Rehorny 92 = Gerakan May?

Afnan Malay*
http://www.jawapos.co.id/

YA, seperti hidup, seni rupa adalah teka-teki. Mungkin, definisi itu akan memudahkan kita untuk memahami kerangka berpikir mereka yang hanya akan terkesima pada sesuatu yang dianggap memiliki ke(baru)an. Artinya, ada gagasan -monumental, eksentrik, fenomenal, kontroversial, fundamental, atau apa pun- yang tengah disodortawarkan dalam setiap aktivitas berkesenirupaan.

Kenyataan itu menjadi semacam aksioma. Tanpa muatan ide-ide yang besar atau unik, banyak yang serta-merta kehilangan antusiasme untuk melakukan aktivitas, dalam hal ini: pameran. Kita dapat merasakan fenomena itu pada pameran kelompok angkatan (merujuk pada tahun diterima sebagai mahasiswa) yang terselenggara, tetapi dibarengi kerikuhan. Karena itu, pameran angkatan jatuh martabat tidak lebih dari ajang rendezvous belaka.

Itulah faktanya: penyakit rikuh yang lazim dalam semua pameran angkatan selalu seragam, takut terjebak romantisme. Sebenarnya, ketakutan seperti itu menyedihkan. Apa yang salah dengan romantisme? Kenapa konotasi romantisme senantiasa terarah kepada sesuatu yang busuk? Jawabannya terlalu sederhana, karena pameran kelompok angkatan merupakan teka-teki yang mudah ditebak: tidak menawarkan apa-apa!

Pameran kelompok angkatan -setidaknya secara diam-diam- kita definisikan sebagai hal yang mubazir. Katakanlah, sekadar sesuatu yang nonsens, tetapi dilakukan secara kolektif. Sungguh, bukankah itu kekonyolan yang paling tragis? Jadi, pameran bertajuk Rehorny 92 yang diselenggarakan pada 22-29 Mei 2010 di Jogja National Museum (JNM, eks kampus ISI Gampingan, Red) Jogjakarta akankah melakukan kekonyolan yang sama dengan pameran kelompok-kelompok angkatan yang terdahulu?

Tentulah diperlukan argumen agar penilaian terhadap pameran kelompok angkatan 92 ini bisa proporsional. Pameran kali ini menyertakan karya-karya, di antaranya, S. Teddy D., Dipo Andy, Aan Arif, Diah Yulianti, Laksmi Sitharesmi, Wilman Syahnur, Yon Indra, Kokok P. Sancoko, Mahendra Toris, Iskandar Fauzi, Arie Diyanto, Pius Sigit, Laila Tifah, Eko Bhirowo, Denny Susanto, Hestu A. Nugroho, Iwan Wijono, Zipit Supomo, Didik Nurhadi, Nugrahanto Widodo, Amirul Maarif, Kadafi G. Kusuma, Eddi Prabandono, dan Fajaral Kurniadi. Pameran itu ditangani duet kurator Wicaksono Adi dan Rain Rosidi. Katalog, selain deskripsi yang dipaparbedahkan oleh Adi dan Rain, disertai imbuhan tulisan Weye Haryanto dan Afnan Malay.

Secuplik argumen itu: pertama, ini adalah pameran angkatan yang tidak departemental (hanya jurusan seni lukis), tetapi mencakup seluruh cabang keilmuan dalam lingkup Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta angkatan 92. Pelepasan sekat kelompok angkatan -selama ini pameran angkatan identik dengan minat utama seni lukis- memberikan pesan bahwa dunia seni rupa adalah ruang terbuka: misalnya, cah (anak) desain bikin patung, cah patung gawe lukisan, cah lukis nggarap performance art, dan seterusnya. Kesadaran itu, tentu saja dengan sangat rendah hati, perlu diungkapkan: benih-benihnya sudah lama tumbuh pada angkatan 92.

Kedua, hidup tidak selamanya teka-teki. Tentu saja, begitu pula dengan seni rupa. Sebab, seperti hidup, seni rupa tidak melulu urusan menjawab teka-teki: seni rupa bukan ihwal tebak-tebakan. Definisi seperti itu meleluasakan kita untuk melakukan aktivitas, termasuk berpameran. Masterpiece-syndrom -istilah itu saya buat sendiri- merupakan musuh utama para kreator: apa pun bidangnya.

Sindrom semacam itu, setidaknya saya cermati dan rasakan, dijangkiti banyak penulis (fiksi maupun nonfiksi) 80-an yang gamang berkarya karena dihantui ketakutan kreasinya bernilai picisan.

Ketiga, ketakutan psikologis terjebak sekadar merajut romantisme -sesungguhnya- juga dirasakan sekalipun kadarnya tipis-tipis. Indikasinya, tajuk pameran, yaitu Rehorny 92, menggunakan logika pelesetan: Rehorny=Reuni. Pelesetan adalah kiat untuk menghindar dari definsi (vonis) yang baku. Maksudnya, bila tajuknya datar-datar saja, misalnya Reuni Angkatan 92, tentulah tuduhan sebatas perhelatan romantisme tidak mungkin terelakkan sama sekali.

Keempat, selain alat hindar, pelesetan sejatinya punya ”pola ungkapnya” sendiri. Rehorny ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa teka-teki hidup kita -pun seni rupa- yang semakin hilang membutuhkan formula. Rehorny adalah formula melawan rutinitas -hidup yang tidak lagi teka-teki- dengan cara kembali terus-menerus memantik: hasrat, gairah, atau berahi. Tanpa itu, pun seni rupa, hanyalah sebatas kanvas kosong. Ya, kalau menampik ”rehorny”, adakah yang masih bisa disuguhkan seni rupa, politik, bahkan agama sekalipun?

Kelima, sebenarnya terlalu mengharapkan pameran kelompok angkatan menawarkan terobosan, cara pandang baru, atau bentuk pemberontakan atas sesuatu yang mapan: hal yang berlebihan, masterpiece-syndrom. Angkatan adalah ihwal statistik-administratif. Ada banyak ruang dan forum untuk melakukan gebrakan, tetapi itu bukanlah tugas kelompok-kelompok angkatan. Membenani kelompok-kelompok angkatan dengan misi sedahsyat itu sebuah keterlaluan tanpa ampun.

Bahkan, analoginya, partai politik yang mana pun dalam setiap kongresnya (forum pertanggungjawaban dan pergantian pengurus) senantiasa gagal membuat upaya terobosan, cara pandang baru, apalagi pemberontakan terhadap bangunan politik yang mapan. Padahal, mereka memiliki kepentingan yang sama, merupakan organisasi yang tersistem, dan mengklaim diri digerakkan ideologi yang diyakini.

Pertanyaannya, kelompok angkatan -tidak peduli angkatan tahun berapa- punyakah itu semua: kepentingan bersama, tersistem, dan berideologi? Yang pasti, kelompok angkatan memiliki kesamaan yang identik: yaitu, ihwal statistik-administratif.

Kesimpulannya, apakah Rehorny 92 layak kita sebut Gerakan May? Kata kunci yang bisa saya sodorkan tentulah jangan pernah takut mendefinsikan sesuatu: ya, Rehorny 92 adalah Gerakan May! Rehorny sebagai formula mengencangkan hasrat, memupuk gairah, terus menjaga berahi adalah gerakan lintas waktu: ya Januari, Maret, Juli, atau Desember. Tanpa hasrat-gairah-berahi, terus terang saja, lupakan hidup, lupakan angkatan, lupakan seni rupa.

Hanya dengan hasrat atau berahi kita masih bisa berharap hidup masih punya teka-teki, begitu pula seni rupa. Sekalipun, keterperangahan seni rupa kita hari ini mungkin saja mengerucut pada satu persoalan: pasar! Tetapi, apakah kita terpasung bila kenyataan pasar merupakan peradaban kita hari ini.

Jadi, mainkanlah sebuah teka-teki aja, yang sangat mungkin memacu hasrat, memompa gairah, mengundang berahi kita. Tidakkah, teka-teki itu adalah booming: ho ho ho. Tetapi, benarkah booming seni rupa itu merupakan teka-teka? Apakah booming -seperti juga pasar pada umumnya- tidakkah itu sebuah desain: konstruksi yang konkret? Tampaknya, kalau ia merupakan konstruksi, tentulah kedatangannya bisa dipercepat: 2012, 2014, atau lebih baik 2011? Tetapi, bisa pula kedatangannya tertunda-tunda.

Maaf, kepada perupa yang alergi (atau yang terlalu kritis terhadap pasar), yang biasa risih menyaksikan relasi seni rupa dengan pasar. Tetapi, bukankah faktanya, kalau membicarakan pasar menyoal booming, niscaya hidup dan seni rupa kita hari ini tidak terpantik hasrat-gairahnya sehingga menggumpalkan berahi. Bung, ayo Bung: rehorny! (*)

*) Kurator seni rupa, pada 1992 adalah mahasiswa Seni Lukis FSRD ISI Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *