bagi dia? Kamu tidak tahu bahwa ia sangat memujamu. Setiap hari yang dia ceritakan hanya Kang Ikin akan begini, Kang Ikin akan begitu, Kang Ikin…Kang Ikin…begitu terus! Mana mungkin aku tega melukai hatinya?”
Suara wanita itu berbisik agak keras.
“Tapi aku sudah tidak tahan ingin segera menikahimu. Aku tak nyaman dengan keadaan ini.”

“Sabarlah, nanti akan aku cari waktu yang tepat.”Begitu terus yang diucapkan wanita matang itu. Sodikin hampir bosan mendengarnya. Ia sudah tak bisa lagi berpura-pura mencintai Juleha. Meski ia pernah mencium kening Juleha satu kali.

Mereka melanjutkan cumbu mereka hingga matahari menyambut sore. Sebuah pemandangan yang biasa jika Sodikin mengundang wanita itu datang ke kontrakannya di kota. Mereka sama-sama mabuk asmara.

* * *

“Maaakk….. Apa yang Mak lakukan di sini?”
“Julehaaaa!!!!” Sodikin dan wanita kekasihnya segera melepaskan pelukannya dan berdiri sambil membenahi pakaian.
“Kang Ikiiiiiinn???
Sudah sejak lama aku melihat Akang memperhatikan Emak lebih dari biasanya! Aku benci kalian. Aku benciiiii!!!!”

Juleha naik pitam, menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Ia lemparkan semua barang yang ada dan terjangkau tangannya. Buku-buku, botol parfum, minyak rambut, sisir dan sebagainya. Ia mengamuk.
“Julehaaa!!!
Dengarkan dulu Juleha!!! Dengarkan!!! Akang mau menjelaskan sesuatu!!”
Sodikin memegangi tangan Juleha. Rosyidah menangis tergugu dipojok ranjang. Ia tak sanggup berkata-kata.
“Apaaa.???
Apa yang akan Akang jelaskan? Akang telah mempermainkan hati saya!!!!” Juleha memukul-mukul tubuh atletis Sodikin.
“Aku jatuh cinta pada Mak angkatmu, Rosyidah.

Aku mencintainya dan akan menikahinya Juleha!!” Sodikin memegang tangan Juleha. Ia bertelekan lutut pada lantai sambil menghiba. Wajahnya tampak memelas.
“Apaaaa….????
Apa Akang bilang???”

Juleha berusaha sekuat tenaga melepas pegangan tangan Sodikin yang kuat. Ia berlari menuju dapur, mengambil sesuatu, lalu berlari kembali menuju kamar, sementara Sodikin yang hendak mengejar Juleha ke dapur berpapasan di depan pintu kamar. Sebilah pisau tajam ia tancapkan di dada Sodikin. Rosyidah menjerit-jerit melihat adegan itu.

Sodikin ambruk bersimbah darah. Juleha mematung. Matanya nanar melihat Kang Ikinnya bersimbah darah dan sekarat. Lehernya begoyang goyang reflex menahan getar.

Sesaat kemudian polisi datang, gadis itu hanya menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol, meski matanya tak lepas menatap dingin pada Sodikin yang pias.***

* Jati Asih, Mei 2009

Istilah pencarian yang masuk:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*