Membangunkan Indonesia yang Terlelap

Judul Buku: Indonesia… BANGKIT!!!
Penulis: Tung Desem Waringin, Dkk.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: cetakan I, 2009
Tebal: viii + 235
Peresensi: Naqib Najah*
http://www.harianbatampos.com/

Bila mereka yang bergelut di dunia politik sibuk mengurus persiapan Pemilu Presiden Juli mendatang, maka tak ada salahnya jika para ahli psikologi berkumpul meramu motivasi bagi negara yang tak kunjung lepas dari dilema ini. Inilah sumbangsih sekaligus bentuk solidaritas untuk membangun bangsa. Teriakkan Indonesia…. Bangkit!!! Begitulah yang diharapkan oleh para trainer motivasi dalam buku ini.

Memang benar adanya, bahwa kemajuan sebuah bangsa tergantung pada mobilitas mereka yang duduk di kursi negara. Namun siapapun tak bisa menolak bahwa memajukan (atau kalau boleh dibahasakan ?mendidik?) jiwa rakyat adalah tugas penting yang tidak boleh disepelekan. Sebab dimana terdapat jiwa yang besar, maka lahirlah bangsa yang penuh kewibawaan. Namun sayangnya, banyak di antara pejabat negeri yang justru lupa dengan hal ini. Mereka sibuk merancang UU negara, tapi sedikit sekali yang peduli dengan mental rakyatnya.

Telinga kita sudahlah akrab akan pedoman yang mengatakan: kenyamanan hidup lebih penting ketimbang kemegahan, dan kekayaan hait lebih berharga daripada kekayaan materi; maka membangun jiwa rakyat sangatlah perlu mengingat kondisi negeri yang semakin parah ini. Ya, setidaknya bila ekonomi negara tak kunjung menemukan titik cerahnya, masyarakat kita masih memiliki jiwa yang luas, lapang akan segala cobaan.

Ibaratnya, para amotivator pada kesempatan kali ini mengajak masyarakat kita untuk rehat sejenak dari keadaan negeri. Dari hiruk-pikuk persiapan pemilu, dari kebisingan janji calon pemimpin negara yang sangat klise itu. Lewat buku yang tak sebegitu tebal ini, Pembaca diharapkan merasuk sebentar ke alam pikir mereka. Tariklah sebuah refleksi: benarkah ketidak-beresan negara selama ini seratus persen kesalahan para pemimpin?

Tak ada salahnya rakyat melayangkan suaranya, sah-sah saja mereka berdemo menuntut ini menuntut itu…… namun sebelum kita tenggelam jauh, alangkah baiknya kita menelisik jiwa secara lebih intens lagi. Bisa jadi, apa yang selama ini kita anggap sebagai ketidak beresan, adalah perantara jiwa kita yang salah menanggapi keadaan (baca: sikon). Ya, bisa saja suara-suara sumbang yang kita koarkan di hadapan gedung pemerintah itu, hanya karena jiwa kita yang tidak bisa menakar antara ditindasnya hak dengan proses menemukan kesejatian revolusi.

Sebagai rakyat, nampaknya sangat perlu berpikir positif terhadap kinerja atasan. Di sinilah lahan terciptanya interaksi dua kubu (rakyat dan pemimpin) yang bila terjalin sedemikian erat, maka akan terwujudlah ketentraman.

Termasuk berpikir positif, adalah memahami bahwa bangsa ini sedang menjalanai masa penemuan jati diri. Terlepas dari lama dan tidaknya proses penemuan tersebut, yang pasti demikianlah keadaannya. Bangsa Indonesia sedang berproses menuju kedewasaan, biarlah kepahitan dia kecap. Hal ini terlihat, setidaknya dari orasi kaum elit politik yang selalu menyertakan kata perubahan di setiap pidatonya. Bisa dipahami, siapa yang berusaha menemukan jati diri, tentunya menemukan kepahitan pula di tengah pencariannya itu. Oleh karenanya, menggiring psikologi rakyat, mengajak nalar mereka untuk sadar bahwa kesakitan rakyat tidak seratus persen kecurangan UU negara, atau ketidak sanggupan pemimpin untuk membangun sebuah bangsa. Barangkali saja, ini adalah imbas dari proses pencarian di atas.

Menakar antara ditindasnya hak dengan kesadaran arti proses sangatlah penting. Supaya aksi protes kita benar-benar didahului refleksi panjang, bukan sekedar gembar-gembor hak belaka. Ya, marilah menelaah kembali, mana hak yang sangat tertindas, dan mana kesadaran kita untuk melihat bahwa kesakitan kita adalah proses menuju kedewasaan bangsa.

Sebagai penerbit yang berinteraksi dengan penulis buku motivasi, kami melihat bahwa negara kita mempunyai masalah besar dalam cara berpikir (mind-set), begitu penerbit memberikan kata pengantarnya.

Patut sekali kita mengapresiasikan buku karya beberapa trainer motivasi kelas atas ini. Sebutlah, Adi W. Gunawan, Andrew Ho, Tung Desem Waringin, Anand Khrisna, James Gwee, Tommy Siawira dan beberapa kawan sejawat lainnya. Bahwa tak bisa dipungkiri, kehadiran para motivator telah memberi warna bagi bangsa ini, (hal. Viii).

Mereka (para motivator) berniat membangun bangsa bukan lewat rancangan UU, atau pencalonan diri sebagai anggota Legislatif, namun justru lewat titik kecil yang sangat esensial untuk kebangitan sebuah negeri. ?Titik kecil? itu adalah, berbagi (ingat, ?berbagi? bukan ?memberi?) motivasi kepada rakyat jelata. Dua hal yang terpikirkan oleh kami adalah sumbangan material kepada masyarakat kita yang terpuruk dan sumbangan inspirasi serta semangat atau motivasi kepada saudara-saudara sebangsa yang yang tenggelam dalam arus pesimisme dan keputusasaan, lanjut pengantar penerbit.

Biarlah kaum elit politik bermain dengan undang-undang, dan mereka (ahli motivasi) mentransfer inspirasi ke lubang jiwa manusia. Sebab Tuhan memberikan keunggulan pada jiwa masing-masing, sebab Tuhan mentakdirkan jalan yang berbeda bagi makhlukNya.
Barulah 20 Mei kemarin negeri ini marak oleh akan kata kebangkitan: Bangkitlah… Bangkitlah!!! Sebenarnya, kebangkitan seperti apakah yang kita maksud? Patut sekali kita menelaah arti kebangkitan tersebut…
***

*) Sampai saat ini, masih tercatat sebagai anggota Komunitas KUTUB Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *