Mementaskan Kemuraman Maeterlink

Kustiah Tanjung*
http://www.jawapos.co.id/

PEMENTASAN naskah drama liris-simbolis The Intruder karya Maurice Maeterlink, peraih Hadiah Nobel Sastra 1911, sungguh hening. Gelap, sunyi, dan muram disuguhkan silih berganti. Dari awal sampai akhir pementasan di ruang pertunjukan Bentara Budaya Jakarta, 2-3 Juni lalu, itu tidak terdengar tawa seorang penonton pun. Seolah penonton ikut masuk menjadi bagian dari ”pemain” yang mementaskan karya yang terkenal berat tersebut.

Kelompok Teater Actors Unlimited dari Bandung mementaskan naskah yang ditulis pada 1890 itu, yang telah disadur menjadi Yang Berdiam dalam Marahnya Sunyi. Menurut sutradara pertunjukan, Fathul A. Husein, judul lakon itu lebih puitis daripada aslinya. Sebab, teks-teks dan gambaran yang dipertunjukkan memang puitis-magis. Teks-teks drama tidak sekadar petikan dialog atau monolog para tokohnya, tapi menghasilkan produksi tafsir lebih dalam. Setiap kalimat mengarahkan tafsir terhadap referensial yang berbau filosofis dan teologis. Pertunjukan tersebut berhasil membawa penonton merenung sejenak tentang maut dan kebutaan.

Drama Yang Terdiam dalam Marahnya Sunyi berkisah tentang maut dalam keluarga dengan orang-orang yang berelasi secara tidak umum dan rumit. Mereka cenderung menjalani hidup untuk dirinya sendiri dengan moralitas yang sama tanpa impresi. Tapi, di balik setiap peristiwa, bahkan nyaris setiap frase, seseorang sadar tentang bersembunyinya sebuah kesemestaan, bayang-bayang dari segala sesuatu yang jauh lebih besar. Sebuah impresi yang tampak lebih berwujud lambang ketimbang sesuatu yang terumuskan.

Pementasan itu bukan hanya unggul dari segi naskah. Para pemain juga menunjukkan kelasnya. Tokoh utama, Kakek (diperankan Mohammad Sunjaya, 72, aktor teater senior), membuat pementasan tersebut benar-benar hidup. Dia berhasil memainkan emosi naik-turun penonton dengan suaranya yang terkadang keras dan menusuk.

Tokoh lainnya, Yosep (aslinya tokoh Ayah, diperankan Harya Prabu), Maria (aslinya Adik Perempuan, diperankan Yuni Mae), Ursula (aslinya Anak Perempuan, diperankan Zulfa Laila), Pelayan (diperankan Retno Dwiamartawati), dan Biarawati (diperankan Vienesia Jonathan dan Petrisia Sabattani). Mereka adalah para pemain yang sudah makan asam garam dunia teater.

Kakek adalah tokoh tua renta yang hanya duduk di atas kursi roda dan selang infus menancap di tubuhnya. Dia tokoh yang melihat hidup dengan hati. Mata boleh buta, tapi hati tetap terang menerawang. Tokoh lainnya adalah orang-orang muda dan remaja yang sehat dan kukuh tubuhnya. Yosep dan Maria, dua anak Kakek, terlibat pembicaraan yang serius soal ada dan tiada, tentang kebenaran dan kebodohan, tentang gelap dan terang, tentang suara dan kesunyian. Keduanya menuduh Kakek buta, dungu, dan tidak tahu apa-apa. Tapi, Kakek ngotot mengetahui setiap hal yang berkelebat di sekitarnya. Indera pendegarannya jauh lebih tajam daripada mereka yang sehat secara fisik. Tokoh protagonis-antagonis saling memperebutkan dan mengklaim kebenaran yang dimiliki.

Pementasan The Intruder nyaris merepresentasikan semua ciri karakteristik karya-karya Maeterlink. Karya-karya penulis drama liris kelahiran Belgia itu dikenal minim laku dramatik, fatalisme, mistisisme, dan kehadiran yang konstan dari sang maut. Bukan maut yang biasa dan mudah. Maut yang menyusup ke dalam sebuah rumah, seutas jiwa, dalam lapis-lapis simbolisme sunyi, kosong, kelam, penuh bisikan dan rintihan, tapi marah mematikan.

Selain dilengkapi pencahayaan yang kuat, audio pertunjukan juga mampu memperdengarkan suara mendekati kenyataan. Maut digambarkan sebagai bayang-bayang hitam dari sosok misterius, hujan rintik-rintik, hembusan angin kecil, pohon-pohon yang bergetar, angsa-angsa yang blingsatan, ikan-ikan dan kolam yang tenggelam di sinar bulan. Selain itu, burung-burung malam yang tiba-tiba senyap, cahaya yang memudar dan gelap, suara mengerikan dari sabit besar yang diasah dan rumput-rumput musnah oleh tebasannya. Langkah-langkah ganjil, ketukan di pintu yang hampa terbuka, detak jam, lonceng, cahaya aneh, dan jeritan bayi adalah penggambaran menjelang datangnya sang maut.

Dalam dunia teater, pertunjukan itu dikenal sebagi teater postdramatik. Pertunjukannya lebih merupakan upaya gigih untuk menciptakan efek-efek yang tak lazim bagi penonton daripada setia kepada teks. Konsentrasi penuh kepada interaksi dan relasi intuitif antara pemain dan penonton. Pementasan tidak lagi mementingkan rangkai peristiwa dalam kesatuan ruang dan waktu linier.

Menurut Fathul A. Husein, teater prostdramatik berupaya keras menawarkan sebuah pemahaman tentang teks-teks yang bisa menjadi frustrasi dan sanggup menggagalkan representasi dan strukturisasi waktu.

Desain panggung dan artistik yang dipimpin perupa Diyanto mencoba memvisualisasikan narasi maut yang mencekam itu. Ruang tengah adalah pusat pembicaraan. Tapi, ruang tengah tersebut bisa diubah menjadi tempat imajiner berupa ruang bawah tanah, rumah sakit, ruang ibadah, dan pinggir kolam. Perubahan itu hanya dengan perubahan tata cahaya dan ucapan. Ruang ditata dengan meja berantena di tengahnya. Antena juga tertancap sekitar lantai. Antena ini adalah alat menangkap sinyal pesan-pesan kematian. Bak mandi berukuran besar dan botol infus tergantung di atasnya.

Di bagian belakang digambarkan aliran arus listrik yang menjadi simbol mengalirnya energi kehidupan. Lagu Lachrymosa (Heidi Fielding), My Reason (Guy Farley/Keedie), dan Nostalgie (Cirque du Soleil) ditampilkan pada pertunjukan berdurasi satu jam itu.

Pendeknya, pertunjukan tersebut adalah sebuah potret kehidupan lengkap dengan aktualitas dan motif yang memadai untuk dirinya sendiri, tapi tidak berdaya dalam cengkeraman bayang-bayang gaib yang menguasai dan merenggutnya. Penyusup sejati adalah maut. Kebutaan seorang tokoh yang sadar adalah perlambang sebuah dunia yang lenyap tertelan belantara gelap ketidaktahuan dan pupusnya keyakinan.

Maut itu memang datang menyusup. Ia perlahan mencuri hal yang paling berharga dalam hidup: nyawa. Frase dalam drama, ”Mengapa kau tinggalkan aku, anak-anakku?” justru menemukan tegangan mistiknya dalam seruan, ”Bapa, Bapa, mengapa kau tinggalkan aku?”

Pementasan ditutup kesedihan yang diperdengarkan lewat Sajak Kematian karya penyair-rocker Amerika Jim Marrison dan menampilkan lukisan terkenal Michelangelo La Pieta versi perupa Diyanto. Lukisan yang menyayat hati. (*)

*) Pengamat teater dan pekerja media, tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *