Batu-Batu di Gunung Parang

Sutirman Eka Ardhana
suarakarya-online.com

KALIAN tentu tak percaya dengan cerita ini. Bahkan, aku sendiri pun ketika pertama kali diberitahu tentang hal itu, menganggapnya sebagai sesuatu yang mengada-ada. Sebagai cerita lelucon belaka.

“Aku tidak sedang bercanda. Aku mengatakan hal yang sesungguhnya. Sungguh! Karena aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihatnya secara langsung. Karena itulah aku lantas meneleponmu untuk datang kemari, ke rumahku, ke desaku di kaki pegunungan Karangsambung ini. Kupikir, apa yang terjadi di desaku ini, bisa kaujadikan bahan untuk laporan atau tulisan yang menarik di koranmu. Tulisan yang ekslusif. Apalagi, kejadiannya baru tiga hari ini. Jadi, belum banyak yang tahu,” ujar Bambang ketika aku baru saja sampai sekitar setengah jam lebih di rumahnya, di kawasan Karangsambung, sekitar 19 kilometer di sebelah utara kota Kebumen.

Bambang, teman sekelasku ketika sekolah di Kebumen dulu. Setamat sekolah belasan tahun lalu, kami berpisah. Dia ke Jakarta, aku ke Yogya. Beberapa hari sebelum ia menelepon dan memintaku untuk datang ke desanya di kawasan Karangsambung, kami bertemu di Yogya. Ketika itu ia bersama isteri dan anak-anaknya sedang jalan-jalan di Malioboro. Menurutnya, ia sedang memanfaatkan hari-hari cutinya di desa untuk jalan-jalan ke Yogya. Kami saling berbagi nomor hand-phone, dan ia pun berjanji secepatnya akan meneleponku bila sudah sampai di Kebumen lagi. Benar. Sehari kemudian ia meneleponku. Memintaku untuk segera datang ke desanya.

“Kautahu Fir, aku sempat tertawa ketika ayah dan adik-adikku menceritakan hal itu. Kukira mereka hanya bercanda saja. Tapi, setelah aku datang ke lokasi yang diceritakan ayahku, di Gunung Parang, dan menyaksikan semuanya dengan mata kepalaku sendiri, barulah aku mengakui kebenaran cerita itu. Aku benar-benar menyaksikan sesuatu yang menakjubkan. Aku melihat, melihatnya dengan jelas bahwa tubuh para penggali batu itu seperti dipenuhi bongkahan-bongkahan batu yang mengeras. Untuk membuktikan kebenaran ceritaku, sebaiknya besok kita ke sana. Ke lokasi penggalian batu-batu itu,” jelas Bambang lagi. Bambang benar. Ia memang tidak mengada-ada. Ia menceritakan yang sesungguhnya.

Aku menyaksikan sendiri kebenaran itu setelah datang ke Gunung Parang. Para penggali batu, puluhan jumlahnya, sebagian besar lelaki dan sejumlah perempuan, yang menggali bebatuan di hamparan pegunungan Karangsambung itu tidak lagi lazimnya sebagai manusia biasa. Mereka manusia batu! Sekujur tubuh mereka telah berubah menjadi bongkahan-bongkahan batu yang mengental dan mengeras. Tangan, kaki, lutut, punggung, dada, wajah dan kepala, semua mengeras menjadi batu.

Bongkahan batu-batu gunung yang keras dan membaja itu seperti telah berpindah ke tubuh mereka. Wajah, hidung, mulut, telinga dan mata mereka semuanya telah berubah menjadi bongkahan batu hijau keperakan. Wajah mereka mengeras. Membatu! Tak ada lagi senyuman. Tak ada kata-kata. Tak ada desahan napas. Semua membatu. Sorot mata keras, tajam dan berkilau. Kilauannya setajam hamparan bebatuan gunung yang hitam kehijauan terkena sinar matahari. Bongkahan batu yang keras dan membaja terlihat jelas di dada-dada mereka. Dan, bukan tidak mungkin pula jantung, paru-paru, hati, serta segenap yang ada di rongga dada dan perut mereka juga ikut membatu.

Tapi, sekalipun tangan, kaki, dada, wajah dan semua anggota tubuh membatu, mereka tetap bisa bergerak. Berjalan. Bekerja. Penggali yang laki-laki tetap menggali dan memecahkan batu-batu dengan cangkul, kapak, palu, linggis dan lainnya. Para perempuan memindahkan, mengangkut dan mengumpulkan bongkahan batu-batu yang sudah dipecah itu ke tempat penimbunan. Tidak sedikit pula para perempuan yang ikut mengayunkan palu memecahkan batu-batu. Gerakan-gerakan tubuh mereka dalam bekerja memang terlihat aneh dan lucu. Gerakannya kaku. Seperti robot. Sungguh, mereka bagaikan manusia-manusia robot yang sedang bekerja.

Kenapa para penggali batu-batu itu bisa membatu? Sebagai wartawan yang ingin mendapatkan informasi serta data selengkap-lengkapnya, aku pun lalu menemui dan mewawancarai banyak pihak. Aku ke kantor kecamatan, ke kelurahan, ke warung-warung, dan bertanya kepada siapapun yang kutemui di jalanan. Dari tukang ojek, penjual dawet sampai pencari rumput.

Dari berbagai keterangan yang kuperoleh, kusimpulkan semuanya bermula dari suatu pertemuan di aula kantor kecamatan. Ketika itu segenap warga, terutama para kepala keluarga, yang tinggal di kawasan sekitar pegunungan Karangsambung, sebagian besar di antaranya para penggali batu, dikumpulkan. Beberapa orang pejabat dari Kabupaten hadir. Salah seorang dari pejabat Kabupaten itu menjelaskan tentang dijadikannya kawasan pegunungan Karangsambung sebagai cagar alam geologi.

Karena telah dijadikan cagar alam geologi maka semua areal di pegunungan bebatuan itu dijadikan milik negara, yang akan digunakan sebagai tempat pendidikan dan penelitian geologi. Sebagai cagar alam geologi maka semua jenis bebatuan yang ada dilindungi. Tidak boleh lagi ada pengrusakan. Tidak boleh lagi ada penghancuran dan penggalian batu-batu. Dan, warga yang bekerja sebagai penggali batu diperingatkan untuk menghentikan kegiatan penggalian.

Seusai pertemuan gejala-gejala perubahan itu sudah terlihat. Setidaknya hal itu terlihat pada delapan orang dari mereka yang hadir. Dalam perjalanan pulang, gerak dan cara mereka berjalan terkesan kaku dan aneh. Tangan-tangan terkepal. Keras. Wajah-wajah mereka tampak mengeras. Membatu. Tak ada senyum. Tak ada kata-kata. Mereka membisu. Membatu. Sehari setelah pertemuan jumlah mereka yang berubah bertambah drastis. Semuanya berubah. Ya, semua penggali batu-batu gunung itu berubah, membatu.

Dari informasi yang kudapat, kawasan Karangsambung memiliki struktur geologi yang banyak dan kaya dengan beragam jenis bebatuan. Jenis bebatuan yang ada itu tergolong langka dan tidak ditemukan di wilayah Indonesia lainnya. Bebatuan yang berasal dari kerak bumi, lempeng samudra dan lempeng benua itu diperkirakan muncul kepermukaan bumi sekitar 120 juta tahun lampau. Dan, di sini terdapat 30 situs bebatuan. Namun dari sekian banyak situs bebatuan, ternyata baru delapan situs saja yang menjadi milik negara. Selebihnya belum dimiliki negara. Sebagai cagar alam geologi, maka situs-situs yang belum dimiliki negara akan segera dibebaskan. Padahal, situs-situs yang belum terbebaskan itulah yang selama ini menjadi lokasi penggalian batu. Salah satu lokasi penggalian itu adalah kawasan Gunung Parang. Menurut penelitian, batuan beku di Gunung Parang berasal dari gagalnya sebuah gunung menjadi gunung api.

“Mungkin mereka terkena amarah pemilik-pemilik bebatuan itu,” kata Pak Sarman, ayah Bambang, ketika kami duduk-duduk di ruang tamu seusai makan malam, setelah hampir seharian aku bersama Bambang keliling desa mengumpulkan informasi. “Lho, pemiliknya siapa, Pak?” tanyaku serius. “Masyarakat di sini banyak yang percaya bahwa gunung-gunung batu itu dimiliki oleh makhluk-makhluk halus, makhluk-makhluk gaib. Makhluk-makhluk yang tidak terlihat secara kasat mata. Mungkin makhluk-makhluk halus itu marah karena hak milik mereka dirusak, digali dan dihancurkan. Akibatnya ya seperti yang terjadi sekarang.” “Ah, Bapak mengada-ada saja,” potong Bambang.

“Lantas, kalau menurutmu dikarenakan apa mereka bisa menjadi manusia batu seperti itu?” Pak Sarman cepat-cepat melontarkan tanya.
“Mungkin, mereka terkena virus?” jawab Bambang.
“Virus? Virus apa,” giliranku yang bertanya.
“Virus batu.” “Virus batu?!”
“Ya, virus batu.

Bukankah bebatuan itu bebatuan tua? Bebatuan yang sudah berusia ratusan juta tahun. Bebatuan yang berasal dari dasar bumi, yang kemudian menyembul ke permukaan akibat terjadinya proses geologi. Nah, bukan tidak mungkin, di bebatuan itu terdapat virus-virus purba. Virus-virus yang berusia ratusan juta tahun. Virus-virus yang bisa merubah tubuh manusia mengeras seperti batu. Mungkin, virus-virus itu masuk ke tubuh para penggali batu sedikit demi sedikit. Para penggali batu itu hampir sepanjang hidupnya bergelut dengan batu. Hidup dengan batu. Makan dari batu. Pendek kata, batu adalah kehidupan mereka. Dan kini, virus-virus batu itu sudah memenuhi tubuh mereka. Merubah apa saja yang ada ditubuh mereka menjadi batu.”

“Pendapatmu mungkin benar, mungkin juga salah. Untuk mengetahui apa penyebabnya, menurutku harus segera dilakukan penelitian. Pihak-pihak terkait harus segera melakukan penelitian yang terpadu. Penelitian yang sungguh-sungguh,” kataku.

“Aku setuju. Secepatnya harus ada penelitian. Siapa tahu, benar-benar disebabkan oleh virus batu. Bahayanya lagi, virus batu itu menular,” ujar Bambang. “Menular?”

“Ya, menular. Nah gawat, kan?” Keesokan harinya, ketika aku sedang berkemas-kemas untuk pulang, Bambang datang mendekat, tergopoh-gopoh. “Gawat! Gawat! Wah, gawat, Fir,” katanya dengan napas tersengal-sengal.
“Gawat, apanya?”

“Virus itu! Virus batu itu benar-benar menular! Virus itu sudah menjalar ke mana-mana. Sekarang virus batu itu sudah menyerang ke warga yang lain.” “Maksudmu?!”

“Sekarang tidak hanya para penggali batu itu saja yang tubuhnya membatu. Warga yang lain juga sudah mulai ikut membatu. Aku baru saja menyaksikan bagaimana warga-warga yang lain tubuhnya telah membatu dan berjalan bagaikan robot. Dan, aku yakin, sebentar lagi segenap warga di sini akan tertular semua. Hah, aku mau ikut pulang hari ini juga! Aku tak mau menunda-nunda lagi. Aku takut virus batu itu nanti menyerang diriku, isteri dan anak-anakku. Aku tak mau menjadi batu seperti mereka.”

Sehabis berkata begitu, Bambang langsung bergegas memanggil isteri dan anak-anaknya, menyuruh mereka berkemas-kemas untuk pulang. “Ayo, kita harus pulang sekarang! Kalau tidak, nanti kita ikut-ikutan menjadi manusia batu semua!” teriaknya.

“Apa tidak bisa ditunda sampai besok pulangnya, Bang?” terdengar suara Pak Sarman. Ternyata ia juga ikut mendengar apa yang baru saja dikatakan Bambang.

“Pak, kami harus pulang sekarang juga. Virus batu itu sudah menjalar ke mana-mana. Dan, Bapak, Ibu serta adik-adik, saya harapkan ikut sekalian ke Jakarta. Kita tinggalkan desa ini. Sebentar lagi semua orang di sini akan menjadi manusia batu. Ayo Pak, cepat bersiap-siap,” seru Bambang. Pak Sarman terdiam sesaat.

Tapi kemudian terdengar suaranya, “Biarkan Bapak, Ibu dan adik-adikmu tetap di sini. Tetap bertahan di desa. Kalau nantinya memang harus menjadi manusia batu. Ya, Bapak ikhlas menerimanya. Bapak rela dan siap.”

Kalian tahu, apa yang kemudian berputar-putar di benakku sepanjang perjalanan pulang ke Yogya? Ya, pertanyaan-pertanyaan seputar virus penyebab manusia batu itu. Apa benar penyebabnya virus batu? Apa tidak ada virus yang lain? Virus kemiskinan misalnya? Atau virus kekuasaan? Bisa jadi karena virus kemiskinan! Virus kemiskinan telah menyebabkan mereka rela menjadi manusia batu, daripada hidup menderita dan mati pelan-pelan karena kelaparan.

Virus kekuasaan? Mungkin juga. Karena jiwa serta mental mereka telah ditekan dan diteror oleh virus kekuasaan itu. Teror dan tekanan virus kekuasaan itu menyebabkan para penggali batu rela membatu seperti batu-batu gunung yang selama ini telah menghidupi mereka.***

* Yogya, 2007-2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *