Triyanto Triwikromo Metamorfosis Bagong

Gunawan Budi Susanto
suaramerdeka.com

ANDA benar, saya akrab dengan dia. Tetapi, sungguh, saya tak tahu banyak soal dia. Saya cuma tahu dia lahir di Salatiga, 15 September 1964, dari keluarga buruh pabrik. Tekanan kemiskinan membuat dia jadi kacung, berganti-ganti majikan. Karena mungkin jadi guru jalan meraih drajat lan semat, dia sekolah di SPG, lalu mulang SD, dan 1985 kuliah di IKIP Negeri Semarang (kini Universitas Negeri Semarang).

Kapan lulus? Entahlah. Boleh jadi dia tengah mbagong. Bagong memang sapaan dia suatu ketika. Saat kami makan di sebuah warung soto di Salatiga, perempuan pemilik warung terpekik, “Lo, sampean Bagong Koran to? Oalah, kok manglingi.” Dia nyengir. “Dulu saya selalu mengantar daging ayam dari majikan ke warung ini. Pulang, saya diberi koretan soto,” kenang dia.

Aha! Dia rupanya menikmati pula “fitnah” seorang kolega, yang menilai wajahnya mirip Denny Malik. Dia pun malih nama, bukan rupa. Semula cuma Triyanto. Jadi penulis, dia tambahkan Triwikromo. Sesekali dia pakai nama Teto. Pulang berhaji, ada imbuhan Musa. Haji Musa Triyanto Bagong Teto Denny Triwikromo?

Naik haji adalah hijrah moral-spiritual bagi dia. “Bayangkan! Aku anak keluarga besar umat kristiani, jadi mualaf, lalu tiba-tiba bisa naik haji,” ujar dia. Lalu dia emohi segala laku nak-enak ala seniman bohemian. Kini dia senantiasa merasa bahagia hidup bersama istri, Wiwik Triastuti. Jangan lupa, dia bapak bagi Anna, Prima, Sanrez, Ibrah, dan Jati serta kakek bagi Tami.

Penyair Terbaik

Kali pertama saya kenal dia dalam seminar mahasiswa sastra di UGM, 1987. Kesan saya: dia naif, berani bicara ngawur, energik, percaya diri, dan berimajinasi liar. Puisinya tersebar di berbagai media dan antologi. Ulasan dia soal puisi rutin muncul di Wawasan (1988). Dia pun terpilih sebagai penyair terbaik se-Indonesia versi Gadis (1989) dan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990).

Eksponen Revitalisasi Sastra Pedalaman ini produktif pula menulis cerpen. Kini dia pun lebih dikenal sebagai cerpenis. Cerpen dia memang lebih nggetih. “Puisi dan cerpenku adalah anak-anakku. Dan aku ingin keduanya bersenyawa,” ujar Triyanto di sesela kerutinan kerja sebagai redaktur Edisi Minggu Suara Merdeka.

Ah ya, apa pula kata sang istri? “Wah, saya tak pernah membaca cerpennya. Saya cuma membaca jika dia bilang, ‘Iki apik tenan lo, Bu, bacalah!’ He he he…” kata Wiwik. “Habis bagaimana, wong saya awam soal sastra. Saya cuma membantu mendokumentasikan tulisan dia.”

Padahal cerpen Triyanto, “Anak-anak Mengasah Pisau”, telah disinetronkan Dedi Setiadi dengan judul sama. “Cerpen ini juga akan dibuat film layar lebar oleh Nana Mulyana,” ucap sastrawan yang sedang berusaha ikhlas dan semeleh ketika menghadapi persaoalan ini.

Medan Tato

Cerpen Triyanto, ujar Darmanto Jatman, ora umum. “Suatu dekonstruksi terhadap ideologi keindahan cerpen konvensional!” ujar “si Bilung” yang lupa bahwa Danarto, Putu Wijaya, Arifin C Noor, dan Budi Darma telah melakukan itu sejenak setelah Indonesia terkena wabah eksistensialisme dan absurdisme. Bagi Darmanto, Triyanto Triwikromo adalah “sebuah nama baru yang bersinar di dunia cerpen”.

Triyanto, tulis Afrizal Malna, memperlakukan cerpen sebagai media rekreasi puitika ke ruang prosa dengan berbagai kemungkinan medan teks yang didekonstruksi dan diciptakan kembali. Kekerasan dan seks sangat mewarnai cerpennya. Tingkat perusakan begitu tinggi membuat cerpennya mirip tubuh penuh tato yang melukiskan berbagai teks kekerasaan. Menorehkan segala keperihan sosial.

Apa pula kata Th Sri Rahayu Prihatmi, penulis novel di Atas Puing-puing dan Dekan Fakultas Sastra Undip? Datang sajalah esok malam ke Lengkongcilik. Di sana, dia bakal bicara dalam peluncuran kumpulan cerpen Triyanto: Ragaula.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*