Pengajaran Sastra Masih “Diomprengkan”

Gunoto Saparie
http://www.suarakarya-online.com/

HARUS diakui, program pengajaran apresiasi sastra Indonesia yang dipadukan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia masih kurang menarik bagi para siswa. Penyebab kurang menariknya pelajaran apresiasi sastra Indonesia di antaranya cara guru mengajar yang tidak memotivasi siswa, kurang akrabnya siswa dengan karya sastra. Hal itu disebabkan kurang terbinanya pengajaran apresiasi sastra Indonesia dengan baik.

Ketidakberhasilan pengajaran apresiasi sastra Indonesia juga disebabkan belum ditetapkannya alokasi waktu, untuk pengajaran apresiasi sastra Indonesia sebagai mata ajar yang mandiri. Sampai kini sastra diajarkan sebagai sambilan dalam mengajarkan bahasa Indonesia. Dengan demikan, secara tidak langsung bentuk evaluasi pengajaran bahasa akan mempengaruhi bentuk evaluasi pengajaran sastra. Atau bisa jadi evaluasi pengajaran sastra ditumpangkan ke dalam evaluasi pengajaran bahasa.

Seperti dikatakan Boen S. Oemarjati, sastra “diomprengkan” pada pengajaran bahasa. Kalau dalam kehidupan sehari-hari pekerjaan omprengan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar daripada pekerjaan yang sesungguhnya, tidaklah demikian halnya dengan pengajaran yang dipraktikkan dengan cara mengompreng. Pengajaran merupakan kegiatan dan proses pembinaan dan pengembangan. Karena itu, jika dilaksanakan menurut sistem “omprengan”, maka proses tersebut mengalami distorsi.

Apa boleh buat memang kalau kedudukan sastra dalam kurikulum kita dinilai masih dipandang dengan sebelah mata. Pelajaran sastra belum mandiri, belum memiliki otonomi untuk mengatur dirinya sendiri. Ia masih nunut dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Padahal berdasarkan kenyataan di lapangan, tidak semua guru Bahasa Indonesia mampu menyajikan pengajaran apresiasi sastra dengan baik. Guru yang mahir mengajarkan bahasa belum tentu mampu tampil memikat saat mengajar sastra. Menyajikan puisi, misalnya, selain dituntut menguasai materi ajar, guru juga harus mampu memberikan contoh yang memikat dan sugestif di depan siswanya saat membaca puisi. Hal ini sulit dilakukan oleh guru bahasa yang kurang memiliki minat serius dan “talenta” yang cukup tentang sastra.

Dalam pembelajaran bahasa atau sastra pada khususnya, siswa bukan hanya dituntut untuk memahami teori-teori sastra tetapi siswa lebih dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengapresiasi karya sastra. Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran apresiasi sastra Indonesia ini, maka kehadiran buku-buku sastra mutlak harus dipenuhi, agar siswa memiliki kesempatan untuk berakrab dengan karya sastra. Mustahil pengajaran apresiasi sastra Indonesia itu akan berhasil sesuai harapan jika siswa tidak berhadapan langsung dengan karya sastra tersebut. Pengalaman membaca sastra merupakan penentu dalam mengapresiasi karya sastra.

Aminuddin menyatakan untuk mampu mengapresiasi karya sastra, seseorang itu harus mampu mengapresiasi karya sastra seseorang itu secara terus menerus menggauli karya sastra tersebut. Karena itu, penyediaan sarana (buku-buku/bahan ajar) mutlak harus dipenuhi suatu lembaga pendidikan terutama di perpustakaan.

Demikianlah, pada hakikatnya pembelajaran apresiasi sastra Indonesia ialah memperkenalkan kepada siswa nilai-nilai yang dikandung karya sastra dan mengajak siswa ikut menghayati pengalaman-pengalaman yang disajikan. Pembelajaran apresiasi sastra Indonesia bertujuan mengembangkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai indrawi, nilai akali, nilai afektif, nilai keagamaan, dan nilai sosial, secara sendiri-sendiri, atau gabungan keseluruhan, seperti yang tercermin di dalam karya sastra. Pada hakikatnya pengajaran sastra adalah menciptakan situasi siswa membaca dan merespon karya sastra serta membicarakan secara bersama dalam kelas.

Di dalam mengapresiasikan sastra kita mengenal nilai-nilai yang terdapat di dalam karya sastra. Dengan kegairahan dan empati akhirnya kita dapat merasakan kenikmatan. Supriyadi menyatakan, bahwa kenikmatan itu dapat timbul karena merasa berhasil dalam menerima pengalaman orang lain dan bertambah pengalaman sehingga dapat menghadapi kehidupan dengan lebih baik. Selain itu juga karena kekaguman akan kemampuan sastrawan dalam mengarahkan segala alat yang ada pada medium seninya sehingga berhasil memperjelas, memadukan, dan memberikan makna terhadap pengalaman yang diolahnya. Kenikmatan membaca karya sastra juga bisa diperoleh karena menikmati sesuatu demi sesuatu itu sendiri yaitu kenikmatan estetik.

Pengajaran mestilah direncanakan untuk melibatkan siswa dalam proses penampilan kebermaknaan. Untuk melaksanakan pembelajaran apresiasi sastra, guru harus membuat persiapan dengan penuh pertimbangan. Soemanto menegaskan, bahwa selain berguna sebagai atal kontrol, maka persiapan mengajar juga berguna sebagai pegangan bagi guru sendiri.

Persiapan untuk pembelajaran apresiasi sastra merupakan usaha mempersiapkan diri guru dan persiapan segala hal yang berhubungan dengan pembelajaran. Untuk itulah materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, buku sumber, sarana, evaluasi, haruslah dipersiapkan sebaiknya oleh guru sesuai dengan tuntutan tujuan dan keadaan siswa. Di samping itu, pembelajaran apresiasi sastra harus dipersiapkan untuk selama satu semester sehingga masalah waktu, buku sumber dapat ditanggulangi dan dipersiapkan secara matang. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra paling utama terletak pada guru sastra. Dalam pembelajaran apresiasi sastra, guru harus berusaha agar kegiatan belajar mengajar tetap hidup, menghindari kemonotonan, menimbulkan unsur kejutan, ketakjuban dan kesenangan dari karya sastra yang diajarkan.

Pengadaan buku sastra bagi siswa adalah amat penting sebagai buku sumber pengajaran sastra, tetapi yang selalu menjadi kendala dalam pengajaran sastra selama ini di sekolah adalah karena kurang tersedianya buku-buku sastra di perpustakaan sekolah. Sementara itu, guru juga kurang tahu bagaimana mendapatkan buku-buku sastra tersebut.

Ajip Rosidi menyatakan, bahwa selama ini yang menjadi persoalan ialah tidak semua sekolah memiliki perpustakaan, padahal penyediaan bahan bacaan yang praktis dan efisien adalah berupa perpustakaan. Karena itu, perlu kiranya usaha guru untuk menghimpun buku-buku sastra yang diperlukannya.

Kita tahu, pengajaran sastra di sekolah bertujuan agar siswa menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.

Selain itu, agar menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Termasuk juga agar siswa memperoleh pengetahuan tentang sastra dengan berbagai teori dan nama pengarang, judul, dan angkatan-angkatan.

Hal itu mengacu pada tujuan yang hendak dicapai pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mulai diberlakukan tahuan ajaran 2006/2007 dan yang pemberlakuannya didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 dan 23/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Ini berarti, sesungguhnya KTSP memberi peluang yang lebih leluasa bagi guru dan pihak sekolah untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya. Jika mencermati setiap muatan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam KTSP, maka segalanya memang baik-baik saja, sama halnya juga dengan Kurikulum 1994 dan Kurikulum Berbasis Kompentensi (KBK, 2004).

Memasukkan Muatan Lokal

Menurut Maman S. Mahayana, dalam KTSP segalanya seperti hendak “diserahkan” kepada guru dan sekolah masing-masing. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang menarik yang ditawarkan dalam KSTP, yaitu guru dan sekolah – terlepas dari campur tangan kepala dinas – diberi peluang untuk membuat silabus, kurikulum, dan indikator-indikatornya sendiri. Di sana tidak ada keharusan menggunakan kurikulum tertentu beserta sejumlah daftar bukunya yang juga tertentu. Dalam hal ini, prinsip fleksibilitas memberi keleluasaan bagi guru untuk menambah jumlah jam pelajaran per minggu sesuai kebutuhan. Di sana diizinkan pula memasukkan muatan lokal sebagai bahan pelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.

Dalam konteks pelajaran sastra, muatan lokal tentu saja bertebaran begitu banyak, mulai dengan memanfaatkan khazanah cerita rakyat, dongeng, seni pertunjukan, bahkan juga cerpen yang dimuat di koran-koran lokal pada setiap hari Minggu. Jadi, tidak ada alasan bagi guru untuk berkeluh-kesah menangisi tiadanya bahan pelajaran, lantaran KTSP memberi peluang bagi guru dan sekolah untuk mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan tuntutan sekolah atau daerahnya.

Lepasnya campur tangan kepala dinas atau birokrat pendidikan, di satu pihak memberi kebebasan bagi guru dan pihak sekolah mengembangkan diri dan memanfaatkan berbagai bahan yang sesuai dengan kebutuhan, dan di lain pihak, menuntut guru bekerja lebih keras untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri, termasuk persoalan yang menyangkut menajamen sekolah dan kegiatan rutin pembelajaran (bidang akademis). Jadi sangat mungkin dalam ihwal muatan lokal, setiap sekolah mengajarkan materi yang berbeda-beda. Tetapi di situlah KTSP mengakomodasi potensi daerah yang menyangkut kehidupan sosio-budaya serta kondisi peserta didiknya.

Persoalan yang mungkin bakal menjadi kendala bagi pelaksanaan KTSP adalah masih adanya penyelenggaraan Ujian Nasional (UN). Problem pelaksanaan kurikulum sesungguhnya juga lantaran adanya kecenderungan pengajaran yang berorientasi pada keberhasilan UN. Keberhasilan guru mengajar sering kali diukur oleh keberhasilan siswa lulus UN.

Akibatnya, UN dianggap sebagai satu-satu tolok ukur keberhasilan guru dan sekaligus juga sekolah. Tambahan lagi, soal-soal UN yang cenderung sebagai standar dan bersifat umum (nasional), tidak hanya menafikan keberadaan muatan lokal, tetapi juga mengandaikan semua sekolah di seluruh Indonesia mempunyai standar kompetensi yang relatif berada dalam tingkat yang tidak terlalu jauh berbeda. Di samping itu, mengingat UN bersifat nasional “massal”, maka soal-soal dipilih sedemikian rupa dengan menggunakan pola memilih. Soal-soal semacam ini tentu saja efektif untuk memudahkan koreksiannya.

Demikianlah, minat siswa terhadap pembelajaran apresiasi sastra akan tumbuh subur jika setiap sekolah memiliki guru yang mempunyai kemampuan mendorong dan membimbing yang disertai dengan kiat-kiat mengajar yang baik. Jika minat siswa membaca dan mengapresiasi karya sastra telah tumbuh, maka minat siswa belajar apresiasi sastra Indonesia dapat dimunculkan dengan baik pula.

*) Gunoto Saparie adalah penyair dan Bendahara Dewan Kesenian Jateng.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply