Puisi-Puisi Sri Harjanto Sahid

KESEPIAN

Begitu tergeragap dari tidur kurasakan tubuhku membesar
pelan-pelan makin lama makin besar dan tak dapat dihentikan.

aku tumbuh menjadi raksasa yang besarnya tak terhingga dan
ganas luar biasa. Sambil meraung aku melompat ke angkasa
kukejar-kejar rembulan yang menjerit-jerit ketakutan ia
kusepaki kian kemari kusiksa kubentur-benturkan dengan
matahari hingga luka-luka merajam seluruh tubuhnya. Dan
matahari? Matahari kupermainkan seenak udelku beribu-ribu kali kumasukkan ke dalam mulut kukeluarkan bersama kentut-kentut dan kusedot dengan bibir lubang pantat kukeluarkan
kembali lewat bibir lubang pantat hingga matahari pucat pasi
kehilangan cahaya keabadiannya. Bintang-bintang kuraup lalu
kukremus-kremus kuludahkan dan langit kusayat-sayat kurobek-
robek dengan kuku-kuku jari-jari kaki serta seluruh permukaan
bumi kubanjiri dengan semprotan air mani. Jagad raya kurusak
kuporak-porandakan kujungkir-balikkan semua susunannya
sementara tubuhku terus membesar membesar membesar
membesar akhirnya lebih besar dari jagad raya sendiri
sehingga menampung tubuhku. aku mengembara di
kekosongan.

Tubuhku dibalut suasana lengang.

Tak kujumpai waktu.

Tak kualami gelap dan terang.

Kukira aku sedang tak berada di dalam
ada atau pun tiada tetapi berada di dalam
lingkungan teka-teki tanpa nama. di sini
tak ada selatan timur barat utara tetapi yang
ada hanya satu arah yaitu tenggara dan
di kebalikan tenggara juga tak ada
barat-laut.

Aku bingung.

Aku kesepian.

Dengan sekuat tenaga aku memekik-mekik
memanggil sebuah nama tetapi tak pernah ada jawaban
kecuali hanya gema yang berpusar-pusar di lorong pendengaran semata.

Aku berguling-guling menyingkirkan rasa bosan hingga
gunung-gunung di dalam dadaku berletusan memuntah-muntahkan lahar
dan sungai-sungai di dalam perutku membeludak melimpahruahkan darah dan nanah
dan binatang-binatang berbisa dan jutaan badai panas yang bersembunyi
berabad-abad di dalam paru-paruku gelisah menggelegak dahsyat
lantas bergerak menggelombang-gelombang dengan kecepatan tak
terkatakan membakari hutan-hutan lebat yang tumbuh liar di
seputar hatiku, maka burung-burung pun menangis beterbangan
dengan sayap merah menyala menghangus-hanguskan udara
dan cakrawala dan mega-mega. Aku lunglai
terkapar kehabisan tenaga
dan putus asa tatkala
seorang lelaki yang kecilnya tiada tara muncul
dari ujung kelenyapan. Tubuhnya berselimut kabut dan
cahaya sunyi jingga. Pasti Dewa Ruci dugaku dan ketika
kutanya ia menjawab ya. Pasti ia akan menyuruh aku masuk ke dalam telinganya pikirku
dan memang demikianlah kemudian kejadiannya. Aku menjadi gemas lalu habis-habisan
mengejek menertawakannya dan dengan marah kutolak perintahnya yang sudah klise
tetapi ia tersenyum sabar tanpa rasa kecewa. Aku semakin sewot
merasa diremehkan olehnya maka aku pun menggeram menerkam tubuhnya
dan sambil memaki-maki dirinya kumasukkan tubuhnya ke dalam
liang telingaku namun rupanya liang telingaku yang besarnya tak
terhingga tidak mampu memuat tubuhnya yang kecilnya tiada tara.

Yogya, 1990

MANUSIA MODERN

Beratus-ratus juta siluman raksasa berwajah merah tua
menyelenggarakan kongres besar-besaran di dalam sebutir pasir.

Mereka adalah para penguasa dari negeri-negeri yang hilang
dan tak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah.

Kurang dari satu detik kongres berlangsung sangat sukses
dan acara ditutup dengan perpersta ria.

Mengikuti irama musik yang aneh
dan amat keras mereka berjingrak-jingkrak berpasang-pasangan
memekik-mekik melepas luapan kegembiraan dan hentakan-hentakan
kaki mereka menimbulkan bunyi berdebum-debum tak beraturan dan
debu-debu mengepul beterbangan menggelapkan arena pesat. Keringat
bercucuran berbau busuk luar biasa memabukkan sukma tetapi mereka
makin bersemangat menggerak-gerakkan tubuh hingga butir pasir
tempat mereka berada bergoyang-goyang ke kiri ke kanan ke kiri ke kanan
lalu melenting-lenting ke atas ke bawah ke atas ke bawah dan akhirnya melompat-lompat
makin lama makin cepat laksana kilat mengelilingi jagad bertahun-tahun lamanya. Di puncak
segalanya butir pasir itu pun meledak tanpa suara, maka beratur-ratus juta siluman raksasa
berhamburan menyebar ke seluruh penjuru dunia menjadi hama merajalela di mana-mana.

Padi, gandum dan tanaman para petani dihanguskan dengan hembusan napas.

Hewan-hewan di peternakan dilepaskan dari kandangnya
lalu diburu-buru dan diperkosa habis-habisan.

Para lelaki di desa-desa di kampung-kampung di kota-kota ditangkapi ditelangjangi
dibetoti kemaluannya, terus dimakan dikunyah-kunyah mentah-mentah.

Rumah-rumah ibadah dikencingi dan diberaki dan dijadikan ajang persenggamaan masal.

Organisasi-organisasi berbagai bidang dipunguti dimasukkan ke dalam sebuah kotak
ditendang ke kegelapan, dan partai-partai politik digembosi dan sistem-sistem kemasyarakatan
diikati salurannya hingga arus tak bisa mengalir.

Bagai virus ajaib mereka beraksi. Bergerilya di tempat terbuka.

Bersembunyi di tempat terang-benderang.

Menyusup dan membangun kerajaan di dalam batin para kepala Negara di seluruh dunia
sampai beranak-pinak dan kebijakan-kebijakan pun akhirnya lahir semata-mata hanya
untuk menciptakan kekacauan dan bencana dan kehancuran semesta kehidupan.

mengiringi perjalanan waktu beralun simfoni
yang mengekspresikan kengerian dari kebinasaan
umat manusia di semua benua. Nglangut menyayat-nyayat
udara. Dan di dalam keremangan cahaya sesosok siluman berdiri
di puncak gunung menjulur-julurkan lidahnya sampai ke permukaan
rembulan lalu menjilat-jilati relung-relungnya. Angin
berkesiur-siur merobek
tabir rahasia. Sepi
menjerit
melepaskan raga. Di tengah badai tanda tanya sebuah
tangan perkasa meraih pelangi yang menjulai dari balik
cakrawala kemudian mencambuk-cambukkannya ke
permukaan lautan hingga air lautan meluap-luap laksana
bah menyerbu daratan. Terkuburlah segala kenangan
tentang keagungan umat manusia. Punahlah kebaikan.

Namun beratur-ratus juta siluman raksasa berwajah merah tua
bersorak sorai gegap gempita merayakan kemenenangannya.

Kini merekalah yang gantian mengisi dan menguasai dunia.

Mereka membentuk pemerintahan baru di mana-mana
dan dengan kekuatan gaib menjelmakan diri
sebagai manusia modern.

Mereka menciptakan
dua tuhan
bernama Pembangunan dan Kemajuan.

Sragen, 1990

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *