Ki Ageng Suryo Mentaram Mengolah Keadiluhungan Budaya Jawa

Muh Muhlisin
http://cetak.kompas.com/

Kebudayaan berubah ketika seorang pangeran meninggalkan istana dan gelar, mengembara dan berbaur dengan rakyat jelata sebagai rakyat biasa. Kalaupun kisah Sidarta Gautama, cerita Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga terlalu jauh jarak waktunya untuk diingat, kita memiliki teladan yang lebih dekat dengan waktu kita hari ini. Ia adalah Raden Mas Kudiarmaji yang berganti nama menjadi Ki Ageng Suryo Mentaram, putra ke-55 Sultan Hamengku Buwono VII. Continue reading “Ki Ageng Suryo Mentaram Mengolah Keadiluhungan Budaya Jawa”

Parafrase Kesedihan

A Qorib Hidayatullah
indonimut.blogspot.com

Beragam dongeng atau pun cerita kesedihan yang dipendarkan dalam gerak avonturus hidup ini. Kisah kesedihan dalam hidup layak ditali-temalikan agar proses hidup tidak sombong. Manusia butuh hidup bijak di tengah arus dangkal pemaknaan hidup hedonis. Semisal trah Bohemian di negeri Paman Sam, karena telah teken konsistensi berhidupkan sedih, mereka memarkir dirinya tinggal di pedalaman di negara adidaya (sub-urban) itu. Continue reading “Parafrase Kesedihan”

49 Tahun Realisme Bumi Tarung

Muhidin M. Dahlan *
jawapos.co.id

JUNI yang basah ini tepat 49 tahun Sanggar Bumi Tarung (SBT) Jogjakarta. Itulah sanggar seni rupa yang menguasai pleno Lembaga Seni Rupa Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) paling akhir, yakni Juli 1965 (Harian Rakjat, 4/7/1965), sebelum terkubur kutukan revolusionernya. Lalu, SBT kembali bangun dari hibernasinya yang teramat panjang di arena seni rupa Indonesia pada 19 Juni 2008, setelah gelanggang dikuasai sepenuhnya oleh contemporary art (Almanak, 2009: 277). Continue reading “49 Tahun Realisme Bumi Tarung”

Mementaskan Kemuraman Maeterlink

Kustiah Tanjung*
http://www.jawapos.co.id/

PEMENTASAN naskah drama liris-simbolis The Intruder karya Maurice Maeterlink, peraih Hadiah Nobel Sastra 1911, sungguh hening. Gelap, sunyi, dan muram disuguhkan silih berganti. Dari awal sampai akhir pementasan di ruang pertunjukan Bentara Budaya Jakarta, 2-3 Juni lalu, itu tidak terdengar tawa seorang penonton pun. Seolah penonton ikut masuk menjadi bagian dari ”pemain” yang mementaskan karya yang terkenal berat tersebut. Continue reading “Mementaskan Kemuraman Maeterlink”

Bahasa ยป