Perihal Telepon dan Pisau-Pisau

Gunawan Tri Atmodjo
http://suaramerdeka.com/

ROSS demikian kesal. Dia banting gagang telepon itu. Dahinya berkenyit. Apa yang sedang dibicarakan Bertha di seberang sana? Sudah berkali-kali ia pencet nomor sama, tetapi tetap hanya Veronica yang angkat bicara.

“Anda terhubung dengan mailbox nomor…tinggalkan pesan setelah bunyi…”

Sementara hatinya semakin tercekam risau. Badai kegelisahan memorak-porandakan ketenangan. Oh…betapa ia ingin sekali meredakan bencana ini. Dan Bertha adalah solusi yang melintas di kepala. Ya, ia harus berbicara dengan Bertha, ia harus mencurahkan isi hatinya. Ia harus menerjemahkan topan badai dalam relung jati dirinya menjadi cerita.

Ross sejak dahulu percaya bercerita adalah terapi paling sederhana untuk meredakan duka. Ia merasa dengan bercerita dirinya akan mampu melongsorkan masalah yang menghimpit kepala. Sebab manusia pada dasarnya adalah homoludens, makhluk bercerita. Ia harus membagi keresahan yang bersarang di urat nadi pada seseorang yang dipercayai. Dan orang itu adalah Bertha, sahabat karib yang selalu dengan setia mendengarkan keluh kesah, seorang pendengar yang baik dan tidak terlalu mendominasi pembicaraan. Tapi telepon Bertha hari ini senantiasa sibuk. Hal ini sungguh begitu menyiksa.

Rossa tersudut di kamarnya, matanya menerawang kosong, hanya rentetan peristiwa yang berduyun-duyun hadir berbaris di benaknya. Hingga pada akhirnya pandangan kosong itu membentur bingkai foto yang mematung dingin di meja riasnya. Itulah foto Albert, pacar tercintanya. Gambar dalam foto itulah muara dari segenap kegelisahan hatinya.

Albertlah yang menerbitkan badai dalam dirinya. Akhir-akhir ini ia rasakan Albert menunjukkan beberapa kelainan. Ia sama sekali tidak menunjukkan perhatian kepadanya. Albert tiba-tiba menjadi sosok yang asing dan begitu dingin. Ross merasa ditempatkan di ruang paling aneh jika berduaan dengan Albert. Ia merasa seperti hanya berduaan dengan embusan angin.

Tentu bukan hanya itu yang menggelisahkan. Ia tentu juga merindukan bibir Albert yang sering menghentakan letupan-letupan kecil di tubuh, tangan Albert yang nakal dan kriminal, serta pasti ia rindukan Albert yang senantiasa mengempaskan ke puncak surga kepuasan.

Ross mengerah lirih. Semua terasa kian berjarak. Kenangan-kenangan indah terasa menyusup di rimba tanpa nama. Ketidakjelasan menyelimuti semuanya. Berpuluh-puluh kali ia hubungi ponsel Albert, tapi ponsel itu langsung dimatikan begitu dering pertama dilahirkan. Ross merasa dikunci dan perlahan-lahan dijauhi. Penjelasan. Hanya itu yang kini diinginkan Ross.

Mata Ross berkunang-berkunang. Kepalanya pening. Ia harus segera menghubungi Bertha. Siapa tahu Bertha tahu penyebab perubahan dalam diri Albert, atau paling tidak Bertha mampu mengurangi penderitaanya saat ini. Dengan tergesa-gesa dan serampangan ia pungut gagang telepon yang jatuh. Ia ingin menelepon Bertha. Ia ingin bercerita. Ia sudah tidak kuat lagi.

Sekali lagi Ross membentur tembok, telepon Bertha sibuk. Veronica yang angkat bicara. “Anda terhubung dengan mailbox nomor… tinggalkan pesan setelah bunyi…”

“Keparat!!!”

Kekesalannya memuncak. Air mata dan keringat beradu di wajahnya. Ross lunglai, terjerembab di lantai. Pandangan matanya jatuh ke kolong ranjang. Temaram. Tapi Ross tahu ada sebilah pisau yang berdiam di keremangan itu.
***

ALBERT merasa kesal. Ia lemparkan ponsel itu ke ranjangnya yang empuk. Kata-kata yang tersusun rapi dalam ingatannya berangsur-angsur pudar, menguap entah ke mana. Kata-kata indah ia comot paksa dari beberapa puisi cinta, hasil jerih payahnya berhari-hari seperti tidak menemukan bentuk pengucapan.

Sebab telepon Bertha senantiasa sibuk. Kata-kata itu ia tangkap dan perlakukan sedemikian rupa hanya untuk Bertha seorang. Hari ini, Albert ingin mengakhiri segalanya, ia ingin menyatakan rasa cinta yang telah lama dipendamnya kepada Bertha sekaligus menamatkan permainan tidak menyenangkannya bersama Ross.

Betapa kepura-puraan itu begitu menyiksanya. Ia sama sekali tidak mencintai Ross. Ia menganggap percintaanya dengan Ross sebagai tragedi. Mengerikan, karena ia harus bercinta dengan wanita yang tidak mendetakkan debar sedikit pun di jantungnya.

Pun begitu jika harus bercinta dengan Ross, itu lebih pada prakarsa Ross sendiri. Pengakuan paling menyakitkan yang tak pernah terlintas di benak Ross, yang selama ini masih aman mendekam di kepura-puraannya adalah; jika ia sedang bercumbu dengan Ross, ia selalu berimajinasi bahwa tubuh dalam dekapannya itu adalah tubuh molek Bertha.

Tapi kini ia sudah lelah dengan semua itu. Ia ingin mengakhiri sandiwara ini. Albert menjadi muak pada dirinya sendiri. Muak pada kelakuannya selama ini. Dan ini pasti, ia muak kepada Ross.

Sebuah pertanyaan yang membulatkan rasa cintanya kepada Bertha, wanita yang membuatnya merasa hijrah ke surga ketika sedang berayun senyum untuknya. Dan sekali lagi hari ini ia ingin mengungkapkan isi hatinya, cinta lampau yang semakin membakar hatinya.

“Anda terhubung dengan mailbox nomor…tinggalkan pesan setelah bunyi…”

Kembali Veronica membuyarkan bayangan Bertha. Apa yang terjadi di ujung sana? Apa yang dilakukan Bertha? Apakah jaringan telepon rusak? Atau jangan-jangan Bertha tidak tepat meletakkan gagang teleponnya? Dan ribuan pertanyaan apakah…yang memungkinkan menghujam tajam di benak Albert. Mengapa menyatakan isi hati saja begitu sulit? Albert mulai jengah, langkahnya seperti pion catur, mondar-mandir berkeliling kamar. Otaknya terus mengembara bagaikan seorang tabib yang mencari penawar di luas samudera Sahara.

Sejenak kemudian kepalanya manggut-manggut. Tampaknya ia memang harus datang langsung ke rumah Bertha. Bertatap muka dan menyatakan cinta. Ia memutuskan berangkat ke sana. Tapi sebelumnya ia siapkan sebilah pisau di balik jaketnya, karena ia tahu Ross sering berada di rumah Bertha.

***

SEJAK napas subuh membuka pelupuk mata, Bertha langsung berlari menuju pesawat telepon. Ia pencet deretan angka yang sudah dihafal. Lalu sunyi…

Bertha tak sedikitpun menggerakkan bibir, tapi debar jantungnya sayup-sayup didengar butir-butir embun yang menggeliat di tulang-tulang daun. Angin mulai bergerak setelah beberapa saat istirahat untuk bertawadlu mendengarkan kumandang azan subuh. Suara pertama membuncah di langit jingga, pertanda hidup harus kembali diarak seperti sedia kala.

Dan Bertha pun telah memulai, dengan posisi tak berubah, ia mirip patung yang dipahat tangan-tangan suasana. Dalam hati ia bercakap riuh, menguliti kejadian-kejadian yang menguraikan cerita panjang kepadanya. Tapi jika hanya bercakap dalam hati, mengapa gagang telepon itu harus melekat di daun telinga? Hanya udara dingin yang meniupkan pertanyaan ini ke gendang telinga tembok bisu.

“Jadi siapa lelaki itu? Kata-katanya begitu menyayat tapi aku rindu…”

Bertha bersuara. Suaranya sarat akan emosi. Lalu seperempat lingkaran jam dilalui batang jarum pendek dengan sunyi.

Dulu hal semacam ini tidak mungkin terjadi, berlama-lama dengan telepon adalah mustahil. Orang tua Bertha pasti akan marah-marah mulai dari masalah etika sampai pada membengkaknya pulsa. Tapi kini Bertha sebatang kara, tanpa saudara. Hanya Bertha yang dapat memperingati dirinya sendiri. Dulu Bertha sangat membenci peringatan mereka, tapi kini entah mengapa ia sering merindukan dan senantiasa menggema di ceruk kesadaran.

Ekor pupil Bertha melirik pada kotak kayu besar berpintu kaca kesayanganya yang diapit oleh foto mendiang kedua orang tuanya. Dalam almari itu tersimpan berbagai bentuk pisau peninggalan almarhum ayah. Selarik kenangan menghujam benak, ia tidak mengerti sebabnya mengapa semasa hidup ayahnya gemar sekali mengoleksi pisau. Ia pun sempat bergidik ngeri ketika kali pertama membuka pintu almari dan menyaksikan langsung pisau-pisau itu tanpa dibatasi dinding kaca, apalagi ketika kali pertama melihat ayahnya sedang membersihkan koleksi pisaunya dari rautan debu dan karat ringan. Ia gelar seluruh pisau di atas selembar papan, pantulan cahaya matahari yang menyeruak masuk menerobos lewat genteng kaca mengenai pisau-pisau yang tegeletak membuat pisau-pisau itu menyeringai bercahaya di hadapan Bertha. Ada aura kematian, potongan-potongan adegan saling tusuk menghempas kelam dalam lubuk ketakutannya. Anehnya tak satu pun dari jiwa-jiwa pisau itu terpancar aurora feminis.

Dalam guratan ingatan Bertha, ayahnya seolah mengerti akan ketakutan anaknya. Dengan sabar ia mengikis sedikit demi sedikit ketakutan anak kesayanganya itu. Seiring dengan perlahannya waktu, ayahnya memperkenalkan satu persatu pisau-pisau itu kepada Bertha. Pisau-pisau itu seolah sudah berbicara kepada Bertha tentang kadar ketajaman, variasi sudut serta tebal tipisnya dan bagaimana mulut pisau itu menerangkan secara halus bagaimana bahan dasar pembentuknya serta menjelaskan panjang lebar sejarah pisau-pisau itu, juga menjelaskan bahwa bentuk dan ukuran setiap pisau yang berbeda memiliki fungsi yang berlainan pula. Dengan penuh emosi kasih sayang, ayahnya meminta Bertha untuk meraba tekstur pisau-pisau itu, merasakan getaran dan mencoba menyatu denganya. Seolah seperti menerawang dalam ingatan masa silam, ayahnya pernah berkata kepada Bertha tentang hal prinsip yang musti dicamkan dan diingat baik-baik dalam hamparan luas ingatannya; Apapun yang kau perbuat, jika berkaitan dengan pisau berarti kau berurusan dengan bahaya Dan sekalipun jika pisau itu berukuran kecil tetapi kau mampu menggunakannya maka ia tidak kalah mematikan dibanding klewang atau pedang sekalipun. Ketika mengatakan ini tidak ada nada main-main sekalipun dalam suara lantang ayahnya, semuanya begitu tegas, membekas, dan sampai sekarangpun masih terngiang jelas dalam telinganya.

Lambat laun Bertha menjadi gemar bahkan manaruh hati pada pisau-pisau itu. Ayahnya pun dengan cepat membaca gelagat ini, anehnya ia membiarkan saja Bertha menyentuh koleksi kesayanganya itu walau tanpa selidik pengawasan. Padahal sebelumnya tak seorangpun ia izinkan menyentuh pisau-pisau itu, semuanya hanya boleh mengagumi dari luar almari. Yang lebih mengagetkan lagi ia malah memberi kepercayaan kepada Bertha untuk merawat dan membersihkan pisau-pisau itu ketika ia sedang tidak berada di rumah. Tidak jarang mereka berdua bersama-sama membersihkan. Suatu ritual yang aneh jika disaksikan oleh orang lain, bahkan oleh ibu Bertha sendiri.

Sekalipun ketika peristiwa paling tajam menggores dan merongga buih kehidupannya, tak jua juga menggoyahkan rasa cinta Bertha pada pisau-pisau itu. Ada dua bilah pisau yang hilang dari koleksinya, sampai sekarang pun ia masih merasa kehilangan, kedua bilah pisau itu menjadi tokoh utama dalam tragedi kelam hidupnya. Pisau pertama adalah pisau yang digunakan oleh ayahnya untuk menggorok leher ibunya sendiri. Bertha tidak mengerti untuk alasan apa ayahnya melakukan perbuatan ini. Ia masih begitu belia untuk memahami tindakan brutal ayahnya. Sampai kini pisau itu tidak ia ketahui keberadaanya. Ayahnya telah membuang dan polisi tak berhasil menemukannya sebagai barang bukti. Akan tetapi Bertha yakin ayahnya tidak membuang pisau itu, melainkan menyimpan di tempat aman.

Pisau kedua adalah yang digunakan ayahnya mengerat pergelangan tangan sendiri -ayahnya mati bunuh diri di penjara. Bertha sendirilah yang diam-diam menyusupkan pisau itu ke balik jeruji besi atas permintaan ayahnya. Pisau itu kini berada di kantor polisi dan Bertha tidak berniat untuk mengambil. Bertha ingat pesan terakhir mendiang ayahnya; Jangan kau campurkan pisau yang telah melukai dengan pisau yang belum mengenal luka karena ia akan menularkan kekejaman pada lainnya, darah akan selalu membuat pisau-pisau lapar -biarkanlah ia terpisah atau pergi. Jikapun tiba saatnya tak usah kaucari, ia akan datang menjemput takdirmu sendiri.

Seluruh kenangan berhamburan keluar menembus bunyi ruang-ruang kosong nan sunyi, sebelum seluruh konsentrasi Bertha kembali tercurah pada telepon yang menempel di telinganya.

“Kapan ia akan datang lagi? mengajariku bercinta dengan pisau, menciptakan benih-benih kecil lalu meledakkannya. Sungguh aku ketagihan membenamkan satu persatu pisau ke ceruk-ceruk tubuhku.”

Matahari begitu teratur meniti jalurnya, dari ujung timur dan berpangkal di barat. Mengapa tak sekalipun ia coba jalur utara-selatan? mungkin ada Taman Firdaus baru disana? atau mungkin ada sedikit kejutan yang membuat segala sesuatunya sedikit berbeda. Semua pertanyaan ini tak ada di benak Bertha sebab Bertha sudah tidak lagi mempedulikan waktu, ia hanya ingin seharian ini mendekap telepon dan meletakkannya di bibir sisi kanannya. Sampai malam kembali menggumuli tubuhnya.

“Jika ia datang malam ini, katakan padanya pintu almariku tidak dikunci. Pisau-pisau telah siaga dan aku akan bertelanjang polos semalaman, begadang -hanya menunggu kekasihku datang.”

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Bertha, menutup telepon sekaligus menutup hari ini. Bertha berbalik untuk melucuti semua pakaiannya di ruang tamu lalu masuk dalam kamar, tapi siapa lawan bicaranya seharian ini? siapa seseorang di seberang sana?

Bertha tak ambil pusing, ia hanya ingin bermimpi tentang pangeran yang mahir menggunakan pisau. Tapi Bertha juga tak mengira setelah ini ia akan berurusan dengan pisau, ketika Ross bergerak cepat menusuk dan mengebiri Albert dengan pisau yang diberikan ayah Bertha -sesaat setelah membunuh ibu Bertha- tepat di beranda rumahnya.

Solo, Maret 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *