Puisi-Puisi Imron Tohari

Cakra

tibatiba aku yang tenggelam di mata sedihku tertawa
dengan nafas masih detak
urat nadi belum putus
kupahami kehidupan mempunyai jalan hidupnya sendiri

biar saat itu mata dibenturkan dengan beriburibu kedukaan
yang bahkan hutan-hutan api melingkar, berkobar
dengan lidah api siap membakar setiap jengkal langkah
tak kuijinkan ketakutan memuja nasib
sebab saat kutanya
nasib itu sendiri pecah tak tahu masa depannya

dan jikalau kini aku dibekap sunyi
kan kukepakkan bulu-bulu sayap
yang aku sulam dari bulu mata kekasih
hingga langit dan malaikat terus bertasbih
memohon pada Khalikul alam
menyematkan mahkota dari untaian doa-doa sulaiman
menjadikan kecantikan balqis telimpuh
di altar Cinta

nasib adalah esok

2009

Perburuan di Nyala Lilin

Aku bukan matahari yang melaut cahaya
Kalau inginku mengurai rasa
Padamu. Segala
Degup jantung ini

Ah, engkau kekasih

Tingkapan mata
berebut kecup
berebut tawa
juga pendar lilin yang diam-diam seringai

Tidakkah kau dengar?

Di surga lonceng berdentang dengan
airmata mengurai beriburibu lalu
waktuwaktu mengambil, memendekkan
seberapa sayapsayap bisa berkepak
di rentang jarak
masamasa

21 Juni 2010

Golak

puncak laku itu diawali dari
panas bumi yang menyembur
di ranah kemaluan dan
kesejatian alam manusia
yang terletak di pusar

adalah tiga hitungan telapak tangan
dari pusar sampai kepala—segala
tiada ke ada kembali ke tiada

rahayu apa kemalangan?

20 Juni 2010

Bila Aku Bercerita Tentang Sosok Ayah

pernah aku berfikir kenapa
di matanya matahari merurut peluh
juga asa yang berkhalwat
—di rahim ibu

lalu satu satu uban di rambutnya bercerita
tentang lelaki yang merelakan dirinya menjadi kuda-kudaan
dan senyumnya itu tangan serupa midas
mengubah tangismu dengan bersandar doa
—sepenuh mestika

18 Juni 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *