Empat Cerpenis Luncurkan Antologi Cerpen

Susianna
suarakarya-online.com

Meskipun komunikasi cerita melalui dunia maya semakin marak, namun cerita pendek (cerpen) dalam bentuk buku atau antologi tetap berkembang. Paling tidak bisa dilihat pada peluncuran kumpulan cerita pendek empat cerpenis bertajuk “Tukang Bunga & Burung Gagak”, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, belum lama ini.

Kumpulan cerpen yang diterbitkan Kosa Kata Kita,merangkum cerpen 4 cerpenis yaitu Agnes A Majestika, Kurnia Effendi, Kurniawan Junaedhie dan Ryana Mustamin. Sementara nama antologi cerpen diambil dari salah satu cerpen Kurniawan Junaedhie “Tukang Bunga & Burung Gagak”, yang pernah dimuat di harian Suara Karya (7 November 2009). Yang cukup menarik kumpulan cerpen ini terwujud secara tidak terprogram. Pada mulanya, angan – angan hanya melalui pesan layanan singkat (sms), obrolan ringan di Black Berry, handphone, facebook dan e-mail, sekitar akhir tahun 2009. Lalu tiba-tiba muncul gagasan untuk mengumpulkan cerpen dalam sebuah buku. Kebetulan masing-masing cerpenis sudah punya stok cerpen, bahkan sebagian besar sudah dipulikasi, baik di majalah, surat kabar maupun dunia maya. Muncul kesepakatan masing-masing menyetor 4 buah cerpen yang terbaik untuk dibukukan dalam sebuah kumpulan cerpen. Tentunya masing-masing memilah dan mengedit sendiri. Tanpa rapat-rapat atau temu muka, buku ini terwujud secara spontan yang dilandasi semangat kebersamaan.

Agnes lulusan Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor (1984) dan strata 2 UGM (1992) jurusan Sain Veteriner, mengajukan 4 cerpen yaitu “Calon Adik untuk Bhy”, dimuat di majalah Femina (1994), “Istri” (Kompas, 14 Juni 1987), “Langkah” (Femina 1986) dan “Alibi”.

Kurnia Effendi menampilkan “Ikebana bagi Calon Mama” (Anita Cermerlang, 1984), “Dua Kuntum Cinta” (Sekar, 5 September 2009), “Pojok Kafe Simpang Lima” (Suara Merdeka, menjelang Lebaran 2006), dan “Terompet” (Horison, Maret 2005). Kurniawan Junaedhie memilih cerpen “Tukang Bunga & Burung Gagak” (Suara Karya, 7 November 2009), “Opera Asmara” (Sinar Harapan, 23 Mei 2009), “Sepatu Elvis” (Jurnal Nasional, 18 Oktober 2009) dan “Kenangan Keluarga”

Ryana Mustamin menyuguhkan “Dahaga” (www.detikportal.com, Februari 2005), “Gerimis Malam” (Anita Cemerlang, Februari 1987), “Napak Tilas” (Kartini, edisi khusus April 2009) dan “Tentriawaru”

Bedah Buku

Masing-masing cerpenis menulis catatan singkat proses pengalaman kreatif berkarya lewat pena. Agnes menulis cerpen tidak tergantung mood, namun punya sasaran untuk menyesuaikan gaya penuturan. Dokter hewan ini menuturkan penulisan cerpen “Calon Adik untuk Bhy” ketika hamil anak ke-2.
Lucunya, cerpen itu diterbitkan ketika ia melahirkan, jadi ia membaca di rumah sakit bersalin di Bengkulu.

Lain dengan Kurnia Effendi, gagasan menulis cerpen, ada natural yaitu alamiah dan hasil rekayasa yaitu karena pesanan atau ikut lomba. Kebetulan yang ditampilkan dalam kumpulan ini adalah cerpen hasil rekayasa.

Bagi Kurniawan Junaedhie untuk mengarang cerpen dibutuhkan kesabaran, yaitu kesabaran untuk mengamati dan merenungkan. Lalu kemudian diungkapkan dalam bahasa.

Ryana Mustamin mengaku semua cerpen yang dia tulis,lahir tanpa pretensi. Karena, ia menulis semata-mata karena ingin menulis, menumpahkan apa yang ada dibenaknya.

Peluncuran ditandai dengan bedah buku oleh Seno Gumira Ajidarma yang mengambil topik “Cerpen/Cermin” dengan pertanyaan awal: “Manakah yang lebih penting, dunia yang dicerminkan cerpen, atau cerpen sebagai cermin itu sendiri?”

Dihadiri sejumlah peminat yang umumnya berusia remaja dan dewasa, termasuk penyair dan cerpenis senior, Seno menambahkan, jika cerpen boleh diandaikan sebagai cermin, setelah membaca kumpulan cerpen di atas, dunia macam apalah kira-kira yang telah dicerminkannya?

Dalam bahasa awam, membaca cerpen itu tidak perlu terikat kepada kriteria apa pun, tidak ada benar dan salah, tidak ada indah dan tak indah, tetapi pasti ada suka dan tidak suka.

Karena, wacana pembacalah yang menentukan makna, sedangkan wacana setiap pembaca itu tak mungkin persis sama.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *