Runtuhnya Singgasana Politik Kiai

Muhammadun AS*
http://oase.kompas.com/
Judul buku: Gagalnya Peran Politik Kiai dalam Mengatasi Krisis Multidimenasional
Penulis: Heri Kiswanto
Penerbit: Pesantren Nawesea Pres Yogyakarta
Cetakan: 1, April 2010
Tebal: 321 halaman

Ada pertaruhan besar bagi para kiai yang terus bermanufer dalam kancah politik kekuasaan. Yakni pertaruhan “kuasa moral” kiai dalam melumpuhkan, menghancurkan, dan memutus jaring kuasa politik yang dalam bahasa YB Mangunwijaya (1997:4), dunia politik digenangi dan dirembesi jiwa korup, mental mencuri, bohong, main tipu, suka yang semu, urik, tidak kenal fair play, dan telah mencengkeram bangsa. Continue reading “Runtuhnya Singgasana Politik Kiai”

KOMEDI SATIRIS PRESIDEN PENYAIR

Maman S Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Sutardji Calzoum Bachri, Hujan Menulis Ayam, Magelang: Indonesia Tera, 2001, xiv + 94 halaman.

Presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, yang jabatan kepresidenannya dilekatkan sendiri, tanpa Sidang Istimewa, memang lebih dikenal lantaran kepenyairannya yang khas, cerdas dan kadangkala nyeleneh. Gebrakannya lewat antologi O Amuk Kapak (1981) telah menempatkannya sebagai pendobrak peta puisi Indonesia tahun 1970-an. Membaca antologinya itu, orang mesti berkerut dahi, mungkin juga dengan geleng kepala. Continue reading “KOMEDI SATIRIS PRESIDEN PENYAIR”

Pemakaman yang Bahagia

Sungging Raga
http://suaramerdeka.com/

KETIKA tak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidupnya, ketika tak ada lagi yang bisa dibanggakan setiap kali mata itu terbuka menatap dunia yang muram, lelaki itu pun bersumpah, bahwa setidak-tidaknya ia harus bisa menciptakan sesuatu yang akan memuaskannya kelak, sesuatu yang barangkali akan menjadi satu-satunya sejarah yang tercatat atas namanya. Ya, dan hal itu sudah ada di antara sepasang matanya. Diam-diam, ia ingin sekali mengakhiri hidupnya, dengan sebuah pemakaman yang bahagia. Continue reading “Pemakaman yang Bahagia”

Kejahatan Hati Nurani

Penulis: Nadine Gordimer
Penerjemah: Heru Emka
http://suaramerdeka.com/

MEREKA saling mengamati pada saat yang sama, ketika melangkah turun dari tangga Mahkamah Agung pada hari ketiga pengadilan itu. Pada saat itu, kebetulan saja para penonton datang untuk melihat si terdakwa -melihat mereka yang bakal menanggung kurungan dinding-dinding penjara karena gagasan-gagasan yang ada di kepala- telah memuaskan rasa ingin tahu, yang memiliki kepentingan khusus mengikuti peradilan itu dari hari ke hari. Mungkin dia seorang wartawan atau perwakilan kekuatan Barat yang mengamati proses peradilan-peradilan politik dalam problematika negara-negara itu bagi kebijaksanaan luar negeri, dan melobi kembali persoalan hak asasi manusia di Eropa Barat dan Amerika. Continue reading “Kejahatan Hati Nurani”

Bahasa »