“Simpan Golokmu, Asah Penamu”

Sukar
radarbanten.com

Toto ST Radik tak hendak berpuisi. Tapi, rangkaian kata-kata itu ia jadikan simbol gerakan membangun budaya literasi di Banten. Kini telah lahir penulis-penulis muda dengan segudang karya dan prestasi. Kebangkitan budaya literasi di Banten?
***

Budaya literasi di Banten sebenarnya memiliki sejarah panjang. Di era Kesultanan Banten, Desa Kasunyatan pernah menjadi pusat pengajian (sekaligus pengkajian) bagi para ulama dalam membedah kitab-kitab agama. Dan puncak kejayaan budaya literasi di ranah Banten terlihat dari produktivitas Syekh Nawawi Tanara yang menghasilkan ratusan kitab, yang hingga kini menjadi rujukan kaum santri, pelajar, dan mahasiswa di berbagai negara. Continue reading ““Simpan Golokmu, Asah Penamu””

Kita dalam Kosmologi Pohon

Bandung Mawardi
http://cetak.kompas.com/

Peluru menghantam geram. Bom meledak tanpa ampun. Api membakar dalam nafsu kematian. Pohon keramat dan besar itu roboh. Pusat dari kehidupan mengalami sekarat oleh imperasi kapitalisme. Pohon peradaban dimatikan demi pembesaran modal. Sakralitas hidup absen dari nalar kapitalisme. Modal sanggup menggerakkan ilmu pengetahuan-teknologi modern dan militer untuk impian picisan. Kisah pedih ini hadir dalam film Avatar garapan James Cameron. Kontradiksi-kontradiksi manusia tampil dalam arogansi, keharuan, kepicikan, kearifan, dan kebersahajaan. Continue reading “Kita dalam Kosmologi Pohon”

Membaca Jawa lewat Raffles

Judul buku: The History of Java
Penulis: Thomas Stamford Raffles
Alih bahasa: Eko Prasetyaningrum, Nuryati Agustin, Idda Qoryati Mahbubah
Penerbit: Penerbit Narasi, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Halaman: XXXVI + 904 halaman
Peresensi: Ahmad Musthofa Haroen*
http://www.ruangbaca.com/

Ketika meninggalkan Indonesia (tepatnya di Bengkulu) pada 1823, sambil menyeka air mata, Raffles membawa pulang 30 ton naskah tentang Jawa. Continue reading “Membaca Jawa lewat Raffles”

Menyelami Dunia Aksara Keraton

Cahyo Junaedy
http://www.ruangbaca.com/

Koleksi naskah kuno Pakualaman dibukukan. Sebuah upaya mendokumentasikan masa lalu melalui aksara.
Ruangan itu kusam. Lampu neon yang menjadi pelita utama di ruang berukuran 3 x 4 meter pun sudah temaram. Penglihatan sedikit tertolong lantaran cahaya mentari yang menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela. Di dalam, hampir seluruh permukaan dinding tertutup rak-rak buku sederhana. Tingginya seukuran orang dewasa. Dalam perut rak, berjajar ratusan buku beragam jenis dan ukuran. Continue reading “Menyelami Dunia Aksara Keraton”

Bahasa ยป