Jose de Espronceda (1808-1842)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=386

KEPADA SPANYOL
Jose de Espronceda

Percuma kini megah menara ditembok batu dan kekayaan sumber-sumbermu.
Tunjukkan daku sisa pusaka pahlawan perkasa, yang mewangi namamu dengan waninya.

Pernah kau dulu bertahta, tinggi laksana pohon yang megah di puncak gunung Libanon.
Suaramu: Halilintar, bergegar menyambar hati pengecut dengan geger dan gentar takut.

Kau kini terlantar; nasibmu sedih: Padang tandus, dimana sunyi berbungkus mampus.
Dan kembang harapan bangsa, hidup merana, sengsara di jalan rantau dunia.

Kebesaran lama tenggelam sudah, bertutup debu, di bawah rumput dan akar kayu;
Dan kala budak belian melihat nasibmu, tertawa ia, lupa dulu engkau tuannya.

Jose de Espronceda (1808-1842), penyair Spanyol, lahir di Almendralejo (Extremadura), meninggal di Madrid. Ia paling revolusioner di kalangan kaum romantik Spanyol, mengalami tiga kali pembuangan, ke Lissabon, London dan Paris. Ikut berkelahi bersama kaum revolusioner Perancis di Paris, mengalami badai asmara di Lissabon, meninggal di usia 33 tahun, dalam keadaan sengsara, tapi disaat kemashurannya. Nama julukannya “Byron” Spanyol, yang sangat dipengaruhi Byron dan Hugo. Buahpenanya terpenting sajak; Pelayo, El diablo Mundo, El estudiante Salamanca dan elegi A Teresa, ditujukan bagi kekasih yang telah meninggalkannya. {dari buku Puisi Dunia, jilid I, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1952}
***

Suara penyair itu gema bathin paling pribadi, dari resapan derita dirasai semesta. Sebagai wakil kesunyian alam, mendendangkan kesendirian, bagi eksistensi kemanusiaan.

Suaranya mengalung seolah tanpa jejak, mega-mega di ruang kasih sayang. Awan tiada terbatas berkelana, menyimpan kesepian, lalu hujan sulingan pemikiran.

Tatkala bangkitkan semangat kebangsaan, sejatinya tengah mengangkat ras kemanusiaan, sebab dirinya memilik kerinduan hakiki, kangen daya ketegaran.

Maka gairah sepinya dihantarkan, demi naiknya drajat kesamaan, harapan berbangsa sama-sama tinggi, tak ada pengecualian.

Mencipta paduan suara harmonis, menyelaraskan goyangan alam dengan penghuninya, tulus bahu-membahu untuk kelanggengan damainya kalbu.

Menara baginya ketinggian pencapaian dalam ilmu pengetahuan, nilai-nilai tertata, sepantasnya atas masing-masing pencarian.

Sebangun candi, batu-batu saling melengkapi menuwai arti, sudut berkisah warna hayati, tapi bukan candi yang dimaksud, namun ruh candi dalam pribadi.

Hakikat melestarikan pusaka, mewangi bathin selaguan gelombang tiada peperangan, kecuali pada wujud keangkuhan, kemalasan, keserakahan, dan yang merongrong jati diri hayat.

Lalu ditaruh stupa, selayak tancapkan gunung logika, agar semua pandangan terpancang kebersamaan, dilaluinya tangga demi tangga, fitroh luhur kehidupan.

Benar ujaran para orang utama, mewariskan kekayaan selain ilmu akan terjadi perebutan kuasa, tahta abadi ialah sumber pengetahuan, puncaknya saling mengasihi.

Suara bathin terdalam penyair menggagalkan tipu muslihat, sukmanya menghalilir otak terjerumus kebendaan.

Menyambar hati pecundang menggegerkan jiwa takut kehilangan, kesunyiannya merangsek penuhi gending-gending keselarasan.

Saat sastra bertiupan terompet ideologi, tentu memukau, tetapi terhilangkan kesastrawiannya, demikian menjumput pandangan Gao Xingjian, dalam pidato Nobel.

Keterlantaran nasibnya memasuki faham, menyusuri cela sempit tak mampu melampaui kurun jaman perubahan, tak jauh menaburkan benih teremban, hanya masuk kotak suara, yang kosong penghuni.

Padang penalarannya dimaknai picik lawan politik, maka tanduslah perolehannya, bunga-bunga tidak bermekaran bahagia di pot mewah, jarang peroleh sentuhan mesra tuan rumahnya.

Sastra jadi ajang perdebatan semata, bukan menaungi jiwa-jiwa dengan keharuan purna. Meranalah nilai-nilai saling bertikai, menjegal beradu dikdaya.

Bisikan bathin tak lagi sanggup didengungkan lantang, demi setalian mengguyuri rindu kesejatian.

Sengsaralah jalan rantauan dunia, gersang memanas hanya merebus urat syaraf, sebab kalbu terbengkalai, tiada kemampuan gairah, selain nafsu profan semata.

Keberagaman terkubur, tertutupi debu pertikaian, kala menyuarakan kepentingan pribadi-golongan yang diutamakan.

Gaungnya penghias belaka, akar-akaran kayu tak sanggup menghisap sumber mata air murni, dari ibunda bumi yang melapangkan lahirnya hembusan nurani.

Budak nasibnya diperebutkan kekuasaan politik, budaknya para budak takdir tak pantas diraih.

Para penguasa tertawa, sastra menjadi permainan tidak berpribadi, citranya ludes diketiak materi.

Demikian pantulkan sajak Espronceda dengan pemahaman lain, maknanya boleh diluruskan.

Demi memurnikan kesejatian terpampang, penggali ruh pengertian, sebagai pengejawantah bahasa keindahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*