Menolak Komersialisasi Sekolah

Buku Sekolah Bukan Pasar
Siti Muyassarotul Hafidzoh
http://suaramerdeka.com/

PENDIDIKAN merupakan wahana untuk mencetak kader bangsa pada masa depan. Dari institusi pendidikan diharapkan muncul para generasi yang revolusioner yang mampu mengembalikan wajah bangsa yang selama ini dikenal sadis, intoleran, dan penuh kebencian menjadi humanis, kritis dan transformatif. Bangsa yang humanis akan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal, baik lokal mapun global, sebagai wujud transformasi nalar kritis yang terbangun dalam lembaga pendidikan.

Transformasi nilai humanisme kritis ini akan mewujudkan tatanan masyarakat yang berkesadaran dalam membangun dan mewujudkan impian founding fathers bangsa tercinta ini, yakni menjadi bangsa yang bermartabat, berkeadilan, berkeadaban, dan berguna bagi alam semesta.

Namun, idealisme mewujudkan impian founding fathers dari kader bangsa yang lahir lembaga pendidikan bukanlah segampang membalikkan telapak tangan. Pendidikan bangsa ini telah mengalami pergeseran, baik orientasi, kurikulum, maupun tata pergaulan dan relasi guru murid. Dalam hal orientasi, pendidikan kita telah terjebak dalam nalar yang kapitalistik, hedonistik, bahkan hegemonik. Masuk sekolah atau perguruan tinggi bukanlah untuk mendarmabaktikan kemampuan dan kepandaiannya nanti untuk kepentingan bangsa, namun hanya untuk mencari kerja dan kekayaan an sich. Karena itu dalam tahun ajaran baru sekarang ini, anak memasuki sekolah pertimbangan paling utamanya adalah marketable atau tidak. Kalau memang lembaga itu marketable, maka akan menjadi prioritas utama walaupun lembaga itu tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Sementara lembaga yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, namun tidak prospektif, bukan tidak mungkin akan gulung tikar.

Nalar Kapitalistik

Nalar kapitalistik pendidikan inilah yang dikritik dengan tajam oleh St Kartono dalam ini. Penulis melihat bahwa setiap tahun ajaran baru sudah dipastikan akan terjadi proyekisasi dalam menerapkan manajemen pendidikan. Lembaga pendidikan akan menerapkan ?bandrol? masuk sekolah dengan begitu tinggi, sehingga imbasnya yang mampu masuk hanya orang-orang elite saja, sementara orang miskin akan terpinggirkan bahkan bisa jadi tidak mampu membayar ongkos sekolah. Sudah banyak kasus di berbagai daerah yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri orang miskin.

Hasil proyekisasi pendidikan ini juga sangat berimbas dengan adanya kurikulum dan tata pergaulan guru murid. Kurikulum bangsa ini seolah juga proyek. Setiap terjadi pergantian menteri pendidikan, di situ juga terjadi pergantian kebijakan pendidikan. Setiap periode kementrian seolah tidak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk membangun proyek. Karena itu setiap saat kurikulum yang ?digodok? tidak menemukan kepastian. Bukannya kita tidak mengiginkan perubahan yang lebih baik, namun kalau setiap saat terjadi perubahan yang tak berarti, untuk apa kita melakukan perubahan. Dan ternyata perubahan itu hanya dijadikan proyek elite tertentu. Hal ini berbeda dari Malaysia. Pergantian pergantian menteri akan selalu melanjutkan dan menyukseskan kebijakan menteri sebelumnya, sehingga terjadi kesinambungan dan keseimbangan kurikulum.

Sementara dalam tata hubungan guru-murid, terjadi degradasi yang sangat mengenaskan. Guru seolah hanya ?pekerja? yang mereka bayar dari SPP setiap bulannya. Karena itu konflik yang terjadi antara guru-murid sering merambah pada hal-hal yang berkait dengan kekerasan fisik.

Di tengah kegamangan pendidikan ini, sudah saatnya kita mengembalikan orientasi pendidikan kita. Perlu upaya gerakan untuk menumbangkan watak kapitalistik dalam pendidikan kita. Dalam hal ini, kita tidak hanya menghadang kapitalisme pendidikan, namun juga melawan watak kapitalis ekonomi dunia. Sehingga upaya yang harus kita lakukan harus bersinergi antar lembaga, baik ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya.

Disinilah peran pemerintah sangat strategis. Pemerintah harus melakukan upaya menumbuhkan nalar humanis dalam kurikulum yang dirancang dinas pendidikan. Hal ini kita bisa mencontoh apa yang dilakukan Plato dalam mengajarkan keilmuan kepada bangsa Yunani. Plato yang merupakan tokoh filsafat yang meneruskan pemikiran gurunya Socrates mengajarkan keilmuan secara universal.

Sekolah yang ia dirikan bukan hanya mengajarkan materi filsafat, namun juga bagaimana siswa memaknai hidupnya dan menghadapi tantangan di masa depan secara modern dan independ. Terbukti, Plato mampu mencetak sosok sekaliber Aristoteles yang ajaran-ajarannya masih menjadi rujukan manusia modern dewasa ini. Plato mampu melakukan transformasi ilmunya, baik ilmu kritisisme maupun ilmu memaknai kehidupan secara hakiki.

Lebih spektakuler dari Plato, Nabi Muhammad juga mampu mengajarkan nilai kehidupan secara universal, sehingga beliau mampu merubah peradaban yang jahily menjadi perabadan yang oleh Rober N Bellah dikatakn sebagai peradaban modern bahkan terlalu modern untuk ukuran zaman Arab ketika itu. Karena kondisi sosiologis masyarakat Arab ketika itu belum mampu menopang pondasi peradaban yang diletakkan oleh Nabi Muhammad. Maka tidak salah kalau beliau diletakkan sebagai tokoh paling terkemuka nomor satu seluruh dunia oleh sejarawan Barat, Michael Hart. Dari nalar inilah, kita akan mampu menghadang watak kapitalistik pendidikan kita.

Namun, di tengah masih massif nalar kapitalistik pendidikan, orang miskin haruslah tegar menghadapinya. Belajar bukanlah dalam lembaga pendidikan formal an sich, namun kalau kita mampu mengoptimalkan berbagai sarana belajar, maka kita akan mampu bersaing bahkan melebihi mereka yang ada disekolah formal. Uang tidaklah memberikan masa depan, namun komitmen dan konsistensi yang akan membuat kita tegar untuk merebut masa depan yang gemilang. Komitmen inilah yang perlu kita pegang bersama agar krisis yang melanda bangsa tercinta ini sedikit demi sedikit akan mengalami perbaikan guna mewujudkan perjuangan yang telah dirintis para founding fathers kita dahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *