Puisi-Puisi Esti Nuryani Kasam

AKHIRNYA KATA

Ada kata-kata pendek:
merengek
merembet
pelan
mendesak
mempercepat
teriak
menggema di ruang kepala
Dan akhirnya
Aku tak bisa lagi menahan
Keluar sebagai api
Ceracau puisi

(Yogya: Juli 2005)

BERSAMAMU

Waktu mengendap seperti hiu
Diam dan bisu
Berat untuk dibawa berlalu
Mendirikan monumen rangkaian tanganku
Bersamamu. Kekuatan itu tugu
Mungkinkah restu itu untukku?
Atau sekedar pikiranku kelabu
Kepada Engkau: Yang Maha Tahu
Kadang aku berkhianat atasMu
Jadi, keraguan itu laknatmu?
Tetapi, bukankah dosa sebuah keniscayaan bagiku?
Wahai Sang Penentu!
Kemanusiaan adalah kehidupan purba
Lahir bersama kebenaran dan kesalahan
Mungkinkah dalih mengalah Kau terima?
Di sebuah ruang diam, aku merasa tahu. BersamaMu
Mempertanyakan ketakmenentuan
Sebab segala sesuatu tetap saja otoritasMu
Sebagai Yang Maha Tahu dan Penentu

(Gunungkidul: Maret 2006)

MAYA
(Untuk J. A. S di Ndl.)

Suatu hari di sesat hujan
Aula Sahid, 17 November 2000
Bukan kenaasan menyesalkan
Syukurlah, keberuntungan tak tergadaikan
Atas pertemuan lelaki dan perempuan
Menjadi sepasang antara sekian

Tetapi bukan keberuntungan bulat, sayang
Sebab kau yang tiba-tiba
Datang seolah tinta
Melukisiku warna-warni pelangi
Menyilaukan, meremangkan, menceriakan
Tak juga menjelma pejantan
Menjabarkan kebijakan
Tentang kisah keberduaan

Sebab kenyataan tak bisa dipaksakan
Juga ketunggalanku dan kejamakanmu
Lalu mengapa senantiasa
Kaucumbu aku di ruang tak tentu

(Gunungkidul: Agustus 2004)

NILAI TAKDIR

Tuhan,
aku mengimanimu
tentang kekalahan dan keharaman
dengan mengeja akal
tetapi kenyataan tak mengindahkan

Tuhan,
takdir ini kuikuti
membuatku bahagia
sebagai jalan titisan generasi
tetapi peradaban menganakemaskan adam

Tuhan,
Sepanjang zaman kami tertebas kesakitan
Bukan takdirmu, tentu
Hanya bukakan kebutaan
Dan hawa mendapat mempelainya

(Gunungkidul: Agustus 2004)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *