Seru Aku dari Situ

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Pagi sehabis subuh saya aktifkan kembali HP saya dan sebuah sms masuk: “Ketika di masjid Nabawi Madinah & Masjidil Haram Mekkah, saya juga berdoa untuk kesehatan Bapak & terpanggil berhaji ke tanah suci,” Berkaca-kaca mataku. Tahun ini, ada tiga orang sahabat yang menunaikan ibadah haji, ketiga-tiganya berpamitan minta doa. Ketika musim haji pulang, saya kirim sms menyambut mereka satu persatu dengan ucapan “Selamat datang Haji Mabrur”. Yang pertama M. Shoim Anwar, yang langsung menjawab: “Amien. Saya tiba tadi malam.”

Yang kedua Ridwan, yang juga berterima kasih dengan cara yang sama. Nampaknya sms yang dia kirim itu merupakan sambungan sms sebelumnya, entah dimana tersangkutnya sebab kalimat itu dimulai dengan huruf kecil. Yang ketiga, walau berpamitan secara langsung tidak menjawab meskipun istri saya bertemu dengannya di acara pengajian yang tak bisa saya hadiri.
Ridwan Arshad pensiun dari kerjanya di Depdiknas sebelum menunaikan ibadah haji.

Sebetulnya dia bisa naik jabatan sampai ke tingkat yang lebih tinggi dan pensiun lebih belakangan, namun karena dia tak mau mencari gelar doktor instan dia tersingkir dari kompetisi memperoleh jabatan itu.

Tahun 1975 saat dia pindah dari IKIP Malang ke Singaraja lantaran terancam DO disebabkan mata kuliah Bahasa Prancis yang merupakan mata kuliah pilihan tak kunjung lulus, keluarganya memutuskan memindahkannya ke Singaraja. Kakaknya yang dosen IKIP Malang adalah kenalanku jadi dia tak ragu menulis surat padaku agar Ridwan berada di dalam bimbinganku.

Aku lihat dia bukan mahasiswa bodoh, bahasa Inggisnya bagus dan prestasi lainnya bagus, tentu kecuali bahasa Prancis. Aku menerimanya sebagai anakku sendiri, kakak dari Wawan dan Andi, yang pada suatu hari diajaknya naik kereta api ke Malang, menyerahkan mereka ke rumah bapak ibuku dan meninggalkan mereka disana beberapa hari selama liburan. Di di sana Wawan dan Andi menjadi asuhan ayahku yang membawanya melancong sampai ke Blitar ke Makam Bung Karno dan ke bendungan Karang Kates (sekarang bendungan Ir. Sutami).

Setelah puas, Ridwan menjemputnya kembali, membawanya naik kereta api dan menyerahkan pada kami di Singaraja. Bagi Wawan dan Andi, naik kereta api memang bukan pengalaman pertama, sebab ketika mereka masih lebih muda, kami pernah mengajaknya melancong dari Malang ke Kebun Binatang Surabaya dengan menumpang kereta api. Wawan sangat menikmati pemandangan di luar jendela, dimana tiang-tiang telpon berlarian menjemput kereta, dan sapi merumput di ladang, dan rumah-rumah yang bergerak menjauh.

Ketika aku pulang dari Inggris tahun 1976 istriku hamil dan melahirkan Dedi pada bulan Desember 1977, dan Ridwan “hilang” tak tentu rimbanya di Nusa Tenggara. Ternyata dia bekerja di sebuah perusahaan asing, entah perusahaan apa, mengumpulkan banyak uang dan dengan uang itu dia mencicil rumah BTN di Mataram, walau ayahnya sudah punya rumah sendiri. Ini kuketahui kelak ketika tahun 1982 dia tiba-tiba muncul di depan pintu kamar Fylde College, Universitas Lancaster saat aku kuliah di situ. Tentu saja gara-gara dia memberikan alamatnya ke rumah kami di Singaraja, yang meneruskanya ke Ingris. Untung saat itu surat ke Lancaster hanya makan waktu sekitar tiga hari. Dia tinggal dengan keluarga Merson di Somerset, entah apa kerjanya. Ini karena dia bertemu dengan Dr Peter Southwell di Lombok dan menjadi kenalan baiknya. Dengan surat sponsor dari Peter, dia dapat masuk Inggris walau dengan beli tiket sendiri, dan dengan cerdiknya dapat menemukan alamat Peter di London berkat petunjuk mendetail dari dokter muda itu. Aku memberikan alamatku dan oh, tiba-tiba dia berada di depan pintu.
“Saya dari Aberdeen, Pak. Berry picking.”
Aku ingat saat Perang Malvinas, berton-ton strawberry dikapalkan untuk para perajurit di negeri asing itu.
“Ah, kamu ada saja.”
“Saya kerja di perkebunan dengan pekerja asal Italia. Sekarang saya punya uang.”
“Lalu, apa kerjanya di Somerset?”
“Cuci, setrika dan hitung truk yang keluar bawa hasil panen dari kebun Pak Merson.”

Sebelas tahun kemudian, ketika aku berkunjung ke Aberdeen, mereka memutar film tentang pekerja Italia yang datang ke Aberdeen, mengingatkanku pada cerita Ridwan. Sebuah film bagus secara sinematografi, namun selalu dibumbui adegan berseks ria dengan penduduk setempat. Syukurlah mereka juga memutar film Hamlet versi terakhir dibintangi Mel Gibson, yang shootingnya dilakukan di sebuah reruntuhan puri di Arberdeen. Pada suatu hari Sabtu kami diajak mengujungi obyek wisata yang terletak di pantai itu. Kami harus berjalan kaki menuruni lereng menuju lokasi reruntuhan yang terpelihara rapi, tentu saja yang terlihat di film jauh lebih baik dari lokasi aslinya.

Sedang di rumah Philip Merson yang menampungku beberapa malam di Somerset, aku dapat membayangkan apa yang dikerjakan Ridwan di sana.

Dalam pertemuan di Lancaster, dia menawariku traktir makan di restoran namun aku malahan menghidangkan masakanku, berbagai masakan yang dapat kukerjakan: ayam bumbu jahe dan bawang putih, mie telor juga dengan bawang putih, sop buntut dimasak memakai slow cooker pinjaman, atau sarapan dengan scrambled eggs yang bisa berkembang lantaran ditaruh di oven.

Untunglah saat itu aku menempati apartemen milik Foo yang ditinggalkan untuk menjemput anak istrinya di Bandar Seri Begawan, jadi punya tempat tidur ekstra, yakni ruang tamu. Kuajak dia melancong ke Blackpool tempat wisata di tepi pantai dengan Lancaster, ke Morecambe, juga tak jauh dari sana. Kami membuat sejumah foto kenangan dengan rambutku yang kubiarkan gondrong. Ketika dia bergabung dengan Peter di London, dia tanya apa aku boleh menginap di rumahnya? Dia pun bercerita bahwa rambutku gondrong. Namun sebelum meninggalkan Lancaster setelah pesta perpisahan dengan teman-teman, aku pergi ke tukang cukur, sekedar mencari pengalaman bercukur di negeri orang, dengan tarif mahal dan dengan memberikan tip pula. Jadi, waktu Peter menuyambutku di London, dia heran sebab potongan rambutku rapi.
* * *

Selang dua tahun sepulang dari Inggris Ridwan datang lagi ke Singaraja, kali ini hendak melanjutkan studinya di tingkat doktoral agar mendapat gelar doktorandus, menyelasaikan program itu dengan lancar dan tahun 1986 hijrah cari pekerjaan di Jakarta, diterima sebagai pegawai honorer di Departemen Pemuda dan Olah Raga. Tugasnya mengelola Assosiasi Pondok Pemuda yang dapat menghasilkan uang bebapa ratus ribu untuk kantor. Atas keberhasilannya, dia direkomendasikan unuk ikut tes CPNS di Depdikbud, di antara peserta tes dari IKIP hanya dia yang diterima. Entah keberuntungan atau karena memang tenaganya diperlukan.

Di sana dia ditempatkan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda, mengurusi Program Pertukaran Pemuda ke berbagai Negara, Australia, Kanada, Jepang dengan Kapal Aseannya. Sewaktu bertugas ke Korea, dia sempat tersemprot gas air mata sebab sedang ada demo. Rupanya hidup dinikmatinya saja sambil menghisap rokoknya dalam-dalam di kamar kosnya di Jalan sekitar Jalan Jaksa. Sebuah kamar kumuh penuh buku, namun karena kamar itu untuk pribadinya dia, kalau aku menginap di sana, merasa aman-aman saja, berbeda bila aku tidur di kamar lain, termasuk kamar paling atas yang sejuk karena angina langsung masuk ked lam kamar dan pemandangan wilayah Kebon Sirih terhampar di utara, dari jendela terbuka.

Dia memperkenalkanku dengan para preman Jalan Jaksa, juga seorang polisi asal Bali yang bertugas di situ. Polisi yang bergabung duduk semeja dengan bos para preman mungkin juga dikerubungi beberapa orang WTS.

Saat dia masih berkantor di Jalan Merdeka Timur, sehalaman dengan Galeri Nasional, aku pernah menengoknya selepas jam dua belas siang. Dia baru saja mentraktir rekan sekerjanya makan semangkuk bakso. Ruang kerjanya berisi beberapa meja kerja dengan masing-masing sebuah mesin tulis manual. Kulihat dia nampak memberi tugas seorang pegawai mengetik sebuah tulisan karyanya. Maklumnya, dia juga suka menulis untuk koran Suara Karya. Cepat sekali ia berteman dengan sejumlah wartawan dan redaksi koran itu. Sampai-sampai dia kenal dengan Bapak Yop Pandi dan Rahadi Sutoyo yang punya posisi penting disitu.

“Ya, bagi-bagi rejeki, Pak,” katanya. Dia bercerita, sebagai pegawai dia sering disuruh mewakili rapat di lembaga lain. Dari kantornya dia mendapat uang transport, dan usai menghadiri rapat, sebuah amplop berisi uang paling tidak Rp. 50.000,- tersedia. Padahal, saat itu sebuah tulisan di koran hanya dihagai Rp. 30.000,-. Soal bagi-bagi rejeki ternyata memang sudah menjadi kebiasaannya. Ada ada rejeki mendadak, dia mengatakan:
“Manfaat”. Itu cara orang Kampung Bugis di Singaraja menyatakan rasa syukurnya.

Tanpa kuminta dia sering mengulurkan bantuan. Kalau aku menginap di kamarnya di Jalan Jaksa, yang empunya rumah selalu diberi tahu bahwa aku dosennya an semua menjadi tanggungannya. Ada warung di situ dan dia mempesilakanku makan apa saja di situ, walau dia sedang tidak di tempat. Karena seringnya aku berkunjung, bila aku datang dan dia sedang bertugas di luar Jakarta bahkan di luar negeri, kamarnya terbuka untukku, dan bon di warung juga tak boleh kubayar. Seingatku dia pernah punya pacar gadis Ingris, dan saat mereka menikah, Ridwan mensyaratkan pernikahannya secara Islam. Yang mengejutkan adalah jawaban pacarnya: “Aku akan menikah denganmu, bukan dengan agamamu!” Karena itulah pernikahan batal.

Saat kami saling sibuk, kami jarang berhubungan padahal sebelumnya dia sering menelpon ke rumah ke istriku dan berkata: “Bu. Saya masih hidup”.

Aku ingat sekarang, semenjak dia menikah dan membeli rumah tak jauh dari tempatnya mondok, dia jarang berkabar. Pada suatu Sabtu Antariksawan Jusuf yang tinggal di Pamulang, mengantar aku dan istriku singgah ke tempat Ridwan. Sebelumnya kami menginap di rumah Antariksawan, dan sambil mengantar kami ke Cempaka Putih tempat tinggal bibi sebelum kami terbang ke Bali, kuperlukan menengoknya, di rumah yang pintunya bergaya arsitektur Belanda. Dia bercita-cita ingin membuka warung sate plecing, satu jenis sate daging dengan bumbu pedas khas Singaraja kalau sudah pensiun. Entah turis dari mana yang akan tertarik makan sate plecing, sebab aku saja tak suka. Sekarangm setelah pensiun dan berhaji, aku tak tahu apakah dia memang akan membuka warung sate plecing. Siapa chefnya? ***

* Singaraja dua pekan terakhir Desember 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *