Siapa Sebenarnya Kritikus Sastra Kita

Anton Suparyanto
http://www.kr.co.id/

MEMBACA opini pemilahan yang begitu ambisius antara kinerja kritikus dan pengamat seni (Arina, Minggu Pagi Minggu III September 2003), amat menarik. Bukankah wacana pikiran chaos akhir-akhir ini sudah acuh tentang batas kerja keilmuan?

Sebenarnya lingkup pengamat merupakan elemen sederhana dalam cakupan kritikus yang memiliki tataran ?membaca-memahami-mengurai-menilai?. Kaun akademisi bilang ?analisis-interpretasi-evaluasi?, dari asas ?formalistik-heuristik-hermeneutik?. Salah satu titiknya ?semiotik?. Continue reading “Siapa Sebenarnya Kritikus Sastra Kita”

Sirkus Kuda Tante Rosa

Karya: Sevgi Soysal (1936-1976)
Terjemah versi Inggris: Amy Spangler
Terjemah versi Indonesia: Anton Kurnia
korantempo.com

PADA umur sebelas, Tante Rosa membaca tulisan di bawah foto Ratu Victoria dalam majalah mingguan Kau dan Dirimu: “Ratu Victoria yang berumur 18 tahun menginspeksi Pasukan Kavaleri Kerajaan. Sekali lagi Yang Mulia berhasil menaklukkan hati pasukan kavaleri dan rakyat seluruh negeri.” Continue reading “Sirkus Kuda Tante Rosa”

Puisi-Puisi Bernard Batubara

http://www.korantempo.com/
MITOS TANGGA

kepada langit kau bertanya bagaimana caranya pergi ke sana tak ada angin mau membantu menerbangkan dirimu kau terlalu berat seperti serbuk sari yang enggan lepas dari inangnya tak hendak dilayangkan ke padang lain agar di sana tumbuh juga bunga-bunga tak ada awan mau meminjamkan dirinya sebagai sayap-sayap karena kau akan mengawan menumpahkan hujan saja dari hari ke hari kau tetap bertanya bagaimana caranya sampai di tempatmu duhai Langit Yang Maha Biru lalu Dia menyuruh angin berbaris berundak-undak dan awan mengisi setiap rongga di selanya dan kau melangkah menaikinya dengan ragu yang begitu… Continue reading “Puisi-Puisi Bernard Batubara”

POTRET GANDA NAYLA – DJENAR MAESA AYU

Maman S. Mahayana *

Djenar Maesa Ayu lewat dua antologi cerpennya, Mereka Bilang, Saya Monyet! (2003) dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004), tak pelak lagi, telah berhasil menjejerkan namanya dalam deretan penting sastrawati Indonesia. Ia juga mengambil posisi khas yang domainnya tak banyak dimasuki sastrawan Indonesia lainnya. Kini, ia meluncurkan novel pertamanya, Nayla (Gramedia Pustaka Utama, 2005, 178 halaman). Continue reading “POTRET GANDA NAYLA – DJENAR MAESA AYU”

Bahasa ยป