Warisan Sang Pembuka Pintu

L.N. Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ada nama Jawa untuk menandai ruangan itu. Ya, Artati, artinya manis, sama dengan Zoet dalam bahasa Belanda. Sesungguhnya, Artati adalah nama samaran Zoetmulder untuk dua tulisannya, De Strijd om het Paradijs dan Literatuur over den Islam. Dulu, seratus hari setelah Zoet meninggal, nama itu diabadikan di ruangan itu. Ruangan bagian dari Perpustakaan Pusat Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta. Continue reading “Warisan Sang Pembuka Pintu”

SINEMA “INDONESIA”

Saut Situmorang

Apakah membuat “film” itu gampang? Di Jakarta jawaban pertanyaan serius ini kayaknya gampang. Setelah membuat novel itu gampang, membuat cerpen itu gampang, membuat puisi itu gampang, membuat biennale (seni rupa dan sastra) itu gampang, bahkan membuat hadiah seni juga gampang, maka sekarang tren terbaru keluaran Jakarta adalah “Membuat film itu gampang”. Makanya, setelah booming sastra, setelah booming seni rupa, sekarang adalah era booming film Indonesia. Bangkitnya kembali (per)film(an) Indonesia, seru para pundit-nya di Jakarta. Istilah kerennya mungkin “The Renaissance of Indonesian Cinema”. Indikator dari fenomena musim semi (per)film(an) Indonesia ini, ternyata, cuma satu hal: film Indonesia sudah diputar kembali di bioskop-bioskop Indonesia! Continue reading “SINEMA “INDONESIA””

Puisi dan Anak-anak Sejarah Zainal Arifin Thoha

Pengantar Antologi Puisi ‘Mazhab Kutub’ terbitan PuJa (PUstaka puJAngga) 2010
Fahrudin Nasrulloh *

Suatu hari, sekisar pertengahan tahun 2007, saya berjumpa dengan Gus Zainal Arifin Thoha di Pesantren Tebuireng, Jombang. Hari itu diadakan pertemuan alumni. Beberapa teman dan kiai yang saya kenal juga tampak hadir. Salah satunya adalah penyair dari Jeruk Macan, Mojokerto, Kiai Khamim Khohari. Continue reading “Puisi dan Anak-anak Sejarah Zainal Arifin Thoha”

Bahasa »