
Saut Situmorang Continue reading “Ekstasi Puisi”
Percakapan
Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/
Dua orang duduk berdekatan. Dalam lakon Menunggu Godot Samuel Beckket ini mereka berbicara:
Gogo: Lalu apa?
Didi: Ah! Kita akan bercakap-cakap! (mereka pun saling mendekat, sampai sekitar 10 kaki). Yah, kurang pelan, mungkin. Begitulah jalannya. Continue reading “Percakapan”
Nasionalisme Dari Yogyakarta
Gugun El-Guyanie*
http://m.kompas.com/
ben ik Westers opgevoedt, ik blijf en ben een Javaan&. walaupun saya dididik cara Barat, saya tetaplah orang Jawa. (Sultan Hamengku Buwono IX).
Bangsa Indonesia seharusnya menemukan kembali ruhnya melalui momentum-momentum historis. Salah satu momentum yang menjadi etos penting kebangsaan adalah Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Continue reading “Nasionalisme Dari Yogyakarta”
PETA KONSTELASI PENYAIR SUMATERA
Maman S. Mahayana *
Pertemuan penyair se-Sumatera (Aceh, Babel, Bengkulu, Jambi, Kepri, Lampung, Riau, Sumbar, Sumsel, Sumut) di Bengkalis, 17—19 Januari 2003, memperlihatkan, betapa sesungguhnya Sumatera masih menyimpan potensi yang kaya dan berlimpah. Kepenyairan Sumatera yang pernah mendominasi perjalanan sastra Indonesia sebelum dan awal merdeka –seperti yang pernah dibangun sastrawan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, hingga ke nama-nama Taufiq Ismail, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, dan sederet panjang nama lain—sangat mungkin kini akan bangkit kembali. Continue reading “PETA KONSTELASI PENYAIR SUMATERA”
Ia dan Aku dalam Keterasingan Kota
Denny Mizhar
Meniatkan diri untuk merantau, sebab desa tak dapat membuat nasib menjadi baik. Mengupayakan diri untuk mendapatkan sangu buat berangkat ke kota. Hutang pun dilakukan. Impian besar di pundak menatap ruang hingar bingar bahwa nasib akan menjadi lebih baik. Dengan kereta yang melaju ternaik dirii, hingga sampailah pada kota yang di tuju. Tak ada sanak famili dan sendiri. Memulai menanya satu dua orang yang tertemui, tapi tak juga ada kabar gembira kemana melabuhkan diri. Continue reading “Ia dan Aku dalam Keterasingan Kota”
