Nasionalisme Dari Yogyakarta

Gugun El-Guyanie*
http://m.kompas.com/

ben ik Westers opgevoedt, ik blijf en ben een Javaan&. walaupun saya dididik cara Barat, saya tetaplah orang Jawa. (Sultan Hamengku Buwono IX).

Bangsa Indonesia seharusnya menemukan kembali ruhnya melalui momentum-momentum historis. Salah satu momentum yang menjadi etos penting kebangsaan adalah Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Ikrar persatuan yang dikumandangkan para pemuda dari berbagai suku dan agama itu memiliki titik pertemuan dengan perjuangan kaum muda dan juga spirit kota revolusi Yogyakarta.

Spirit kota perjuangan Yogyakarta seharusnya digali kembali, disucikan kembali, untuk melahirkan manusia-manusia Tanah Air sekaliber Ki Hadjar Dewantara atau Sultan HB IX.

Minimal momentum-momentum besar di atas menjadi semiotika yang membangkitkan etos kebangsaan generasi sekarang dan yang akan datang. Sudah terlalu lama kita menjadi “republik lupa” yang orang-orangnya mengidap penyakit amnesia retrograde yang membuat bangsa ini tak pernah mengingat sejenak tapak perjalanan Indonesia. Marilah sejenak generasi muda menengok ke belakang, apa yang perlu diambil, apa yang perlu dibawa ke depan dalam perjalanan yang panjang.

Tahun 1913, tepatnya lima tahun setelah organisasi pergerakan nasional pertama Boedi Oetomo didirikan, Dr Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) menulis artikel di majalah De Express, milik Dr Douwes Dekker, “&Als ik eens Nederlander was&.” Tulisan itu mengkritik rencana Pemerintah Belanda yang mengumpulkan sumbangan dari masyarakat Hindia Belanda guna membiayai pesta perayaan kemerdekaan Belanda. “&Andaikata aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya&.”

Itulah reaksi kritis dari intelektual muda pribumi yang tidak rela ibu pertiwinya disetubuhi kolonialis yang kapitalis dan materialis. Mungkin yang diekspresikan oleh Ki Hadjar Dewantara hanyalah percikan api kecil yang selanjutnya menjadi semangat membara bagi kaum muda pergerakan di Tanah Air. Sekarang kita bertanya, masihkah anak-anak muda memiliki kesadaran nasional yang sebanding dengan Dr Soetomo, Dr Soewardi Soerjaningrat, Soekarno, Hatta, dan sebagainya?

Saat ini, generasi-generasi kita sudah tidak memiliki tiga bentuk kesadaran sebagaimana yang dimiliki oleh generasi pendahulu. Pertama, yaitu kesadaran historis, yang menuntut setiap generasi memiliki kepedulian terhadap seluruh rangkaian mata rantai sejarah, dari generasi satu ke generasi selanjutnya, sehingga ada mekanisme pewarisan sejarah yang komprehensif dan tidak terputus. Kesadaran model inilah yang melahirkan sikap mental untuk selalu menghormati dan menghargai pendahulu-pendahulu dan belajar dari kearifan sejarah masa lalu karena masa lalu selalu aktual. Kita bisa menyedot energi yang berlimpah-limpah dari setiap napas perjuangan nenek moyang dan sesepuh di bumi Indonesia.

Kedua, kesadaran futuristik, yaitu kecerdasan untuk membaca dan melakukan pemetaan masa depan (futuristic mapping). Kesadaran model ini membutuhkan pijakan kesadaran historis yang kuat sehingga ada dialektika antara masa lalu dan masa sekarang dan juga masa depan. Dalam adagium orang-orang pesantren dikenal “menjaga nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik”. Dengan demikian, generasi kita tetap memiliki cakrawala pemikiran global, tanpa harus kehilangan kearifan lokal (local wisdom).

Ketiga, kesadaran realistik, yakni berpikir realistis dengan parameter-parameter yang terukur. Bangsa ini telah banyak melahirkan intelektual dan ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin keilmuan. Namun sayang, mereka orang-orang cerdas tersebut melaju tanpa parameter yang terukur sehingga kehilangan kesadaran realistis, mana yang dibutuhkan, mana yang diutamakan, dan tindakan apa yang harus dilakukan.

Dalam konteks ini, tentu kepentingan rakyat adalah prioritas utama dibandingankan dengan agenda-agenda derivatif lainnya. Semua manuver politik, strategi kebudayaan, atau sinergi ekonomi harus bermuara pada satu prinsip, yaitu kepentingan rakyat. Itulah yang dimaksudkan dengan kesadaran realistis, yakni mampu bertindak riil, apa yang dibutuhkan oleh rakyat sebagai panglima kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa harus kehilangan kesadaran idealis. Kata Th Sumartana, “Idealisme tanpa pijakan realisme menjadikan orang pemimpi sekaligus pembohong, sedangkan realisme tanpa dilandasi dengan nilai-nilai idealisme menjadikan orang hidup tanpa martabat.”

Untuk sekadar mengenali posisinya saja, kaum muda Indonesia abad ke-21 sudak kehilangan arah. Di manakah letak sesungguhnya kaum muda, dan harus di mana dan bagaimana berperan? Letak dan posisi yang dimaksud adalah di manakah titik perjuangan dalam sejarah perjalanan panjang bangsa Indonesia yang berliku. Anak-anak muda kita sungguh telah mabuk sejarah, apalagi harus menganalisis kekuatan (strength), kelemahan (weakness), dan juga peluang (opportunity) dan tantangan (treatment) apakah yang sedang dihadapi. Mereka semua yang menjadi tumpuan estafet kepemimpinan nasional sedang dibius oleh keperkasaan ideologi industri yang mematikan spirit nasionalisme.

Di balik itu semuanya, anak-anak manis bangsa Indonesia memiliki keunggulan yang luar biasa. Jumlah anak muda kita yang lebih kurang 37,8 persen dari total penduduk Indonesia memiliki multiple intelligence. Dari beragam kecerdasan itulah, seharusnya nasionalisme bangkit kembali. Guru saya, Emha Ainun Nadjib, pernah menggagas “etnotalentologi” pada sekitar tahun 1980-an. Etnotalentologi itu suatu ilmu atau cara pandang mengenai kemampuan (talenta) yang berdasarkan pada etnis kedaerahan. Kemampuan atau kecerdasan anak-anak kita itu beragam, sangat kaya talenta yang masing-masing lahir dengan membawa keunikan tanah kelahirannya. Anak yang lahir di Papua memiliki kecerdasan berbeda dengan anak-anak di Jawa. Begitu juga keterampian teknologis anak-anak Jepara berbeda dengan yang dimiliki anak-anak Madura. Semuanya unggul, tidak ada yang nomor satu atau nomor sekian. Hanya mereka butuh dihargai potensi atau talenta masing-masing yang tidak bisa dipisahkan dari pergulatan kebudayaan tanah kelahirannya (struggle of culture).

Dengan demikian, mereka bisa menemukan Indonesia dari Madura, mengindonesiakan Indonesia dari Yogya, memiliki nasionalisme gaya Minang, atau pula mencintai Tanah Air-nya dari talenta kedaerahan masing-masing. Kita bisa menemukan Indonesia di dalam kekhusyukan gereja orang Nasrani, kita juga bisa melahirkan Indonesia dari pesantren, NU, Muhammadiyah, atau Indonesia juga bisa muncul cemerlang dari para pedagang atau kaum terpelajar.

*) Ketua Departemen Agama dan Ideologi PW GP Ansor DI Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *