Puisi-Puisi Dorothea Rosa Herliany

sastrakarta.multiply.com

NIKAH PISAU

aku sampai entah di mana. Berputarputar
dalam labirin. perjalanan terpanjang
tanpa peta. dan inilah warna gelap paling
sempurna. kuraba gang di antara sungai
dan jurang.

ada jerit, serupa nyanyi. mungkin dari
mulutku sendiri. kudengar erangan, serupa
senandung. mungkin dari mulutku sendiri.
tapi inilah daratan dengan keasingan paling
sempurna: tubuhmu yang bertaburan ulatulat.
kuabaikan. sampai kurampungkan kenikmatan
sanggama. sebelum merampungkanmu juga: menikam
jantung dan merobek zakarmu, dalam segala
ngilu

NYANYIAN KEHILANGAN

sebab gorden terbuka.
dan wajahmu mengabur
dalam hujan
di kaca jendela.
dalam usia yang merambat
pada kalender: abadabad tua
yang terlepas ke lantai.
(dan lukisan itu
kembali menempel pada dinding.
membiaskan batu tanah
yang menyingkir dari dekap
hujan)
masih kucium amis nafasmu.
memburamkan kaca
pada pigura itu. Dan
wajahwajah di dalamnya
: mengabut. fana !

SEMESTA LUKA

matahari menghitung sendiri luka yang kucuri
setiap pagi. pedihnya mengirimkan ribuan cahaya
yang merajam tubuhwaktu. aku tak mampu menuliskan kesedihan
itu ajal demi ajal yang selalu tiba-tiba.
aku terkurung dan tak bisa melompat lewat
sejuta pintu terbuka

segugus galaksi menangkap airmata matahari
bintang dan ribuan planet memburu detakjantung
sepinya. kutanam tunas cintaku. berapa ratus milyar
depa lagikah kubutuhkan untuk membalut perihnya?
sementara janinku membesarkan matahari lain.
ayahnya ribuan penjagal waktu. ia menunggu
semua pintu dan jendela. tak ia inginkan
tangis pertamanya meninggakan ruang luka.

bayi itu lahir. kita menuliskan sejarah
dalam abad bencana!

Berlin, 2003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *