Ular Betina

Teguh Winarsho AS
sinarharapan.co.id

Malam pucat di mata Tamin seperti selembar kertas kusam. Jidatnya berleleran keringat, tampak licin berkilat. Pandangan matanya remang, kabur, seperti dilingkupi kabut tebal. Tamin menggosok-gosok matanya dengan ujung jarinya yang berkuku panjang. Ada rasa perih menusuk. Juga kantuk yang masih mengutuk. Tapi Tamin tak mungkin bisa tidur lagi. Tamin akan melek sampai pagi bahkan siang hari. Sebab mimpi buruk itu pasti akan mengendap-endap mendatangi tidurnya begitu ia berhasil mengatupkan kelopak mata dan merapatkan selimut ke sekujur tubuhnya. Continue reading “Ular Betina”

Pecahannya Merekahkan Pelangi

M.D. Atmaja

Siang hari, sewaktu matahari baru saja merangkaki langit, pada kehangatannya, dua manusia, lelaki-perempuan berjalan menyusuri pasir yang gemerisik membisik. Mereka bergandengan tangan, saling merekatkan diri agar salah satunya tidak terseret begitu saja. Agar keduanya dapat berjalan seiring, di jalan yang sama untuk saling mereguk hasrat, kemurnian asa, renyahnya pemahaman atau manisnya daging yang basah. Dan, mereka pun terus berjalan dengan sama-sama menggelayut ke mega-mega hati yang di sana terdapat sungai harapan yang mengalir di tengah malam. Continue reading “Pecahannya Merekahkan Pelangi”

RUANG-RUANG PUITIKA YANG ELASTIS

Nurel Javissyarqi

“Karena satu-satunya budaya yang benar ialah budaya revolusi; yakni, ia selalu dalam proses menjadi” (Jean Paul Sartre dalam pengantar bukunya Frantz Fanon, The Wretched of the Earth).
***

Realisme, surealisme, abstrak dan sebagainya. Aku pandang hanyalah sudut pemaknaan dari kurun jaman. Suatu karya dimasa tertentu bisa dianggap surealis, diwaktu berbeda memasuki realisme magis, lantas ke puncaknya pyur sangat realis. Continue reading “RUANG-RUANG PUITIKA YANG ELASTIS”

Bahasa ยป