Malam Penuh Kecoa

Berto Tukan
sinarharapan.co.id

Malam gelap; bulan dan bintang pun tak ada. Alam tak berwarna, hanya gelap. Terlebih di kandang berukuran 3×4 meter yang tak berpenerangan secuil pun itu. Satir dan Tarjo berada di sana, entah karena apa.

Tarikan-tarikan napas pendek, tersengal-sengal, merambah genderang telinga keduanya. Bebunyi napas semakin mendekat! Satir terpaku! Perlahan ia keluarkan pemantik api dari saku celananya. Pemantik dinyalakannya; beribu-ribu kecoa beringsut mendekati mereka. Perlahan-lahan, binatang-binatang kecil menjijikkan mulai mencium-cium sepatu Tarjo, lalu melata naik memenuhi celana. Penghuni tetap tempat sampah menggigit sepatu Tarjo, memamah celana. Tarjo panik!

Satir menyambar jeriken minyak tanah yang terletak tidak jauh dari kandang. Disiramnya, lalu dibakarnya! Dalam hitungan sepersekian detik, kandang jadi bara panas, kecoa-kecoa menggeliat kepayahan tergoreng bara kandang. Bau serangga terpanggang mengepung udara. Sambil mencampakkan kecoa-kecoa yang melekat di pakaian mereka ke dalam api, Satir menggandeng Tarjo menjauh.

Kecoa-kecoa dengan tubuh penuh api muncul di hadapan mereka; siap menghadang langkah mereka. Api memercik-mercik dari tubuh kecoa dan panasnya meluluhkan pandangan Satir. Tarjo melepas genggaman tangan Satir, lalu berlari ke pekat malam. Kecoa dengan api menyala di tubuhnya, mendekati Satir?

06.00 am sampai
Seorang aktor panggung tenar ibu kota, tiba-tiba berubah menjadi anjing siang kemarin. Menurut pengakuan para tetangganya, sang aktor telah menampakkan perilaku aneh beberapa hari terakhir ini. “Dia pernah tertangkap basah sedang menyiksa anjingku,” lapor seorang ibu muda. Banyak pula yang bersaksi sering mendengar lolongan, erangan, kaingan anjing dari rumah aktor itu. Ibu kota geger, masyarakat cemas, penguasa kota kalang kabut. Ada dugaan bahwa, kejadian itu disebabkan terlalu banyaknya populitas anjing di ibu kota.1

“Gila! Dunia semakin aneh!” batin Satir seusai membaca koran pagi. Lelaki paruh baya yang sadar akan kedudukan tingginya tersebut, meletakkan koran di meja, di samping cangkir kopi dan asbak rokok. Tarikan napasnya letih; terhimpit berita tadi.

“Petanda apakah ini? Mungkinkah kiamat sudah dekat. Ataukah ini adalah konsekuensi dari sepak-terjang manusia yang tak lagi dikendalikan kitab-kitab tua?” Teringatlah Satir akan ajaran Guru Agamanya di kampung dahulu. “Ah, betapa indahnya. Belajar membaca Kitab, dengan intonasi mendayu-dayu, bahasa laksana mantra, lalu mendapat pujian, kadang hadiah bila bacaannya sempurna.” Permenungannya terus menampakkan jalan hidupnya dari masa itu hingga saat ini.

Yah, mau bagaimana lagi? Kalau cuma mengharapkan gaji saja walau gaji buta, tentu kelima anaknya tidak bisa bersekolah di luar negeri? Hidupnya pasti serba kekurangan. Mobilnya pun, mungkin hanya yang berpelat merah dari kantor itu. Dan istrinya, anak mantan seorang pejabat tinggi itu, pasti akan mengomel setiap hari. Sedangkan dia tentu tidak akan mengecapi gaya hidup enaknya sekarang ini.

Tilililit, tililililit, tililit!? telepon genggam Satir berdering.
“Pagi, Pak Tarjo!” “Bisa, Pak? Sudah pasti itu? Jam berapa?” “Oke!! Kita bertemu di sana, sore ini. Yang lain juga datang?” “Oke, Pak! Sampai jumpa.” Ada tugas, ada duit. Ada keuntungan menunggunya.

Setelah berpamitan pada istri, sebuah ritual pagi yang cukup menyiksa, Satir melangkah ke BMW dan Pak Sopir yang telah menanti. Memandang sopir setia dan terpercayanya, Satir teringat mimpi semalam. “Aneh! Aku dan Pak Tarjo diserang kecoa!?”

Satir ceritakan mimpinya pada si sopir. Sambil memuji sebagai petanda baik, si sopir pun mulai mengutak-atik angka untuk togel dan tokam. ?Pada jam-jam seperti itu, bosku pasti menyetir sendiri. Aku cukup bersiap-siap di rumah, menunggu kedatangan bos, lalu mengantar BMW kembali ke garasi? batin si sopir.

Dan seperempat hari itu pun berjalan seperti kemarin kembali, dengan berita aneh yang hilang dari ingatan.

12.00 am sampai
Satir kembali duduk di dalam BMW. Pak Sopir sudah tahu, ke mana mereka harus pergi. Yah, Satir membutuhkan refresher setelah terimpit sebukit kasus perdata maupun pidana di ruang kerjanya tadi. Sementara di kejauhan, beduk menyeru-nyeru sampai beku, minta Satir belokkan BMW-nya.

Setengah jam kemudian, Satir terlihat berada di sebuah restoran kelas wahid bersama seorang perempuan muda cantik. Satir berbasa-basi tentang kesibukannya di kantor akhir-akhir ini. Ada kasus gawat yang menguntungkan dan harus cepat-cepat dicari jalan keluarnya. Tentu saja kasus itu berkaitan dengan hilangnya uang negara. Apalagi sih berita yang lebih seksi dari berita itu, sekarang ini? Dan si perempuan muda cantik dengan rambut yang masih berbau salon, mengeluhkan mobilnya yang lecet diserempet bajaj kemarin.

“Ah, perkara gampang! Kasus kecil! Orang yang jelas-jelas telah mencuri pun, bisa kuatur sampai nyata-nyata tidak mencuri, kok?” Satir berujar, sedikit bercanda.

Perempuan muda cantik mendengar dengan penuh minat, lalu minta sedikit uang ongkos jalan-jalan pada Satir. Satir cubit dagu lancipnya, lalu melajukan BMW entah ke mana. Sopir cuma mengiri, lihat Satir asyik ke langit bersama perempuan itu di jok belakang. Dan ia pun terus memperhatikan jalan di depannya sambil memikirkan angka-angka.
Siang itu mendaki hari penuh degupan-degupan, hilanglah kasus besar dan kecil.

04.00 pm sampai
Kini wajah Satir yang familier bagi praktisi dan mahasiswa hukum itu, terlihat di lobby sebuah hotel berbintang lima. ?Sepertinya aku terlalu cepat tiba di sini,? batinnya sambil menengok arloji. Satir pandangi seluruh ruangan sejurus, lalu mulai memencet-mencet hp-nya. Sang istri yang sedang asyik berarisan, menerima SMS, “Ma, Papa pulang malam. Ada pertemuan dengan Pak Tarjo.” Sang istri telah paham, suaminya pasti tak pernah jemu untuk menambah persediaan materi mereka. Dan yang terpenting, suaminya tak lupa untuk meremajakan kemakmuran mereka.

Petugas hotel meletakkan koran di dekat Satir. Satir mengambilnya. Dia teringat berita yang dibacanya pagi tadi. “Pasti berita itu diturunkan juga di koran ini,” batin Satir sembari membolak-balik koran terbitan sore itu.

Nihil! Berita tentang animalization tak ia temukan. Halaman satu memuat berita tentang dugaan korupsi Tarjo dan harapan dari begitu banyak orang agar Tarjo bisa dipenjarakan. “Ah, tak perlu dibaca. Hasilnya kan sudah aku ketahui!?” Satir terus membolak-balik dengan santai koran itu?

“Mari Berkorupsi”, terpampang lebar-lebar sebagai sebuah ajakan indah di halaman tengah. Satir menegakkan duduknya. Matanya awas melahap larik-larik berita. Kaca matanya naik turun mengikuti gerakan hidung, akibat ringisan atau senyuman.

Siang tadi di Bundaran Hotel Indonesia, seorang pria berdemonstrasi sendirian. Disaksikan semua orang yang lewat, pria itu mengajak sekalian anak bangsa untuk menggalakkan korupsi di semua bidang kehidupan. Ketika ia ditanyai oleh seorang wartawan tentang kemungkinan penahanan dirinya lantaran ajakannya yang aneh itu, pria (bernama Tengul) tersebut hanya menunjuk pada seorang polisi yang tertawa senang dan seorang pejabat peradilan terkemuka yang asyik mengabadikan aksinya, sambil melambai-lambai padanya???2

“Nah, ini baru berita! Sebuah terobosan baru! Setidak-tidaknya, ada orang yang hendak membenarkan gaji siluman yang telah menjadi keharusan selama ini. Lelah kan, kalau harus main kucing-kucingan terus?” batin Satir.
“Wah, sedang membaca berita apa, Pak? Kok sampai tersenyum-senyum sendiri?”

“Oh, Pak Seto! Ini, ada berita tentang ajakan untuk menghalalkan korupsi.”
“Pasti peristiwa siang tadi di sekitar tempat ini, kan? Ha..ha.. itu kan permainan anak kecil, jangan terlalu dipikirkan?”

Satir terus membaca berita itu sambil senyum kecil-kecil. Sejawat Satir yang lain pun mulai berdatangan. Pak Tarjo tiba paling belakangan. Pria dengan karier politik yang teramat sukses inilah yang sangat berkepentingan dengan pertemuan sore ini. Dan seperti biasa, pertemuan untuk menemukan formula pencabutan tuduhan terhadap Tarjo ini pun, terlaksana dengan sangat baik dan dalam waktu yang teramat singkat. Kesepakatan antara peserta pertemuan, sudah ada dengan sendirinya. Strategi dan cara mainnya pun terlalu gampang untuk dirancang.

Satir keluar dari pintu utama hotel dan masuk ke BMW yang telah menanti. Ia memberi sopir tips hari ini, lalu menyuruhnya duluan pulang ke rumah.

Satir menyetir sendirian memasuki pintu tol. Sejam kemudian, ia tiba di rumah perempuan cantik. Si perempuan sudah hafal jadwal Satir, sehingga ia telah menanti sembari menonjolkan potensi-potensi dirinya. Satir pun melayang dalam pesona padang asmara perempuan muda cantik molek itu.

11.00 pm sampai
Satir tergolek di samping tubuh telanjang perempuan muda molek. Dipandangnya tubuh menggiurkan itu. “Ah, berkali-kali kujelajahi tubuh ini. Berulang-ulang ia menggeliat dalam fantasi yang membumiku.” Teringat pula tubuh istrinya yang masih indah, enak dipandangi, dan diarungi. Tapi, tubuh di sampingnya inilah yang lebih menjanjikan liarnya dan nikmatnya belantara birahi.

Satir bangkit, berkemas, dan melangkah ke luar. Perempuan molek dibiarkannya saja. Satir duduk di beranda. Dilihatnya sebuah koran terbitan kota tetangga edisi beberapa hari yang lalu. Satir membakar sebatang rokok, lalu diapitnya di antara bibir. Ia pun sedikit merenggangkan otot dengan membaca koran?

“Ngatimin terus mencari-cari lidahnya yang hilang.” Tiba di kepala berita ini, Satir serius membaca. Ngatimin, ayah lima anak dan seorang pengangguran, terus mencari-cari lidahnya yang hilang. Semula, ia memang berencana memotong lidah yang menurutnya tak ada gunanya lagi itu. Tetapi sebelum niat itu benar-benar mantap, lidahnya telah duluan dipotong orang secara paksa. Sedangkan di tempat terpisah? tersangka seorang perempuan tua yang berprofesi sebagai pembunuh buaya? mengatakan bahwa, ia memotong lidah Ngatimin karena kesal. Akhir-akhir ini, banyak orang yang memesannya untuk memotong lidah mereka. Tetapi beberapa hari kemudian, orang-orang itu selalu saja membatalkan niat mereka.3

Satir kembali duduk di belakang setir mobil mewahnya. Waktu tak pernah mengizinkannya untuk melahap semua isi koran. Kepalanya pening. Terlalu banyak berita aneh hari ini. Ada orang yang berubah menjadi anjing, ada yang terpotong lidahnya, hanya berita si Tengulah yang cukup rasional dan bisa diterima oleh akal sehatnya. Satir termenung. Ia bersyukur, sampai hari ini ia tak pernah dihinggapi hal-hal aneh.

BMW perlahan keluar dari kompleks perumahan. Sekeliling telah sunyi. Para penghuni perumahan mungkin sedang berkutat dengan mimpi. Teringat ia akan mimpinya semalam, “Ah, cuma mimpi, bunga tidur, halusinasi. Aku orang rasional. Aku tak percaya hal-hal aneh, apalagi berbau mistik dan sebangsanya itu. Bagiku, semua kejadian pasti punya pertalian hubungan sebab akibat. Tak ada yang terberi begitu saja!”

12.00 pm sampai
“Trak, traaak, tratraaaaaak??” Bagai gerimis batu, bunyi-bunyi itu menghujani atap BMW. Seekor kecoa tiba-tiba saja menempel di kaca mobil, diikuti kecoa berikut, berikut, berikutnya lagi?. Hingga seluruh BMW-nya penuh oleh binatang-binatang itu.

Serangga-serangga kecil berantene baja menempel di kaca. Antene bajanya menghujam kaca. Kaca mobil mulai retak, pecah sana-sini. Pintu BMW pun diremukkan mereka.

Satir terpaku! Tak percaya! Ditamparnya pipi sendiri, terasa sakit. Maskot sampah memasuki mobil! Satir keluar dari mobil! Kecoa-kecoa memanjati celananya! Ia lari! Kecoa mengejarnya! Mobil pun bersih dari mereka.

Satir terus berlari, kecoa-kecoa terus mengejar, sembari perlahan-lahan berhasil bergelantungan di celananya dan memanjat naik. Tubuh Satir kini penuh dengan para penghuni tempat sampah. Mereka menjatuhkan kaca matanya, mengaburkan pandangannya. Jalan tak bisa dilihatnya lagi. Kakinya berkali-kali tersandung.

Satir terjatuh. Antene-antene kecoa menikamnya, melubangi dadanya, mencabuti hatinya. Liur mereka memenuhi mukanya, tubuhnya penuh dengan lendir beraroma Bantar Gebang. Maka, kelopak Satir pun jatuh.

Dilihatnya perempuan muda cantiknya lari menjauh, istrinya mengejar, di belakang istrinya ada perempuan muda molek, di belakang si molek ada ibu dari anak-anaknya! Beribu perempuannya dan beribu istrinya berkejar-kejaran! Kecoa-kecoa melihat dua perempuan itu juga. Mereka tinggalkan Satir dan mengejar para perempuan; hilang ditelan duka bulan.

Dengan sisa tenaga, Satir bangkit berdiri. Darah merembes perlahan dari lubang menganga di dadanya, menggenangi aspal, lalu mengalir perlahan ke lubang kecil di tepi trotoar. Satir melihat sesobek koran. Dua detik lagi pasti basah oleh darahnya. Satir menyambarnya. Lampu jalan yang remang-remang menampakkan; jenazah rambutmu/ lindu telah kembali/ raib, memulai segenap tidur dan sihir/ tak ada akhir dan bumi hanya dingin/ bendera kabut/ mengacungkan parang abad/ abad surealis.4

Palmeriam, Maret 2004

Catatan:
1 Secuil, ?Kota Anjing?, cerpen oleh Nur Zain Hae; Koran Tempo, 2 Maret 2003.
2 Secuil, ?Mari Berkorupsi?, cerpen oleh Adji Subela; Sinar Harapan, 20 Desember 2003.
3 Secuil, ?Kembalikan Lidahku?, cerpen oleh Sugito Hadisastro; Suara Merdeka, 14 Maret 2004.
4 Sesobek puisi oleh Indra Tjahjadi, ?Laut yang Hanya Mimpi?; Suara Pembaruan, 15 Februari 2004.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *