Prosa-Prosa Ahmad Syauqi Sumbawi

Sarang Laba-laba di Rumah Tua

Tepat di hadapan kami, rumah peninggalan kakek berdiri. Bangunan tua berbentuk limas dan cukup besar. Seperti pada umumnya rumah-rumah tak berpenghuni, rumah itu kusam, kotor berdebu, dan tak terawat. Sawang-sawang bergelantungan di banyak bagian pada langit-langit beranda.
Perlahan daun pintu kayu jati yang tampak berat dan tebal itu terbuka disertai bunyi derit. Seperti menjerit, bersama debu-debu yang bersemburan. Sejenak melangkah ke dalam, maka tampaklah lebih banyak lagi sawang-sawang bergelantungan di ruangan itu.
“Tampaknya, hari ini kita akan bekerja keras membersihkan rumah ini,” kata Lik Seno “seorang kerabat yang selama ini dititipi untuk memegang kunci” tersenyum.
“Sepertinya begitu, Lik,” sahutku.
Lik Seno kemudian pamit pergi mengambil peralatan bersih-bersih.
Seorang diri, kuedarkan pandangan pada ruangan itu lagi. Dekat pada sebuah pilarnya dari empat pilar yang menyangga atap genteng, kutemukan sarang laba-laba tergelar cukup lebar. Tepat di bawah bagian atap genteng yang hilang, memberi terang.
Dalam diam memperhatikannya, tiba-tiba aku teringat pada rangkaian kata-kata. Entah. Aku lupa siapa yang menaruhnya di saku ingatanku. Kalau tak keliru, beginilah kata-kata itu: “Dalam hidup manusia, nafsu ibarat laba-laba yang mula-mula datang berkunjung, kemudian menjadi tamu rutin, lantas menjadi tuan rumah pada diri manusia…”
“Ayo, kita mulai bersih-bersih,” kata Lik Seno yang telah kembali dengan peralatan. Sebuah sapu panjang kemudian diulurkannya kepadaku.
“Kalau bersih, ‘kan nyaman untuk tinggal di sini,” lanjutnya seraya membuka daun-daun jendela.
Sebentar cahaya matahari menyeruak ke dalam ruangan, memperlihatkan debu-debu yang membikin pengap udara pagi itu.

Yang Tak Terelakkan; Kerusakan

Nyalang matahari berkurang bersama hari merembang petang. Perlahan cahaya kuning keemasannya pudar memerah, tak lagi menyilaukan, menjadikan senja sebagai waktu istirah.
Di beranda sebuah rumah tepat di hadapanku, seorang laki-laki duduk dalam ayunan kursi goyang. Menatap jauh ke ruas jalan, di mana deru keseharian melintas pulang. Waktu yang tercipta menjadikan hari-hari tak seperti dulu.
Demikianlah. Sudah menjadi wataknya, sesuatu yang bersifat jasad, materi, raga, fisik menjadi sempurna ?berguna? dari ketiadaannya, lantas terlindas dan menjadi rusak. Dari potongan kayu-kayu, tersusun menjadi kursi, lantas menjadi usang. Dari sepai-sepai onderdilnya, terakit menjadi sepeda motor, maka bertambah hari, tentu saja bertambah rusak. Dari kelahirannya sebagai bayi, manusia menjadi bebas bergerak dan menjelajah, lantas tua, melemah, dan rusak “mati”.
Tak lagi seperti dulu, dalam ingatanku tentang laki-laki itu. Usia menjadikan helai-helai rambut di kepalanya memutih dan meranggas jatuh. Usia menggerogoti kuat tubuhnya, menyita makanan-makanan kesukaannya, menghalangi laju kendaraannya, memangkas gerak sekian banyak aktifitasnya. Dan sebagainya.
Dalam diam memperhatikan laki-laki itu yang terus menatap jauh ke ruas jalan, aku berpikir bahwa fisik berlainan dengan non fisik. Jiwa. Ruh. Bersama perjalanan fisik yang menjadi rusak, baiknya ruh, jiwa, bertambah lebih mengarah sempurna. Yah, begitulah semestinya bagi manusia.
Sebentar dengan susah payah laki-laki itu beranjak. Rapuh melangkah dengan bantuan tongkat di tangan. Hari bertambah petang. Tak terelakkan.

Senyap Masa Lalu

Sendiri, laki-laki tua duduk di amben bambu di halaman rumah. Berkendara asap rokok kretek, mata laki-laki tua itu menembus remang malam di sela-sela dedaunan. Sepai-sepai waktu yang menumpuk tebal di masa lalu, acak terbuka di kepalanya.
Seperti kesempatan-kesempatan sebelumnya, laki-laki tua itu baru saja bercerita kepada cucunya; anak laki-laki sepuluh tahun yang telah satu tahunan ditinggal mati bapak dan ibunya dalam sebuah kecelakaan.
Selain masa lalu dari hidup manusia, apalagi yang bisa diceritakan kepada generasi berikutnya?! Sungguh, masa depan bagi manusia hanyalah sebuah rencana. Dan apalagi yang layak diceritakan kepada anak-cucu, selain sesuatu yang baik dan kebanggaan di masa lalu?! Seperti cerita-cerita sebelumnya, itulah yang kembali dilanggengkan laki-laki tua itu di kepala si cucu bersama harapan supaya ia meneladaninya dan tidak berbuat yang meresahkan.
Dan kini, sepeninggal si cucu masuk rumah lantaran malam melarut dengan udara yang mendinginkan badan, seperti juga pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, ia kembali teringatkan pada kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya, yang dilanggengkan waktu; masa lalu. Juga kesalahannya; saat dia mengusir dan tak mengakui lagi anak perempuannya tersebab mencintai laki-laki yang tak pernah diharapkan menjadi menantunya. Tak lagi sebagai bapak, hingga mereka berdua meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan satu tahunan yang lalu, meninggalkan anak laki-laki sebatang kara.
Sendiri, laki-laki tua itu masih duduk di amben bambu di halaman rumah. Sementara malam bertambah larut. Sunyi dan dingin. Mungkin seperti pula, masa lalu yang terus membuntuti usia manusia. Senyap.

Rumah Tak Sempurna

Di tepi perempatan jalan itu, sebuah rumah tinggal rangkaian pondasi, dinding, atap, dan ubin tak sempurna. Tangan-tangan yang tak dicuci terlebih dulu, memberikan bekas hitam di dinding bercat rapi. Kian lebar membunuh panorama. Potret-potret keluarga tertindih pecahan kaca pigura.
Dasi kantor, sanggul, dan tas sekolah dengan aliran air kata-kata membunuh waktu ke gang-gang yang pernah dikutuk sebelumnya, di antara orang-orang yang onani dan masturbasi, membayangkan kekasih-kekasih yang telah pergi.
“Duhai, kekasih. Di mana kau bersembunyi?!”
Di jalan itu, sebuah rumah tinggal rangkaian pondasi, dinding, atap, dan ubin tak sempurna. Kulihat ada yang membuka pintu, setelah mendengar ratap lirih kekasih dari bawah tumpukan potret-potret keluarga yang tertindih pecahan kaca pigura.

__________________________
Ahmad Syauqi Sumbawi, sastrawan kelahiran Lamongan 28 April 1980. Menulis cerpen, puisi, novel, esai, kritik, dll. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa. Puisi-puisinya terkumpul dalam antologi: Dian Sastro For President; End of Trilogy (Insist, 2005), Malam Sastra Surabaya; MALSASA 2005 (FSB, 2005), Absurditas Rindu (2006), Khianat Waktu (DKL, 2006), Laki-Laki Tanpa Nama (DKL, 2007), Gemuruh Ruh (2007), Kabar Debu (DKL, 2008), Tabir Hujan (DKL, 2010), Darah di Bumi Syuhada (2013), Pesan Damai di Hari Jumat (2019), Menenun Rinai Hujan (2019). Dan beberapa cerpennya dapat dibaca pada kumpulan: Sepasang Bekicot Muda (Buku Laela, 2006), Bukit Kalam (DKL, 2015), Di Bawah Naungan Cahaya (Kemenag RI, 2016).
Sementara antologi tunggalnya: Tanpa Syahwat (Cerpen, 2006), Interlude di Remang Malam (Puisi, 2006), dan #2 (SastraNesia, Cerpen 2007). Novel-novelnya yang telah terbit: Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong (2007), Waktu; Di Pesisir Utara (2008), dan “9” (2020). Sedangkan bukunya dalam proses cetak ulang “#2,” dan Limapuluh (kumpulan puisi) segera hadir. Selain menulis, juga berkebun, dan mengelola Rumah Semesta Hikmah, dengan kajian dibidang sastra, agama dan budaya, di dusun Juwet, Doyomulyo, Kembangbahu, Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *