Coretan Kang Dol

Ahmad Munib

Kang DulPaqih masih duduk terpaku pd sebuah dipan tua, yang tampak reot termakan rayap. jari telunjuknya masih menjempit erat sebatang rokok, yah merk mlendjo kesukaanya. disampingnya secangkir kopi kental bikinan mbok sutrani, yang tinggal ampasnya dg setia menemaninya. kepulan asap ringan pun terus keluar dari mulut…nya yang keliatan menghitam. ya, Kang DulPaqih masih terpaku dg ujaran-ujaran kang Irul saat “kongkow” bersama Ki Wahono di warung mbok sutrani td pagi.
Ia masih terkesan dg dongengnya itu, begini……

Nun jauh di sana pada sebuah pulau kecil, tinggallah sekelompok anak muda. ada Cinta, kekayaan, kesedihan, kegembiraan, Kecantiakan dsb. mrk hidup berdampingan dg baik, hingga suatu musibah terjadi. badai menghempas, air laut menerjang melahap seluruh penghuninya. semua lari menyelamatkn diri.

Cinta sangat kebingungan karena ia tak bs berenang dan tak memiiki perahu. Ia berusaha meminta pertolongan, sementara air terus meninggi.

Tak seberapa lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. “Kekayaan….tolonglah aku…” teriak Cinta

“aduh Cinta… sori perahuku telah penuh dg harta ku, perahuku nanti pasti tenggelam kalau kau ikut”. kekayaan pun berlalu tanpa menoleh sedikitpun
Cinta sedih sekali atas perlakuan Kekayaan.

Tak seberapa lama terihat Kegembiraan melintas dg perahu di dekatnya. ia pun bererteriak..
“Kegembiraan tolonglah aku”. Kegembiraan tak menoleh sedikit pun ia kelihatan sangat gembira krn menemukan perahu, sehingga tak mempedulikan siapa pun di sekelilingnya, termasuk Cinta.

Air laut kian membumbung, sebatas dada cinta, ia makin panik dan kebinguan, menangis sejadi-jadinya. tiba2 melintas didepanya Kecantikan dg perahu yang besar dan indah. “kecantikan tolonglah aku, naikkan aku kepaerahumu”. teriak cinta.

“wah Cinta kamu basah, kotor, dekil bau lagi, sori perahuku tak layak utk mu”.umpat Kecantikan.
Cinta semakin tak berdaya, tangis semakin menjadi-jadi, ia masih sempat melihat sebuah perahu lewat didepannya, terlihat Kesedihan sedang mengayuh di atasnya. “Kesedihan tolonglah aku, naikkan aku ke perahumu”.ujarnya

“Sori Cinta aku sedang sedih seluruh hartaku ludes dihantam air laut, aku ingin
sendirian, kalau kau ikut nanti malah menyusahkan ku”.

Cinta berteriak saat air laut mulai menyeretnya, namun tiba2 seorang aki tua
menyeretnya ke atas perahu, di antara sisa kesaranya Cinta sempat menengok aki tua, kemudian terlelap tak sadarkan diri ia, terkulai tak berdaya.

saat siuman ia baru tahu kalo dirinya telah berada pada sebuah daratan, ia bangkit berjalan sambil bertany siapa yg telah menolongnya.
beberapa orang memberitahu ia.

“Oh orang tua yg membawamu, dia adalah Waktu”. ujar beberapa orang
” tapi mengapa ia menolong ku padahal teman-temanku tak ada yang mau membantuku”. keluhnya
” Sebab”, kata orang td. “Hanya-lah waktu yang tahu berapa sesungguhnya “NILAI” dari Cinta itu”.

Tanpa sadar Kang Dulpaqih terlelap…..sedikit liurnya basahi dipan yang usang, sementara seekor kecoak sedang menghabiskan sisa kopi di sekitrnya, Ki wahono yang menyaksikanya hanya geleng-geleng kepala mendengar dengkurannya yg menyuarakan not-not tak beraturan …..seperti lagu Link In Park……katanya.

”””mukhtshar min risalah al ustazh arfin erc .”’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *