Saya Hanyalah Seekor Anjing

Rama Dira J.
http://www.lampungpost.com/

SAYA hanyalah seekor anjing dalam arti yang sebenar-benarnya: binatang berekor dan berkaki empat. Jangan buru-buru dulu membayangkan saya sebagai anjing yang bersih terawat, sebab saya hanyalah anjing jalanan, anjing buduk yang berlumur busuk, anjing yang tak punya tuan.

Karena sudah menjadi anjing jalanan, tentu saya tak punya rumah dalam arti yang sebenar-benarnya pula. Saya harus membiasakan diri hidup di alam terbuka : bergelut dengan asap dan debu, bersetubuh dengan panas dan bercengkerama dengan dingin. Sebagaimana anjing jalanan lainnya, untuk bertahan hidup, saya memakan sisa-sisa makanan di tong-tong sampah sepanjang jalan dan meminum air comberan. Tak ada lagi alasan untuk memilih-milih. Pilihan yang saya hadapi hanya dua: makan atau mati kelaparan.

Walau sulit pada mulanya, setelah melewati waktu setahun, saya jadi terbiasa dengan hidup model begini. Faktanya, sebagai bekas anjing rumahan, saya tak bisa langsung beradaptasi dengan gaya hidup yang harus dijalani selaku anjing jalanan. Sejak lahir, saya tak asing dengan kebersihan, terbiasa dengan kasih sayang dari tuan, nyaman dalam ruangan yang hangat kala cuaca di luar dingin dan dingin kala cuaca di luar panas, selalu disuguhi makanan enak, sudah terbiasa tidur di kandang yang dibuatkan khusus. Kini, semua kehangatan dan kenikmatan itu lesap. Saya hidup di alam terbuka. Saya telah dibuang oleh tuan saya.

Meski di luar tersedia lokasi-lokasi yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal, saya tidak mau menetap sebab jika itu saya lakukan, saya khawatir nyawa saya terancam. Banyak anjing liar yang telah menjadi korban. Mereka diburu para pemburu anjing jalanan yang datang malam-malam. Orang-orang ini sering menjadikan lokasi-lokasi tetap yang biasa didiami anjing liar sebagai medan perburuan mereka: bangunan-bangunan tua tak berpenghuni, puing-puing reruntuhan, kolong jembatan layang, pojok gudang stasiun, dan tempat-tempat lain sejenis. Mereka ini mengincar anjing-anjing liar yang ada di sekitar lokasi-lokasi tadi. Mereka tangkap hidup-hidup bahkan tak jarang yang kemudian tewas tanpa ampun. Yang tewas ini biasanya adalah anjing-anjing yang berusaha melawan. Khawatir diserang, para pemburu anjing ini menembak mereka mati di tempat. Sebagaimana mereka yang tertangkap hidup-hidup, anjing yang tewas di tempat juga akan berakhir di kuali besar penggorengan atau di atas tungku pembakaran untuk kemudian menjadi hidangan lezat bagi para penggemar daging anjing.

Dengan berpindah-pindah, saya merasa lebih aman, lebih bisa menghindar dari buruan para pemburu itu.

Meskipun demikian, bukan berarti saya terbebas dari ancaman lain. Selain manusia pemburu, ancaman bahaya datang juga dari sebangsa saya. Mereka adalah anjing-anjing liar penguasa kawasan tertentu.

Mereka ini merupakan jenis anjing jalanan dalam arti yang sebenar-benarnya: lahir di jalan, besar di jalan, hidup di jalan, dan mati di jalan. Bisa kau bayangkan bagaimana mereka akan berusaha mati-matian mempertahankan surga yang seolah sudah ditakdirkan menjadi milik mereka itu. Saya yang selalu berpindah-pindah tempat, tentu menjadi ancaman bagi mereka-mereka ini. Jika ada anjing penguasa yang mulai menunjukkan tanda-tanda marah dan bersiap menyerang saya, saya dengan tenang menjelaskan padanya bahwa tak ada maksud saya untuk menetap di kawasan kekuasaannya itu. Saya hanya anjing pengembara, luntang lantung tak punya tujuan. Saya mampir di sana sekadar melepas lelah dan berharap bisa mendapat sedikit sisa-sisa makanan untuk bertahan. Sehabis itu, saya langsung berangsur pergi dan si anjing yang sudah marah tadi tak jadi menyerang saya.

Namun, malam ini tampaknya angin keberuntungan sedang tak bertiup di sekitar saya. Bagaimana tidak? Saya yang tengah tidur-tiduran sejenak di bawah kursi kayu taman, tiba-tiba diserang dua ekor anjing hitam. Tanpa bertanya, tanpa menunjukkan tanda-tanda kedatangan, mereka berdua langsung menyerang saya. Karena tak siap menghadapi serangan mendadak itu, gigitan-gigitan kedua anjing itu tak bisa saya hindari. Tentu saya kesakitan. Saya berusaha membela diri, tapi saya kewalahan. Sungguh, rasa-rasanya dua ekor anjing ini memang gemar bergelut. Dalam keputusasaan-tak disangka-sangka-kali ini justru para pemburu anjinglah yang menolong saya (bukan menolong dalam arti yang sebenarnya).

Maksud saya begini: waktu dua ekor anjing itu terus menyerang saya membabi buta, tiba-tiba terdengar suara-suara ribut yang begitu akrab di telinga kami. Mengenalnya sebagai suara para pemburu, dua ekor anjing itu mendadak berhenti menyerang saya, fokus pada upaya menyelamatkan diri. Justru mereka berdualah yang langsung menjadi objek buruan para pemburu itu. Sementara saya, dalam keadaan setengah sadar mendapat kesempatan melarikan diri ke arah lain yang tak menarik perhatian para pemburu. Ternyata, angin keberuntungan yang sempat berlalu pada mulanya, kini menghinggapi saya. Dengan terpincang-pincang, saya meninggalkan tempat itu, mencari tempat aman untuk bersembunyi sementara waktu. Saya akhirnya sampai di tepi sebuah kali di pinggir kota. Di sana ada sebuah jembatan. Di bawah jembatan itulah saya bersembunyi dan aman dari incaran para pemburu. Dalam persembunyian itu, barulah saya sadar kalau kondisi saya mengenaskan. Sekujur badan saya penuh luka dan bekas gigitan. Saya kesakitan. Sungguh, saya menderita. Saya meringis, saya menangis. Saya tak tahan.

Terus terang, saya mulai merasa teramat lelah bergelut dengan kehidupan jalanan. Saya tiba-tiba merindukan saat-saat yang menyenangkan dulu, kala saya masih menjadi anjing rumahan. Ingin rasanya saya mendapatkan kembali perhatian dari seorang tuan. Jika boleh meminta kepada Tuhan, saya ingin mati saat ini juga dan dilahirkan kembali sebagai anjing rumahan dengan catatan, tuan saya nanti akan memberi kesempatan kepada saya untuk tinggal di rumahnya sampai kapan pun, agar saya tak terbuang di jalan, supaya saya tak lagi menjalani hidup yang mengenaskan seperti ini.

Pikiran saya ini membawa saya pada tuan yang pernah merawat saya dulu, yang sebelumnya telah membeli saya yang masih anak anjing dari toko binatang piaraan. Tuan saya itu adalah seorang lelaki yang meskipun buruk rupa tapi kaya, berkat keuntungan tak henti-henti dari pabrik rokok miliknya. Meski demikian, ia tetaplah lelaki penyendiri yang kesepian. Tuan saya ini menganggap saya telah mampu membantu membunuh kesepiannya. Dengan demikian, ia sangat menyayangi saya. Ia memperlakukan saya dengan penuh kasih. Saya ketahui kemudian, ia memutuskan membujang sampai akhir hidupnya. Itu terjadi bukannya tanpa sebab. Dalam obrolan yang sering ia lontarkan kepada saya dalam bahasa manusia yang lumayan saya pahami, ia mengeluhkan dirinya yang sering dipermainkan dan disakiti wanita. Rata-rata mereka adalah wanita-wanita yang hanya mengincar hartanya. Dengan begitu, ia bersumpah untuk membujang selamanya dan setelah itu, ia memperlakukan perempuan-perempuan, semata sebagai hiburan. Setiap malam, ia membawa pulang perempuan yang berbeda-beda. “Tak boleh ada cinta. Cinta terlalu menyakitkan.” Itu yang sering ia gumamkan jika ada di antara para perempuan itu yang menawarkan diri untuk menjalin hubungan serius dengannya.

Saya memastikan bahwa tuan saya ini telah terjatuh dalam lingkaran pergaulan seks bebas bersama bermacam perempuan. Suatu malam, tuan saya tidak membawa pulang perempuan. Saya bertanya-tanya sambil memperhatikannya yang terlihat dilanda kebingungan. Ia bolak-balik berjalan tak tentu tujuan di dalam rumahnya sendiri. Ia bahkan sama sekali tak menghiraukan keberadaan saya. Ujung-ujungnya, ia duduk terbenam di sofa dan menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tiba-tiba saja tangisannya pecah. Dalam tangisannya itu saya mendengar ia bilang dirinya begitu takut setelah mendengar kabar tak lama lagi akan kiamat. Di penghujung tangisnya, ia menyatakan ingin bertobat supaya tak masuk ke neraka jika kiamat tiba.

Setelah malam itulah, ia menjelma lelaki yang sama sekali berbeda. Gaya hidupnya berubah seluruh. Ia serius dalam usahanya dan tak lagi bergaul dengan wanita-wanita. Ia menjadi rajin beribadah. Keberadaan saya mulai tak dihiraukannya. Perubahan nyata yang saya lihat, secara kejiwaan ia tak lagi kesepian. Ia telah menjadi lelaki periang yang mulai merasakan nikmatnya hidup di jalan yang lurus. Akhir-akhirnya ia sering mengajak teman-temannya untuk datang. Bersama-sama, mereka mendengarkan petuah dari seseorang kiai. Selain itu, mereka juga sering melantunkan ayat-ayat suci Alquran yang merdu dan membuat saya terbuai nikmat jika berhasil mencuri dengar.

Semakin hari, tuan saya makin mengabaikan saya. Hingga sampailah pada malam ketika ia tiba-tiba mendatangi kandang saya dan menampilkan wajah amarah yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Ia mengusir saya malam itu. Mulanya saya tak mengerti, saya anggap ia hanya berkelakar saja. Namun kemudian, ia memuntahkan perkataan yang membuat saya merasakan sakit bertubi-tubi.

“Pergi kau dari sini, binatang najis. Kau telah menghalangi malaikat datang ke rumahku. Kau pula yang menghalangiku masuk surga.” Saya tak langsung pergi sehabis ia mengutarakan itu. Namun, setelah ia melemparkan sebongkah batu yang mengenai badan saya, barulah saya tersadarkan bahwa ia tak main-main. Keberadaan saya tak diharapkannya lagi di rumah itu. Saya akhirnya pergi. Meninggalkan tuan yang telah mengusir saya, meninggalkan kehidupan menyenangkan sebagai anjing rumahan.

Semenjak pengusiran itu, saya tak pernah berani mendatangi atau sekadar melintas di depan rumah itu. Baru malam inilah saya memberanikan diri datang setelah mengumpulkan sisa-sisa nyali karena saya tak lagi tahan hidup di jalan. Di sinilah saya kini, di seberang jalan kecil depan rumah bekas tuan yang dulu sangat baik pada saya. Malam-malam begini, saya masih mendengar ia melantunkan ayat-ayat suci dengan merdu. Tampaknya, mantan tuan saya ini benar-benar telah bertobat dan mengisi hidupnya hanya dengan ibadah demi ibadah. Saya percaya, ia kini tentu juga telah mengetahui cerita masa lalu mengenai pelacur yang masuk surga hanya gara-gara memberi minum anjing yang sekarat karena kehausan. Pasti ia sudah mendapatkan kisah itu dan mau menolong saya yang sekarat ini.

Nyanyian-nyayian surgawi itu terus mengalir dan membuai saya. Saya akhirnya tertidur dalam kelaparan dan luka.

Saya bangun ketika terdengar lantunan azan subuh dari musala di perumahan itu. Saya lihat, mantan tuan saya bersiap mengunci pintu pagar rumahnya. Saya merasa gembira melihat mantan tuan saya itu. Tentu ia sudah menjadi ahli ibadah. Saya doakan ia diganjar surga nantinya. Ada perasaan rindu yang tiba-tiba menendang-nendang dada saya. Saya ingin menghambur dalam pelukannya sebagaimana dulu. Saya ingin menjilat-jilat pipinya sebagaimana dulu. Saya ingin, ia memperlakukan saya, juga seperti dulu. Saya pun tak bisa lagi menghalangi kaki-kaki saya yang membawa saya mengarah dan mendekat padanya, ingin menunjukkan diri, dan saya yakin ia mau menerima kehadiran saya kali ini dan mau menolong saya.

Sadar dengan kehadiran saya, dengan cepat ia justru mengambil segenggam batu dan melempar saya dengan beringasnya. Saya hanya bisa menangis. Tampaknya, ia tak akan pernah lagi menerima saya. Saya berlari menghindari serangan batu-batunya. Setelah di luar jangkauan lemparan, saya berhenti berlari dan mengamatinya dari kejauhan, sambil bertanya-tanya: “Belumkah ia mengetahui cerita mengenai pelacur yang masuk surga itu? Kemana lagi saya akan pergi? Ia akhirnya berhenti melempar saya lantas melanjutkan laju langkahnya menuju musala.

Saya duduk di rerumputan. Lagi-lagi, kebingungan menghantam kepala saya: Ke mana saya akan pergi? Saya memutuskan untuk tak langsung pergi. Saya tetap akan melakukan berbagai upaya untuk mendekati dan mengambil hati mantan tuan saya itu. Saya berharap usaha saya akan membuahkan hasil nantinya. Siapa tahu pula, dalam hari-hari ke depan ia mendapatkan cerita mengenai pelacur masuk surga itu.

Begitulah kemudian, saya tidak meninggalkan kawasan perumahan tersebut dalam minggu-minggu ini dan saya selalu menyempatkan diri berada di depan rumah mantan tuan saya setiap harinya. Saya sudah bulat dengan tekad untuk tetap menunjukkan padanya bahwa meski hanya seekor anjing, saya tak akan pernah lupa dengan kebaikannya. Meski ia membenci saya kini, saya tak akan pernah membencinya. Saya ingin menunjukkan bahwa saya layak menemaninya dan saya bisa membalas budinya. Saya yakin, jika saya gigih, ia pasti kembali memberikan kesempatan kepada saya untuk tinggal di sana, meski hanya di luar rumahnya.

Malam ini hujan turun dengan derasnya. Dari balik pepohonan, saya melihat dua orang menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan. Dua orang itu mengendap-endap di samping rumah mantan tuan saya. Sekejap kemudian, dengan sebatang besi mereka membuka paksa satu dari jendela rumah itu. Salah satu dari dua orang itu masuk dan yang satunya lagi berjaga di luar. Saya mulai berlari mendekat setelah melihat gelagat yang tidak baik itu.

Saya terus berlari dan mulai menggonggong. Saya langsung menerkam orang yang berjaga di luar dan saya gigit tangannya. Ia tak bisa menghindar, tak mampu mengimbangi serangan saya. Ia akhirnya berlari meninggalkan rumah itu, setelah gigitan pada tangannya saya lepaskan. Setelah itu, saya meloncat masuk melalui jendela yang terbuka. Saya langsung menerkam membabi buta seorang yang tengah mengancamkan pistolnya pada mantan tuan saya. Serangan mendadak saya membuatnya terduduk kemudian terbaring. Kesempatan itu digunakan mantan tuan saya untuk menyelamatkan diri. Ia berteriak-teriak ke luar rumah meminta bantuan tetangga.

Sesaat kemudian, saya mendengar sebuah letusan. Letusan itu ternyata berasal dari pistol yang masih berada di tangan rampok ini. Sebuah peluru bersarang di perut saya. Saya melemah, saya melepas perampok itu yang kemudian berusaha bangkit tertatih dan melepaskan lagi sebuah tembakan tepat mengenai kepala saya. Ia melarikan diri meninggalkan tempat itu, meninggalkan saya dalam genangan darah.

Dalam keadaan setengah mati, setengah hidup, saya tahu bahwa mantan tuan saya kembali datang bersama beberapa orang. Mantan tuan saya tak berani masuk ke rumah. Ia hanya memperhatikan saya dari beberapa jarak. Dua orang pemuda mendekati saya dalam rangka memastikan apakah saya masih hidup atau sudah mati. Setelah memastikan nyawa saya masih ada, mereka bertanya pada mantan tuan saya. “Bagaimana dengan anjing ini?”

“Tolong singkirkan dari dalam rumah saya.” Mendengar itu, rasa-rasanya maut makin kuat menarik saya. Dua pemuda itu bergegas memasukkan saya ke dalam karung bekas beras dan mengikatnya serta membuang karung itu bersama saya di dalamnya ke kali, di luar perumahan.

Demikianlah, mantan tuan saya sudah benar-benar melupakan saya dan menganggap saya hanyalah seekor anjing belaka.

Tarakan, 23–25 Oktober 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *