Puisi-Puisi Dadang Afriady

Dalam Perjalanan

aku antarkan kau melewati malam hujan
melintasi pohon-pohon dingin
menahan gigil terbatin

malamlah yang mencipta lorong gelap,
menyimpan kenangan-kenangan
dari beribu rintik hujan, dan matamu merekam lagu sendu
melawan pijar lampu jatuh,
menyalami pejalan-pejalan yang berteduh.

kota kita dipenuhi cahaya lampu jalan,
tiris garis hujan menyapa setiap tatap perpisahan,
menyimpan awan yang gelap, menarik celana
kemudian memasang bibir rindu,
menunggu hujan reda;
adalah basah dan dingin,
adalah siluet matamu yang menusuk tubuh beku
jadilah musuh dalam kembara sunyi,
agar tumbuh dendam daun-daun
yang terlempar dari setia embun jatuh
dan kaulah yang menancapkan tangan gemetar
memeluk punggungku.
menulis dengan tangan penuh luka
mengalir darah pada parit dadamu.

sementara,
aku menulis kenangan
dalam kubur sendiri
melukis malam hujan dengan titik
menumbuhkan pohon-pohon bayangan
dari punggung yang koyak,
sekadar berbagi pagi yang berakhir
di tempat sunyi seperti angin menyerbu
yang menghilang pada
daun-daun bergetar
menyalamkan hal lain tentang musim hujan
dalam memoir perjalanan.

[2006]

Di Sepanjang Pohon-Pohon Berdaun Jarum

di sepanjang pohon-pohon berdaun jarum
cuaca kemarau, menggantang tangan-tangan
sunyi, menengadah pada daun jatuh,
di garis zebra cross, sepasang kekasih masih
berpelukan, dan lampu merah merangsang warna
hijau di hatimu yang biru,
ranting-ranting patah, bunga-bunga
perdu.

tanganmu adalah selembar getir yang digelar
menyimpan dingin yang dalam
lebih pada panas aspal, juga hatimu senyeri
bunga pinus.
menikam penantian malam-malam panjang
dan dingin barangkali akan menyimpan benih
senyum yang tersimpan rapat di atap
barangkali di balik matamu yang menangis.
meratap?

[2005]

Percakapan Kita yang Memanjangkan Kenangan
:wep

melintasi gerbang lanskap dan tangan batu
hanya wangi dupa yang kucium
dalam pikiran penuh curiga
angin yang kudekap lepas ke dinding kumal
merayap di atap-atap rumah
yang tenggelam kembali di kedalaman matamu
—kau bagai burung mengudara, merangkum langit
mengerjap melipat awan, menuliskan raja dan selir
kau rangkum dalam sunyi dinding bata

sementara, pintu gerbang ini masih memeram sejumput rahasia
agar kedatangan dan kepergian yang tak kita baca
pada setiap percakapan tak menjalar dari gema
lorong pekat, agar juga bau pesing ini tetap segar
dan menumbuhkan lumut liar yang lain
menjaga rahasia kita, memanjangkan kenangan airmata

sementara dari ujung jalan itu, beringin tua
menyingkap romansa daun jatuh
yang merapat ke tiap punggung tanganku

pun disini, di dalam batinku yang ungu
ruang meditasi dipenuhi batin hening,
yang tak beranjak, sebelum burung itu
menyisipkan sayap masa lalu
seolah menjadi bagian tentang sejarah
dan arkeologi yang tak aku pahami

barangkali udara yang mengendap di dinding bata
serupa hatiku, pada bait lirik di canting batinmu
menanda ornamen dan gipsum masa lalu tentang
tembok masjid tua, tempat kita pernah menghabiskan
percakapaan yang kita panjangkan

barangkali juga rapuh matamu dan
tembok-tembok tua memanjangkan kenangan
aku kamu yang bakal menyekanya, barangkali
sekali lagi

[2006]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *