“Kemerdekaan Semu” dan Pembaca Rupa yang Terluka

Ahmad Kekal Hamdani

“Untuk membuat orang menertawakan kebenaran,
untuk membuat kebenaran tertawa”

Ketika saya (penulis) menatap cukup serius lukisan grafis ? kemerdekaan semu? karya Brekele alias Ikhsan, ada pendar yang tiba-tiba menarik-narik tubuh saya ke dalam kamar gelap. Seseorang atau mungkin sesuatu telah memaksa saya melucuti segenap pakaian, meminta saya telanjang dan sungguh, saya kira lama benar saya tak menatap tubuh sendiri dalam ruang gelap. Saya tak melihat apapun, saya mulai meraba-raba tubuh saya. Tiba ?tiba saya mesti menjadi lidah, menjilati sesuatu, menjilati apa saja yang ada di tubuh saya, bahwa betapa asin tubuh kita, asin air mata.

Rupa mungkin sebuah objek, mungkin juga sebuah metafora ?sebuah transferensi ataupun karakter fundamental hubungan linguistik manusia dengan dunia – dan tak musykil ia adalah subjek yang menerjemahkan. Di mana kreasi justru membuka kemungkinannya membaca kreator (dalam hal ini adalah perupa). Di mana manusia justru membentuk tuhannya sendiri, bahwa tuhan boleh saja abadi pun bahkan mati. Terdapat sebuah narasi tidak terputus yang mengikat antara perupa, lukisan dan pembaca ? mengapa pembaca? Sebab rupa ia juga adalah teks ? yang menyebabkan ketiganya berada dalam identitas yang tak jelas. Disfungsi keberadaan seniman sebagai perupa pun ada kalanya adalah sebuah teks yang dibaca melalui lukisannya, maka sang Author belumlah mati, hanya saja ia berpindah dan mencuri tubuh dari satu fungsi kefungsi yang lain. Dan seniman, lukisan dan pembaca pada lalunya adalah pelaku, laku dan produk kebudayaan itu sendiri.

Sejak awal saya tidak berniat membuat penilaian terhadap lukisan ?Kemerdekaan Semu? yang digubah oleh perupa Ikhsan (Brekele) ini. Karena nilai bukanlah sesuatu yang independent . Artinya, ia selalu memerlukan penyandang untuk penunjukan eksistensinya, dan saya selalu merasa gagal menangkap nilai sebagai sesuatu yang diam, ia melompat -lompat di antara seniman, karya seni, dan penikmat itu sendiri. Pada akhirnya saya memposisikan diri saya sebagai korban, atau sebagai lidah ? walhasil tulisan ini adalah subjektif jauh dari hukum sistematika-yang mencoba mencicipi rupa hitam dan putih yang ada di hadapan saya. Ada semacam kecut ketiak, ada aroma anyir darah, dan rasa busuk yang mengalir jadi banjir, ada asin keringat wanita sehabis penjajahan di tubuhnya. Saya mencoba mengunyah semampu saya melahap realita yang coba disuguhkan dalam ? Kemerdekaan Semu? diri saya sendiri (Huek?! Ada bau sepatu butut dengan bendera merah putih yang berkibar ragu-ragu).

Menjilati lukisan ini saya menghirup dan merasai aroma Vodka, yah saya menjadi terngiang Negeri Vodka, Rusia ( yang selama beberapa dekade bernama Uni Soviet). Negeri Komunis dengan bendera Sosialasta, ada semacam juktaposisi yang mengingatkan kita pada rentetan komikal yang miris tentang dunia seni rupa indonesia. Kesenian Indonesia pada masa Orde Baru diharap sama sekali tidak terkontaminasi ideologi seni yang berlawanan. Bahkan dari seni yang diproduk oleh seniman bangsa Indonesia sendiri. Dan pelukis ikhsan justru menemukan dirinya dalam kemerdekaan yang amat mengabur, antara kenyataan sosial-politik dan dirinya yang membaca.

Pelarangan pameran besar mengenang kehebatan almarhum Hendra Gunawan di Galeri Pasar Seni Ancol tahun 1983 misalnya, dihubungkan dengan sosok Hendra yang pernah dipenjara karena tersangkut Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), institusi budaya yang berafiliasi di bawah Partai Komunis Indonesia. Andai pun ada pameran Hendra yang “lolos”, itu karena hasil lobi kuat seseorang berpengaruh kepada pemerintah. Pameran besar restrospeksi Henk Ngantung adalah contoh lain. Pameran pelukis mantan Gubernur Jakarta yang dianggap Lekrais dan Sukarnois ini juga dilarang beberapa hari menjelang pagelaran dibuka. Padahal Henk Ngantung sudah tak berdaya dan nyaris buta matanya (Baca Revolusi, Politik, dan Seni Rupa Rusia. Kompas, 27/2/2000).

Berangkat dari berjuta kepentingan, hal di atas menunjukkan bahwasanya usaha penilaian karya seni (rupa) justru mengalami sebuah usaha penubuhan (imperialisme) dan seperti dunia di sekitarnya sebuah lukisan pun telah mengalami peperangan dengan sejarahnya sendiri. Maka, sebagaimana sebuah Shymphony (lagu) dan puisi, lukisan kadang tak perlu dimengerti, tak perlu dimaknai, dirasakan saja, dinikmati, atau bahkan dijilati. Lantas, menghadapi dunia simbolik dalam ?Kemerdekaan Semu? ini merupakan sebuah kegiatan yang ekspansif dalam tataran sosial-politik yang panjang dan meletihkan (lidah kita pun membengkak).

Klaustafobia: Lanskap Kota yang Membusuk

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
?Sudah lima anak bernyawa di sini
aku salah satu?

Menikmati lukisan ?Kemerdekaan Semu? adalah memasuki sebuah interior aneh yang mencoba meraup segala sudut prespektif, ia tidak berbicara masalah intensitas akan tetapi suatu ruang, jarak, atau mungkin sebuah waktu, dimana pembaca mesti membikin semacam tanda guna menjelajahinya -agar tak tersesat dan lupa jalan pulang-. Kita diajak agar menjaga jarak dengan jarak, karena ini akan berakibat kita tidak tahu lagi, apakah kita pembaca atau yang dibaca. Realitas yang selama ini terjadi di negeri ini telah dicoba diraup dalam visualisasi tunggal dengan batas ruang yang tak jelas, anda tinggal memilih dari sudut mana anda memandang dan berdiri.

Ikhsan, mungkin telah mengimajinasikan sebuah gambaran semu ?sebuah lanskap- tentang kota dan dinamika yang hidup di sekitarnya, sebuah pandangan hitam putih antara reremang dan ketidak jelasan nasib masyarakat Indonesia. ia memposisikan dirinya sebagai seseorang yang terkurung dalam sebuah nilai yang tidak real, sebagai pembaca sekaligus perupa yang terluka ( ah, terluka) yang pada akhirnya mengantarnya pada klaustafobia akut (semacam ketakutan jika terkurung dalam ruang yang tertutup). Lantas pembacapun akan menginterpratasi perupa dan ikhsan menjadi sebuah objek. Disinilah saya dengan tegas menghidupkan kembali tuhan dari lukisan ini, meski sebagai objek. Lantas tidaklah benar bahwa sang Author (perupa) telah mati ketika ?kemerdekaan Semu? terlahir.

Makna dan ataupun nilai selalu memiliki keberadaan yang tidak jelas, ia melompat dari satu objek ke objek yang lain. Hal ini membuat objek kadang mesti diberlakukan sebagai subjek, atau sebaliknya. Oleh karena itu simbol maupun perupa tidak mesti mati, dua-duanya hadir timbul tenggelam dalam dunia nilai dan atau makna yang melompat dari satu kesatu yang lain. Seniman, karya seni dan penikmat pada akhirnya membentuk sebuah ruang dan realita yang kompleks serta narasi yang tidak terputus.

?Kemerdekaan Semu? menjadi jendela di mana saya membaca dunia dan perupanya. Ia juga menjadi jendela bagi Ikhsan membaca dunia dan saya, lantas jendela itu membaca saya dan ikhsan,he. Saya kira, saya tidak perlu menjabarkan secara luas apa saja yang telah terjadi dan terekam dalam lukisan ini. Toh, kita semua juga telah menjadi pelaku sekaligus korban dalam miris sejarah bencana dan percaturan politik kekuasaan di negeri ini. Anda cukup menatap lekat ?Kemerdekaan Semu? itu sendiri, dan mereka-reka kembali sedalam mana luka di dada anda membikin bah (semoga saja anda tidak membutuhkan Bahtera).

Rupa Yang Terluka

Namun demikian, meski terjadi narasi tak terputus sebagaimana diurai di atas, pembacaan selalu merupakan kegiatan yang tidak bersih. Pembaca adalah sesuatau yang hidup dengan tubuhnya sendiri hingga pada akhirnya menerjemahkan, membaca, menulis, ataupun menggambar hanyalah sebuah kegiatan mengotori. Membuat kotoran, semacam buang air besar atau berseni. Sehingga ke tidak bertemuan antara pengotor yang satu dan pengotor yang lain merupakan sesuatu yang harus dipercaya kemungkinannya. Lantas kita mulai bermain-main dengan kapak dan pisau-pisau analisis, membuat sekian wajah terluka. Tidak ada rupa yang tak terluka, dari luka membikin luka dan menciptakan luka. Dan nilai atau makna mungkin adalah darahnya, dimana betapa rajin kita menjilatnya.

Akhirnya, maafkanlah saya yang hadir dengan rupa yang terluka!

Yogyakarta, 2008

Keterangan:
? Disampaikan dalam Bedah Lukisan karya Ikhsan Brekele “Kemerdekaan Semu” di Pendopo LKiS 2008 yang lalu.
? Tulisan ini bukan semacam kitab suci atau proses ilmiah-kreatif, oleh sebab itu menuhankan dan memujanya dirasa tidak perlu dan memboroskan tenaga, yang penting anda sehat wal afiat, amien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*