Seragam-Seragam yang Korup

Kustiah Tanjung*
http://www.jawapos.co.id/

KARYA seni grafis Isa Perkasa punya kemiripan format dengan lukisan kondang The Last Supper karya Leonardo da Vinci. Bedanya hanya terdapat pada pelaku dan hidangan di atas meja. Jika karya Da Vinci terdiri atas bermacam warna, karya Isa hanya berwarna putih.

Sebuah meja memanjang (terbuat dari tiga panel) dihamparkan di tengah ruang. Di atasnya penuh aneka “makanan” dan “minuman”. Orang-orang berseragam berdiri di belakang meja. Mereka berpesta. Ada semangka, durian, ikan, mi ayam, tikus, ulek sambal, setrika arang, lampu petromaks, dan berbagai jenis minuman. Sebuah botol kecap berlambang kejaksaan tergelincir, hampir jatuh dari meja. Dari sela-sela taplak meja, muncul domba putih.

Tikus dan durian adalah dua simbol yang beberapa tahun terakhir ini menyesaki dunia penegakan hukum. Karena suap “durian”, seorang jaksa yang semestinya menegakkan hukum justru menekuk-nekuk pasal yang membebaskan terdakwa dari jeratan hukum.

Seni grafis berjudul Seragam yang Ingatkan adalah salah satu di antara 20 karya yang dipamerkan dalam pameran tunggal Isa Perkasa bertema Seragam yang Diingatkan di Galeri Canna, Jakarta, 27 Maret-10 April 2010. Pameran itu mengungkapkan potret kehidupan bernegara kita yang tercabik-cabik oleh kelakuan buruk orang berseragam: polisi, jaksa, militer, dan pegawai pemerintah daerah.

Orang-orang berseragam itu tidak hanya melakukan korupsi, tapi juga meruntuhkan dan merusak sistem hukum dari dalam. Penggambaran suap-menyuap tersebut makin jelas kala mulut sebagian di antara mereka dijejali ikan. Mata mereka tertutup masker dari uang. Mereka menyunggi batu dan lambang kejaksaan ditimang-timang, yang di atasnya diacungkan lembaran uang kertas.

Pameran tersebut adalah kelanjutan pameran Isa, lulusan seni grafis Institut Teknologi Bandung, bertajuk Ingatan yang Diseragamkan tahun lalu di Bandung. Pameran tersebut mengkritik penyeragaman ingatan (baca: sejarah) oleh pemerintah Orde Baru.

Sebanyak 20 karya grafis Isa kali ini melangkah pada ekspresi seni yang lebih konkret, dekat, dan lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang telah menjadikan negara kita berada dalam derajat terburuk melahirkan kemiskinan berkepanjangan dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan bernegara.

Komitmen Isa mengkritik penyimpangan kekuasaan teruji sejak awal karirnya sebagai seniman. Gagasan seni Isa bertolak dari pemikiran bahwa seni bukanlah sesuatu yang ngawang-ngawang sehingga kehilangan pijakan dari kenyataan sosial. Kurator pameran Aminudin T.H. Siregar mengatakan, pameran Isa kali ini adalah gugatan terhadap kuasa dan kesewenang-wenangan “manusia berseragam” di negeri ini. Selain itu, karya-karya tersebut merupakan kritik atas kekuasaan mereka terhadap sejarah dan represi dalam roda pemerintahan. “Seni Isa berpihak pada kondisi dan perubahan sosial,” kata Aminudin.

Seragam dalam pameran itu bisa bermakna rezim atau militerisme yang menjalar ke semua lini kehidupan. Indonesia, tampaknya, menjadi satu-satunya negara di dunia yang paling terobsesi dengan seragam. Lihatlah, mulai tukang ojek, office boy, anak sekolah, guru, buruh pabrik, sampai anggota parlemen, semuanya memakai seragam.

Seragam seolah menyimbolkan kekompakan, kerukunan, kedisiplinan, keteraturan, dan komunalisme. Padahal, tampak dalam pameran tersebut, orang-orang berseragam tidak sinergis dengan apa yang telah dikonstruksi sejarah terhadap peran mereka seperti diatur dalam perundang-undangan. Mereka yang semestinya menegakkan keadilan justru menciptakan pasar gelap keadilan. Seragam justru menjadi pelindung praktik-praktik busuk mereka.

Bukankah dalam beberapa bulan terakhir ini dengan mudah kita saksikan lewat layar kaca dan media cetak, orang-orang berseragam (jaksa, polisi, hakim, dan pegawai pemerintah) terlibat kasus suap-menyuap? Bahkan, kini sebagian di antara mereka terlibat dalam mafia hukum yang menghancurkan sendi-sendi lembaga penegak keadilan. Dalam pameran itu, semua aktor ditampakkan menggunakan seragam dinas.

Isa menggunakan kain seragam sebagai kanvas. Dia belanja sendiri kain-kain tersebut di Bandung. Lalu, dia menggunakan soft pastel berwarna putih. Penggunaan gambar negatif -warna putih- tersebut mirip dengan rol film. Gambar negatif itu, papar Isa, dipilih karena karya-karya yang dipamerkan menunjukkan perilaku negatif orang-orang berseragam. Dalam pameran itu, seniman yang sering terlibat dalam performance art dan seni instalasi tersebut menggambarkan dengan jelas praktik suap-menyuap oleh orang-orang berseragam.

Karya bertajuk Kejaksaan #6 menampilkan dua jaksa laki-laki yang salah satu kakinya menginjak semangka. Jaksa pertama menggenggam setumpuk uang kertas dan tangan kanannya menenteng lambang kejaksaan. Mulut jaksa kedua disumpal bola lampu dan matanya ditutupi masker dari uang kertas. Seekor tikus merayap di tangan kirinya yang menyumpal mulut jaksa pertama. Gambaran tersebut dengan jelas mengkritik permainan suap-menyuap yang beramai-ramai terjadi di internal kejaksaan untuk menggulingkan keadilan dan kebenaran. Kebenaran dibungkam dengan uang.

Seri kepolisian tak kalah menarik. Kepolisian #5 memvisualisasikan dua polisi yang berseragam dinas berhadap-hadapan. Mulut polisi pertama penuh dengan sumpalan uang kertas dan tangan kirinya menggengam kabel lampu. Di kepalanya ada gembok yang terkunci rapat. Tangan kanan polisi kedua memegang setrika berbahan bakar arang dan tangan kirinya berkacak pinggang. Polisi kedua sadar bahwa ada beban berat untuk memikul tanggung jawab profesi. Hal tersebut tampak pada kepalanya yang menyunggi batu. Polisi kedua meluruskan -disimbolkan setrika- polisi-polisi yang “bengkok”. Tapi, kedua tangan polisi diborgol. Isa, tampaknya, ingin menggambarkan bahwa pembersihan korupsi di kepolisian tidak mudah. Sebab, pembersih dan objek yang dibersihkan berkaitan erat.

Seri militer juga ditampilkan secara ekspresif. Militer #2 menggambarkan seorang tentara memegang setrika menyala merah. Meski memegang alas setrika yang memerah, tentara itu tidak kepanasan. Matanya ditutup masker dari uang dan di depan mulutnya bergantung bola lampu.

Pada seri pemerintah daerah, upaya pegawai lurus yang ingin membersihkan birokrasi dari orang-orang korup tertahan orang-orang dalam. Lukisan Pemerintah Daerah #1 menggambarkan seorang pegawai menenteng setrika di tangan kiri dan telunjuknya mengarah ke depan. Matanya tertutup masker uang yang transparan. Dia ingin keluar dari kubangan air di bak, tapi seorang pegawai di depannya menahannya. Pegawai itu tidak mau rekannya membersihkan sampah-sampah korupsi yang mengakar di institusi layanan publik. Benar, tutur Teten Masduki dalam katalog pameran, korupsi perlu terus diperangi. Masyarakat juga perlu diingatkan akan bahaya korupsi. “Ketika seorang seniman sudah memberikan kesaksian, itu pertanda keadaan sudah sangat merisaukan,” katanya.

Itulah sebuah pameran yang telah melibatkan diri dalam proses perang melawan korupsi. Lewat pameran tersebut, Isa menunjukkan bahwa dirinya bukan seniman menara gading yang hanya tergila-gila dengan estetika. Dia menyampaikan pesan sosial yang jelas dan terang. (*)

*) Pekerja media dan tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *