Sajak-Sajak Mashuri

lampungpost.com

Estri Mustakaweni

seperti musim, angin selalu berkutat antara pantat
dan khianat
lalu cuaca berkejaran di reranting, seperti kutilang
mengekalkan gigil dalam kicauan
lalu menepikan segala dusta
dengan kaca
menjelma montase luka
di gereja
tubuh mungkin tersalib
tapi siapa bisa mengintip, di jendela
di antara dua daun
sebuah mata tak berkedip
lalu jubah turun satu-satu, menanting darah
seperti gembala turun ke padang
tandus, dengan tongkat terhunus
: kembalilah!
jalan kudus tak pernah berhenti
tuk satu janji
meski maut merenggut, bagai domba pada rumput
dolorosa, dolorosa!
kesakitan memanggul beban
tubuh dipaku
dan keheningan memuncak di abu
hingga luka kembali luka
dada merobek dada
mungkin tak ada yang kembali
kerna sungai telah menyuci jalan-jalan
peruntungan
di sini, biri-biri dikebiri, buntung hati
di sana, purnama terluka
kerna gerhana menjelma malam
yang tiada habisnya
lalu lumut memberi saksi
pada pembaptisan dini hari
bahwa dusta, dosa dan ihwal lelara
hanya ikan-ikan, sisik yang bakal tanggal
dan sebuah waktu terkubur debu
tapi
kerinduan ‘lah terpenggal di udara
suara burung nyanyikan lara
requiem terus berkumandang
perkabungan jelma nisan
kubah-kubah tua, lonceng katedral,
susu kental
menggumpal di cakrawala
seperti darah beku
hitam, kekal, membatu

Surabaya, 2003

Pupu

tak ada yang lebih indah dari hampa
seperti jam yang terus berputar
berputar, dan tak tahu kapan
makam menguburnya
dan memberi nisan dan nama
dan tuhan terjelma dari kerling perawan
surga? mungkin
angka-angka mengaburkan pandangan
hingga sebuah hitungan mundur
dalam dengus tak beraturan
dengan jejak-jejak kabur
nol nol
seseorang telah menyematkan tuah
di sprei
saat pagi, dilihatnya darah, dilihatnya luka
lalu ia bertanya:
kapan seseorang pergi, kapan
mata itu menjelma lubang
hitam
nol nol
tak ada yang sempurna
kecuali hampa
di pembaringan, seseorang bisa membaringkan
kekosongan
mengenali lekuk terdalam
lalu berbisik perlahan
: mungkin aku sudah tak perawan!

Surabaya, 2003

Bunga di Langit-Langit Kamar

kenapa kau tanam bunga di langit
langit kamar
adakah mawar bakal mekar saat kau tertidur
dan igauanmu membangunkan matahri
agar ia menerjemahkan mimpi
dalam sebuah perjumpaan pagi
mungkin hanya payung hitam
seperti kelelawar yang tiba-tiba datang, mencakar
dan mengabarkan suara
suara lembah
bahwa malam telah mengheningkan cipta
kerna matahari berbiak demikian banyak
tak ada mimpi abadi
di kamarmu
kerna suara nafasmu selalu membangkitkan
nafsu
dan bunga-bunga itu akan tumbuh
di batu
turun ke keningmu
dan mengguratkan sebait kalimat
perpisahan
dalam tidurmu
dan
dari langit-langit kamarmu
bunga akan terus luruh
seperti musim gugur
yang memenggal mimpimu

Surabaya, 2003

Desir Pesisir

saat kita bercinta, kulihat punggungmu rekah
kuingat batu gamping dimasukkan air
aromanya menuntunku pada pasir
pasir pantai, uap garam
dan desir pesisir
hangat berlendir
kutuntun nujumku pada haribaanmu
seperti perahu melaju
di atas gelombang pasang
angin memberi seribu tawaran
dan layar-layar terbentang
nelayan bakal berangkat
menebar jala
di sela karang, sambil bermadah
puji puja
kutangkup dadamu
seperti kutangkap ikan
berlompatan di antara riak ombak
lalu sampan bergerak perlahan
jala-jala terbentang
beberapa perangkap
menjebak
haluan tegak
subuh turun
kulihat tubuhmu turun
dan jala-jala diangkut ke dermaga
ikan-ikan berjejal di tempayan
tak lagi terdengar perlawanan
perahu bersandar, layar dirapikan
dengan berbantal lengan, kubersandar
tubuhmu
sepertinya gamping telah dingin
mungkin aku harus mengambil kuas
menyapu dinding bambu dengan apu
agar rumah kita putih
seputih kulitmu

Surabaya, 2003

Istriku
–tuk sebuah nama

rembulan masih mengambang, saat kunyalakan lilin
di malam sunyi, dingin
bayang-bayang wajahmu maujud dalam mimpi
kusemaikan bunga di altar, kubaca doa
kupanggil namamu dengan derita
saat kutatap wajahmu, kukenal cintamu
dari kalung yang melingkar
seperti butir gandum, seperti rantai
atau bulir-bulir marmar
dan sebuah sapa liar:
“Inikah yang kau cari, Pejantan”
kau tersenyum dengan kepahitan
menapak jalan yang harus kau tapak
meski jejak ‘lah retak
istriku, tuk mencapai ranjangmu
ku harus melampaui beribu kematian
berperang dengan diri, memenggal alur langit
nistakan kehendak, puja kampak
tuk hasrat yang merebak
di hati, seperti air laut dinihari
saat fajar, hanya bayang-bayang samar
matahri
tubuhmu kembali berarak
bersama awan
kutunggu saat petang
saat gelombang pasang
terjang karang
karang hati
kunanti kau di sini
seperti pesakitan yang harus terus
menulis kerinduan di pasir pantai
setiap hari

Surabaya, 2003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *