Menegasikan Renaissance di Eropa

Judul Buku :1434; Saat Armada Besar China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans
Judul Asli : 1434; The Year a Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance
Penulis :Gavin Menzies
Penerjemah :Kunti Saptoworini
Editor :Indi Aunullah
Penerbit :Pustaka Alvabet, Tangerang
Cetakan : I, 2009
Tebal : xvii + 430 hlm
Peresensi: Misbahus Surur*
http://soeroer.blogspot.com/

Masihkah kita percaya bahwa manusia pertama yang mengelilingi dunia adalah Magellan, jika ternyata sebelum penjelajah laut Eropa itu mengarungi samudera tahun 1519, diduga ia pernah melihat (bahkan berbekal) sesobek peta yang menurut sumber buku “1434; The Year a Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance (diterj. Kunti Saptoworini: 1434; Saat Armada Besar China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans)”, pernah dibuat oleh Martin Waldseemuller bertahun 1507, juga Johannes Schomer di tahun 1515; dua orang kartografer yang belakangan diketahui tidak pernah mengarungi samudera ataupun punya tradisi kebaharian sama sekali. Kebimbangan yang sama akan kita lekatkan pada Columbus dan kapten Cook; dengan pertanyaan yang hampir sama, benarkah masing-masing adalah penemu benua Amerika dan Australia?

Inilah sehimpun fakta lain yang diajukan Menzies, penulis buku dengan judul di atas. Menurut Menzies, jauh sebelum Eropa mengalami puncak Renaissanse, di belahan dunia Timur (China), sebuah peradaban maju dengan capaian pengetahuan tingkat tinggi yang sungguh megah telah dahulu terpancang. Bahkan, buku tersebut mengklaim bahwa Eropa kala itu mendapat suntikkan besar-besaran berbagai jenis pengetahuan dari China. Pendek kata, Eropa bisa menjelma seperti sekarang, karena mencecap putik modernitas dari China. Rangkaian fakta itu misalnya, sebagaimana yang dikukuhkan oleh Theodore A. Wertime dalam buku The Coming of the Age of Steel, pada Bab ?Asian influence on European Metallurgy?, peleburan besi dan baja dengan model pembakaran untuk memperoleh kualitasnya yang keras dan kuat, sebagai bahan dasar pembuatan senjata api, bukanlah ide orang-orang Eropa. Tetapi karena semata-mata sumbangsih dan pengaruh pengetahuan China. Di mana China kemudian juga memperkenalkan persenjataan canggihnya ke Eropa, seperti bubuk mesiu, bazoka, mortir, selongsong, peledak, roket dan meriam.

Kita ambil misal mengenai riwayat penemuan bubuk mesiu, ini bermula dari pencarian para alkemis China terhadap ?aliksir? (sebuah obat mujarab), melalui riset-riset sederhana. Penemuan ini terjadi di zaman dinasti Tang yang kemudian disempurnakan pada masa dinasti Sung. Mulanya mereka berminat meneliti sulfur, sendawa dan arang. Para alkemis itu, yang pada awalnya mengira sulfur dan cendawa dapat dipergunakan sebagai obat infeksi kulit, malah mendapati sulfur sebagai materi yang mudah terbakar. Setelah mereka mencoba menambahkan campuran sendawa guna mengontrol volatilitasnya, dengan jalan menimbulkan pembakaran parsial, yang bertujuan mengendalikan terbakarnya sulfur. Setelah pada tahap sebelumnya menambahkan arang pada campuran sendawa-sulfur. Sungguh tak disangka, terciptalah ledakan-ledakan. Inilah riwayat orang-orang China menemukan bubuk mesiu, jauh sebelum peradaban Barat mengembangkannya beberapa tahun kemudian.

Demikian pula dalam ilmu percetakan, sepanjang ini ingatan kita akan terhenti pada sosok penemu Eropa berkebangsaan Jerman, Johannes Gutenberg. Atau bahkan pengakuan sebagian orang Eropa akan sosok bernama Laurens Jonszoon Coster, yang dianggap pencipta mesin cetak sederhana sebelum Gutenberg (1440). Padahal mesin cetak (balok) pertama dibuat oleh orang China. Mesin yang kemungkinan diciptakan antara masa dinasti Sui dan Tang itu, didasarkan pada teknik memindahkan teks dan gambar yang dicukil dalam bentuk gambar timbul pada cap dan pilar batu ke permukaan lain. Ini dikuatkan oleh riset Blaise Aguera Y Arcas dan Paul Needham dari Universitas Princeton, yang menemukan bukti dan kenyataan bahwa Injil Gutenberg, demikian pula buku-buku pertama buatan Gutenberg, tidak dibuat dengan menggunakan mesin cetak balok bergerak. Tentu jika informasi kedua peneliti ini benar, maka terpatahkanlah klaim Gutenberg sebagai penemu mesin cetak, yang sepanjang ini telah jadi pengetahuan umum saat kita masih duduk di bangku sekolahan.

Kemajuan mesin cetak China ini pada tahap selanjutnya diteruskan dengan diciptakannya mesin cetak bergerak oleh Bi Sheng sekira tahun 1051. Setelah itu juga ada yang membuat balok pencetak yang dicukil dari kayu. Hasilnya, misalnya, sekitar tahun 1313, Whang Zhen, seorang ahli agronomi dari masa dinasti Yuan mencetak karya monumentalnya, Nung Shu (Risalah Tentang Pertanian) menggunakan balok kayu cetak bergerak, yang merupakan penyempurnaan dari beberapa penemuan di atas. Bahkan, Leonardo da Vinci mempelajari serangkaian gambar, mesin dan ilmu teknik yang mengagumkan di Florensia (Italia), dengan berbekal buku salinan ?Nung Shu? karya Whang Zhen tersebut.

Bukan itu saja, Galileo Galilei, orang Eropa pertama yang dianggap menemukan teleskop canggih dalam bidang astronomi, di mana ia mematahkan gagasan Ptolemeus yang mengatakan bumi sebagai pusat alam semesta, sekaligus juga meruntuhkan ortodoksi Gereja, ternyata jauh sebelum itu, sekitar tahun 364 SM, seorang astronom China, Gan De, telah mendahului Galileo. Begitu pula apa yang ditemukan Johannes Kepler mengenai tiga hukum pergerakan planetnya, betapa itu sama sekali tak ada bedanya dengan apa yang digagas astronom China, Guo Shoujing tiga abad sebelumnya.

China memang menyimpan serpihan-serpihan pengetahuan dan teknologi yang teramat mengagumkan. Bukti itu sekarang bisa dilihat, misalnya pada kecanggihan seni arsitektur dan rancang bangun Tembok Besar, Kota Terlarang, dan yang tak kalah megah adalah pembuatan Kanal Besar yang telah memakan waktu ribuan tahun, sampai-sampai sang penjelajah lautan, Marco Polo pun terkagum-kagum. Tentu selain China juga dikenal sebagai negara industri sutra yang berkualitas tinggi. Maka, pantas saja bila dulu Nabi Muhammad SAW sempat berpesan untuk menimba ilmu pengetahuan meski sampai ke negerinya Sun Yat Sen ini.

Adapun kemajuan Barat (Eropa) saat itu, sesungguhnya baru dimulai ketika pada tahun 1434 laksamana Cheng Ho bertolak dalam pelayaran mengelilingi dunia, yang juga sempat berkunjung ke beberapa wilayah di dunia seperti Malaka, Jawa, Alexandria, Kairo hingga Vanesia dan Florensia (Italia). Menurut keterangan Paolo Toscanelli, duta besar China ini (Cheng Ho) sampai di Florensia di masa pemerintahan Eugenius IV. Inilah tahun pertama kali China mengobarkan renaisans di Eropa. Di mana 18 tahun kemudian dengan peta kiriman Toscanelli, Cristopher Columbus dan tokoh-tokoh setelahnya baru memulai penjelajahan samudra, jauh setelah armada China mengelilingi dunia.

Penjelajahan dunia oleh orang-orang China ini pada mulanya adalah sebuah proyek dan misi besar. Proyek mega raksasa yang dikepalai navigator ulung Cheng Ho ini dengan membuat dua ribuan armada kapal. Kabarnya -seperti yang diinformasikan oleh Menzies-, proyek ini hingga berakibat pada penggundulan hutan di China. Bahkan sampai menjarah hutan negeri tetangga, seperti Vietnam. Sedang misi pelayaran mengarungi dunia itu adalah ambisi besar sang kaisar untuk membawa seluruh dunia ke dalam harmoni Konfusius dengan kerangka sistem upeti. Sasarannya seantero jagad, termasuk wilayah-wilayah Barat yang dihuni ?kaum barbar berhidung panjang? ?sebutan mereka untuk orang-orang Barat, Eropa- (hlm. 2). Kebijakan ini terjadi di masa kaisar Zhu Di hingga masa kaisar Zhu Zhanji. Bahkan kaisar Zhu Zhanji secara sadar menyatakan, mundurnya China dari posisinya sebagai Ratu lautan akan memiliki dampak buruk, -termasuk kenyataan bahwa kaum barbar (Eropa) akan menghentikan pembayaran upeti. Inilah rupanya salah satu misi mereka mentransfer pengetahuannya ke Eropa tahun 1434. Dengan mengajari beragam pengetahuan seperti bahari, navigasi, geografi, astronomi, kartografi, percetakan, persenjataan juga ragam pengetahuan lain yang dianggap penting dalam pelayaran. Tujuannya tidak lain supaya Eropa dapat menyerahkan upeti sendiri langsung ke China dengan modal pengetahuan itu.

Terkait sejarah pelayaran orang-orang China ini, Menzies juga memaparkan sejumlah bukti mencengangkan. Bukti puncaknya adalah ketika tahun 2003 silam, Cedrik Bell, seorang insinyur yang tekun dan disiplin melakukan penelitian mandiri dengan bantuan anomali magnetik di selatan pulau Selandia Baru, melontarkan sebuah penemuan akan kemungkinan kapal dalam jumlah besar pernah kandas dan remuk di pesisir tenggara pulau itu karena terjangan tsunami. Awaknya yang bertahan hidup dapat mencapai pantai dan membuat barak batu sebagai tempat tinggal. Mereka menanam padi, membuat tambak ikan juga merangkai alat pelebur logam untuk membuat besi. Padahal suku pertama yang dianggap mendiami Selandia Baru, yakni suku Maori, tidaklah melebur besi. Bahkan pada bab terakhir buku “1434; The Year a Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance” ini, Menzies sempat menyinggung berbagi kemungkinan yang masih diselimuti kabut misteri. Misalnya, munculnya jejak peradaban besar di selatan Amerika (selain peradaban suku Inca dan Maya) yang juga punah, sebab hempasan gelombang tsunami. Sebagaimana itu juga menimpa armada Cheng Ho, saat memasuki benua Australia.

Buku ini sunggguh memaparkan begitu banyak informasi baru dan setumpuk bukti pelayaran bangsa China menjelajahi dunia. Kendati pertemuan sang navigator ulung yang juga seorang muslim (Cheng Ho) dan wakil daerah Florensia (Italia) saat itu, tak direkam secara lebih detail oleh Menzies. Gambaran sederhana dari pertemuan itu hanya akan kita peroleh dari ulasan Menzies melalui surat-surat Toscanelli, yang mengakui kedatangan Cheng Ho di negerinya, Florensia. Meskipun begitu, penjelasan yang lebih komprehensif akan kita dapatkan bila kita juga membaca karya Menzies sebelumnya, yang diterjemahkan dengan judul 1421: Saat China Menemukan Dunia (Pustaka Alvabet, 2007). Selamat membaca.

*) Peminat sejarah, sekolah S-2 di UIN Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *