Melek Sastra Sedari Dini

Judul Buku: MEMILIH, MENYUSUN DAN MENYAJIKAN CERITA UNTUK ANAK USIA DINI
Penulis: Tadzkiroatun Musfiroh (Mbak Itadz)
Penerbit: Tiara Wacana, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: xviii + 234 halaman
Peresensi: Abdul Muis *
ruangbaca.com

Membumikan tradisi literer memang bisa ditempuh lewat banyak cara. Entah festival, sayembara, penerbitan karya, simposium, atau apresiasi lainnya. Namun ada satu hal yang selama ini sering dilupakan, yakni generasi kita terlambat mengenal dunia literasi. Kesan elitis muncul karena, antara lain, sedari dini pada generasi kita tak ditanamkan rasa cinta terhadap, misalnya saja, sastra.

Kemarau panjang dunia sastra sesungguhnya mewakili potret kegagalan pendidikan dalam maknanya yang luas. Kita belum mampu melahirkan generasi yang bisa diandalkan. Kebiasaan mengkambinghitamkan orang, membuat kita abai bahwa anak-anak, sebagai pewaris zaman, lebih membutuhkan perhatian.

Buku ini secara tak langsung menampar muka kita untuk menengok ke dalam. Sederhana saja, namun sangat mengena: mendidik anak-anak usia dini dengan cerita. Tema ini sangat jarang dibahas dan diulas, bahkan oleh para penggiat sastra sekalipun.

Padahal, bercerita adalah salah satu metode pembelajaran seni bahasa tertua di dunia. Tak hanya menyemai kecintaan pada sastra dan bahasa, cerita membangkitkan daya imajinasi anak-anak, sekaligus menyediakan wadah bagi mereka untuk megenali serta mengolah segenap perasaan, seperti sedih, gembira, senang, terharu, simpati, marah, cemas, dan naluri emotif lainnya. Cerita membuat anak senantiasa merindukan suasana ruang kelas yang hidup di playgroup atau taman kanak-kanak. Saat-saat menjelang tidur juga akan terasa kurang dan tak sempurna jika dilewati tanpa satu pun cerita.

Cerita adalah medium paling efektif untuk mentransmisikan nilai-nilai baru yang kelak akan membentuk kepribadian anak ketika dewasa. Pada dasarnya, anak-anak tak suka dicekoki dengan perintah dan pengetahuan yang kaku, apalagi teoritis. Karena itulah, dengan cerita, transmisi nilai-nilai menjadi lebih natural dan bermakna.

Cerita memantik mereka untuk mengolah otak, sebab untuk pertama kalinya, anak-anak akan belajar menginterpretasi sebuah narasi cerita. Tanpa dipaksa, dengan sendirinya mereka belajar mengidentifikasi tiap karakter tokoh, jalan cerita, setting dan sudut pandang. Interpretasi ini berujung pada sebuah kesimpulan yang membuat mereka mampu menentukan cita-cita, kebenaran, kepantasan, kebaikan, moral, dan segala bentuk negativitas yang merupakan kebalikan dari itu semua.

Lebih-lebih berbagai penelitian psikologi (seperti Hurlock, 1997 dan Musthafa, 2002) menyimpulkan bahwa perkembangan awal lebih penting daripada perkembangan selanjutnya. Studi genetik juga menunjukkan hingga usia lima tahun semua anak kecil mengikuti pola perilaku umum lingkungannya. Sisa usia yang puluhan tahun jumlahnya kemudian hanya berupa tahapan perkembangan menuju kematangan yang cenderung mengerucut pada usaha individu.

Persoalannya, bagaimana sebuah cerita harus disampaikan? Seberapa besar tanggung jawab dan peranan yang dimainkan oleh pendidik, baik orang tua atau guru? Prinsipnya adalah sebuah tugas mulia harus diemban dan dilakukan sesempurna mungkin. Sebab, meski tak bisa dipukul rata, kebusukan sebuah generasi menandakan gagalnya pendahulu mereka dalam mendidik. Begitu pula sebaliknya.

Para pendidik idealnya mempertimbangkan benar-benar keseluruhan aspek dalam bercerita. Aspek-aspek perkembangan bahasa, sosial, emosi, kognitf, dan moral semestinya saling bertaut-paut membentuk rangkaian cerita utuh yang menghadirkan makna. Kegagalan pendidik dalam bercerita umunya berakar dari kelemahan teknik dan penguasaan jenis cerita.

Karena alasan itulah, jenis dan sumber cerita tak bisa dianggap sepele. Anak-anak tak bisa begitu saja disuguhi aneka cerita yang berseberangan dengan, misalnya, nilai-nilai patriotisme dan kemanusiaan. Koleksi jenis dan sumber sebenarnya bisa diperkaya dari sejarah, cerita rakyat, cerita fiksi modern, hingga cerita faktual. Ini artinya, upgrading dan updating koleksi cerita harus menjadi agenda tetap dalam jadwal para pendidik.

Dari koleksi yang beragam, pendidik seyogyanya mampu mengukur bobot, tujuan, dan kondisi tertentu sehingga cerita yang dipilih menjadi relevan. Unsur kebaruan pun tak kalah penting. Dongeng kancil, misalnya, yang disampaikan tiap malam jelas sangat membosankan.

Kreativitas pendidik juga sangat dibutuhkan. Baik bercerita menggunakan atau tanpa alat peraga, teknik-teknik seperti menirukan bunyi atau suara, menghidupkan suasana, hingga mengatur diksi dan struktur cerita sangat menentukan keberhasilan. Cerita menjadi tuna-makna jika dialog antartokoh tak maksimal, miskin improvisasi, penghayatan yang tak penuh, dan klimaks seadanya.

Meski terdengar penuh tuntutan, perlu diingat unsur-unsur tersebut bersifat menopang dan membantu. Tentu saja, seorang pendidik tak perlu terpaku dengan mengingat-ingat teknik menirukan bunyi ketika memeragakan Ibu Malin Kundang yang tengah mengutuk anaknya menjadi batu. Mengalir dan natural saja. Memahami konsep dasar bercerita hanya diperlukan, sekali lagi, untuk membantu pendidik secara praktis dan sekaligus menyadari bahwa bercerita adalah aktivitas yang kaya akan nilai.

Di sinilah, orang tua dan guru sebagai pendidik mesti menyadari betul peran dan tanggung jawab mereka. Apa yang mereka lakukan untuk pendidikan anak-anak, sungguh pengabdian yang sangat mulia. Dengan satu pembayangan yang jauh ke depan, bangsa ini niscaya bangkit dari keterpurukan jika diurus oleh generasi yang cinta ilmu, patriotik, humanis, mempunyai semangat mengabdi, beretos kerja tinggi, dan, tentu saja, senantiasa menjunjung nilai-nilai moral serta etika.

Kekurangan buku ini terletak pada kualitas cetakan yang kurang sebanding dengan isinya, plus miskin ilustrasi gambar. Idealnya buku ini juga dilengkapi contoh kasus agar diketahui seberapa andal metode-metode bercerita yang disampaikan. Sekalipun begitu, buku ini tetap layak direkomendasikan bagi mereka yang menggeluti pedagogi anak dalam aspek teori dan praktikalitasnya.

*) Penikmat sastra dan pengajar di sebuah sekolah dasar swasta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *